10 Oktober 2009

Perajam

Oleh : Goenawan Mohamad

INI sebuah cerita yang telah lama beredar, sebuah kisah yang termasyhur dalam Injil, yang dimulai di sebuah pagi di pelataran Baitullah, ketika Yesus duduk mengajar.

Orang-orang mendengarkan. Tiba-tiba guru Taurat dan orang Farisi datang. Mereka membawa seorang perempuan yang langsung mereka paksa berdiri di tengah orang banyak.

Perempuan itu tertangkap basah berzina, kata mereka. ”Hukum Taurat Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu,” kata para pemimpin Yahudi itu pula. Mereka tampak mengetahui hukum itu, tapi toh mereka bertanya: ”Apa yang harus kami lakukan?”

Bagi Yohanes, yang mencatat kejadian ini, guru Taurat dan orang Farisi itu memang berniat ”menjebak” Yesus. Mereka ingin agar sosok yang mereka panggil ”Guru” itu (mungkin dengan cemooh?) mengucapkan sesuatu yang salah.

Saya seorang muslim, bukan penafsir Injil. Saya hanya mengira-ngira latar belakang kejadian ini: para pakar Taurat dan kaum Farisi agaknya curiga, Yesus telah mengajarkan sikap beragama yang keliru. Diduga bahwa ia tak mempedulikan hukum yang tercantum di Kitab Suci; bukankah ia berani melanggar larangan bekerja di ladang di hari Sabbath? Mungkin telah mereka dengar, bagi Yesus iman tak bisa diatur pakar hukum. Beriman adalah menghayati hidup yang terus-menerus diciptakan Tuhan dan dirawat dengan cinta-kasih.

Tapi bagi para pemimpin Yahudi itu sikap meremehkan hukum Taurat tak bisa dibiarkan. Terutama di mata kaum Farisi yang, di antara kelompok penganut Yudaisme lain, paling gigih ingin memurnikan hidup sehari-hari dengan menjaga konsistensi akidah.

Maka pagi itu mereka ingin ”menjebak” Yesus.

Tapi Yesus tak menjawab. Ia hanya membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jari-jarinya di tanah. Dan ketika ”pemimpin Yahudi itu terus-menerus bertanya,” demikian menurut Yohanes, Yesus pun berdiri. Ia berkata, ”Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.

Suasana mendadak senyap. Tak ada yang bertindak. Tak seorang pun siap melemparkan batu, memulai rajam itu. Bahkan ”satu demi satu orang-orang itu pergi, didahului oleh yang tertua.” Akhirnya di sana tinggal Yesus dan perempuan yang dituduh pezina itu, kepada siapa ia berkata: ”Aku pun tak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Tak ada rajam. Tak ada hukuman. Kejadian pagi itu kemudian jadi tauladan: menghukum habis-habisan seorang pendosa tak akan mengubah apa-apa; sebaliknya empati, uluran hati, dan pengampunan adalah laku yang transformatif.

Tapi bagi saya yang lebih menarik adalah momen ketika Yesus membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jarinya ke atas tanah. Apa yang digoreskannya?

Tak ada yang tahu. Saya hanya mengkhayalkan: itu sebuah isyarat. Jika dengan jarinya Yesus menuliskan sejumlah huruf pada pasir, ia hendak menunjukkan bahwa pada tiap konstruksi harfiah niscaya ada elemen yang tak menetap. Kata-kata—juga dalam hukum Taurat—tak pernah lepas dari bumi, meskipun bukan dibentuk oleh bumi. Kata-kata disusun oleh tubuh (”jari-jari”), meskipun bukan perpanjangan tubuh. Pasir itu akan diinjak para pejalan: di atas permukaan bumi, memang akan selalu melintas makna, tapi ada yang niscaya berubah atau hilang dari makna itu.

Di pelataran Bait itu, Yesus memang tampak tak menampik ketentuan Taurat. Ia tak meniadakan sanksi rajam itu. Tapi secara radikal ia ubah hukum jadi sebuah unsur dalam pengalaman, jadi satu bagian dari hidup orang per orang di sebuah saat di sebuah tempat. Hukum tak lagi dituliskan untuk siapa saja, di mana saja, kapan saja. Ketika Yesus berbicara ”barangsiapa di antara kamu yang tak berdosa”, hukum serta-merta bersentuhan dengan ”siapa”, bukan ”apa”—dengan jiwa, hasrat, ingatan tiap orang yang hadir di pelataran Bait di pagi itu.

Para calon perajam itu bukan lagi mesin pendukung akidah. Mendadak mereka melihat diri masing-masing. Aku sendiri tak sepenuhnya cocok dengan hukum Allah. Aku sebuah situasi kompleks yang terbentuk oleh perkalian yang simpang-siur. Kemarin apa saja yang kulakukan? Nanti apa pula?

Dan di saat itu juga, si tertuduh bukan lagi hanya satu eksemplar dari ”perempuan-perempuan yang demikian”. Ia satu sosok, wajah, dan riwayat yang singular, tak terbandingkan—dan sebab itu tak terumuskan. Ia kisah yang kemarin tak ada, besok tak terulang, dan kini tak sepenuhnya kumengerti. Siapa gerangan namanya, kenapa ia sampai didakwa?

Perempuan itu, juga tiap orang yang hadir di pelataran itu, adalah nasib yang datang entah dari mana dan entah akan ke mana. Chairil Anwar benar: ”Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

Dalam esainya tentang kejadian di pelataran Baitullah itu, RenĂ© Girard—yang menganggap mimesis begitu penting dalam hidup manusia—menunjukkan satu adegan yang menarik: setelah terhenyak mendengar kata-kata Yesus itu, ”satu demi satu orang-orang itu pergi….” Pada saat itulah, dorongan mimesis—hasrat manusia menirukan yang dilakukan dan diperoleh orang lain—berhenti sebagai faktor yang menguasai perilaku. Dari kancah orang ramai itu muncul individu, orang seorang. ”Teks Injil itu,” kata Girard, ”dapat dibaca hampir secara alegoris tentang munculnya ke-person-an yang sejati dari gerombolan yang primordial.”

Tapi kepada siapakah sebenarnya agama berbicara: kepada tiap person dalam kesunyian masing-masing? Atau kepada ”gerombolan”? Saya tak tahu. Di pelataran itu Yesus membungkuk, membisu, hanya mengguratkan jarinya. Ketika ia berdiri, ia berkata ke arah orang banyak. Tapi sepotong kalimat itu tak berteriak.

~Majalah Tempo Senin, 28 September 2009~

27 Agustus 2009

Doa Kang Suto

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corakhidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini? Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus
diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, "Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh."

Para "Unyil" ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, "Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia."

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa
menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, 'ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

"Ain, Pak Suto," kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

"Ngain," kata Kang Suto.

"Ya kaga bisa nyang begini mah," pikir ustad.

Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

"Al-kham-du ...," tuntun guru barunya.

"Al-kam-ndu ...," Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, "Salah."

"Alkhamdulillah ...," panjang sekalian, pikir gurunya itu.

"Lha kam ndu lilah ...," Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

Kang Suto takut. "Mau belajar malah cari dosa," gerutunya.

Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

"Begini Kang," akhirnya saya menjawab. "Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu."

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. "Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya."

"Sira guru nyong," (kau guruku) katanya, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, "Arokmanirokim," (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

"Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas ..."

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi ...

---------------
Mohammad Sobary, Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991

25 Agustus 2009

Mimpi Setiap Orang

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Dalam waktu tak lebih dari dua malam, manusia di bulatan bumi ini seluruhnya menjadi gempar. Mereka kaget, takjub dan dibikin tidak mengerti oleh satu hal yang sama. Maka ributlah bumi, di bagian mana saja, yang di pusat atau yang di pelosok, oleh pergunjingan satu topic yang sama.

Ini jelas untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah dengan penuh gairah mengenyam dan mencatat kejutan ini di atas tinta mutiara. Segala mulut dan segala mass media sibuk mencari kata-kata dan kalimat yang tepat, yang artistik dan spektakuler untuk mengabadikannya. Sebenarnya pada mulanya hanya terjadi di sebuah kampung. Bahkan di sebuah pojok yang menjadi bagian kecil dari kampung. Seseorang, laki-laki tua, pagi-pagi buta berkata kepada istrinya:

"Hebat! Semalam aku bermimpi sensasionil. Entah bagaimana bentuk kisahnya yang Jelas. Tapi yang kuingat, Tuhan mulai hari ini menutup rapat-rapat pintu-Nya."

"He?" istrinya terbelalak, "Aku juga bermimpi demikian. Aku melihat mendadak di langit muncul makhluk aneh yang amat besar, membawa terompet yang juga amat besar ukurannya mengumandangkan suara ke segala penjuru bahwa Tuhan telah menutup pintu-Nya!”

Belum selesai keheranan sang suami. muncul menantunya dan menceritakan pengalaman yang sama. Belum sempat lagi menguraikan apa yang sesungguhnya terjadi, datang tetangga, bertanya apa bisa masuk nalar mimpinya semalam bahwa Tuhan menutup pintu. Maka kemudian menjalarlah keheranan demi keheranan. Ketakjuban demi ketakjuban. Meskipun dengan cerita mimpi yang berbeda-beda, tetapi kesimpulannya semua sama, Beberapa saat kemudian di seluruh kampung orang dipersatukan oleh rasa takjub yang sama. Dan seterusnya. tanpa terasa seluruh daerah, seluruh kota, seluruh negara, seluruh benua dan seluruh dunia, diikat oleh pergunjingan tetangga tentang masalah yang sama. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua malam. Bahkan bisa dikatakan sehari semalam, yakni sepanjang matahari beredar mengelilingi bumi, ketika semua manusia di seluruh bulatan bumi punya satu kali kesempatan untuk bangun pagi. Hanya saja hal tersebut menjadi kesadaran internasional, ditempuh dalam waktu dua hari dua malam. Maklumlah peradaban ummat manusia sudah demikian maju. Jaringan komunikasi sudah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga mampu mengedari bumi dan mengikat kesadaran bersama hanya dalam waktu yang teramat singkat.

Pada detik-detik berikutnya kesibukan rasa takjub itu mulai meningkat ke proses yang lebih jauh dan dalam. Segala topik yang semula menggunjing dunia, umpamanya soal perang yang tak kunjung selesai atau peristiwa olah raga internasional, terhapus secara mendadak oleh kejutan ini. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin, kata setiap orang. Sejak dari rakyat paling kecil, bodoh dan buta huruf, sampai pada pemimpin-pemimpin negara atau pemuka agama, tidak ada satu pun yang absen memperbincangkannya, menguraikannnya, menilainya, mengira-ngira, menyimpulkan atau setidaknya menawarkan kemungkinan. Ada yang menggunakan cara berpikir yang ilmiah, ada yang lugu, ada yang menangkapnya secara mistis, serta ada juga yang menggabungkan antara kepercayaan yang diperolehnya dari agama dengan tuduhan-tuduhan vang dahsyat terhadap dosa-dosa manusia selama sekian abad di dunia. Tetapi yang jelas tidak ada seorang pun berani acuh atau meremehkannya. Ia menjadi masalah semua etnis dan tingkat manusia. Sejak kuli di pelabuhan, babu Cina, pencari puntung, pedagang kaki lima, guru sekolah, pemain teater, pengkhothah, sampal pegawai negeri dan gerilyawan-gerilyawan di hutan-hutan. Masalah ini segera menumbuhkan berbagai macam reaksi, di samping reaksi pikiran, yang terlebih lagi ialah reaksi perasaan. Umumnya manusia dihinggapi rasa panik, cemas, minimal khawatir.

"Ini peringatan bagi keserakahan manusia selama ini" kata seorang pemeluk agama yang patuh.

“Tanda mau kiamat” ujar lainnya.

"Tuhan tak sudi lagi mengundurkan hukuman sampai hari akhir kelak di neraka, tapi menunjukkan menunjukkan kekuasaannya sekarang”.

Semua bernada sama. Rupanya tidak perduli seseorang punya ideologis, posisi sosial atau jabatan apa, semuanya langsung tertusuk kemanusiaannya oleh kejadian dramatis ini. Ada yang sekaligus menyalahkan para pengkhianat, orang-orang murtad, penjahat-penjahat, para pelacur yang menjual tubuhnya maupun keyakinannya, kaum munafik, penindas rakyat, penjilat, pengingkar sembahyang, orang-orang yang tidak setia pada tanggung jawabnya serta mereka yang mengeksploatir kedudukan untuk memenuhi nafsu keduniaannya. Ada juga yang langsung mengarahkan tudingannya ke para pemimpin dunia, yang dianggap penentu dari segala keadaan dan akibat-akibatnya dalam kehidupan seluruh dunia. Ada yang menyalahkan negara-negara penjajah, ambisius dan imperialism Ada yang menyalahkan para pemegang sumber arah kebudayaan, menyalahkan kebijaksanaannya yang ternyata menyesatkan hidup dan menumbuhkan ketidak-seimbangan-ketidak-seimbangan. Tetapi dari kesemuanya, bisa ditarik garis besar yang sama. ialah nada pertobatan, rasa dosa dan kesadaran untuk menyesali masa silam yang penuh noda.

Hanya negara-negara yang rakyatnya selama ini mengaku tidak ber-Tuhan saja yang bereaksi minir. Mula-mula mereka menuduh sementara negara raksasa di dunialah yang membikin kejadian ini, dengan cara menciptakan komputer yang bisa mensugesti situasi kejiwaan ummat manusia seluruh dunia, untuk merasakan dan mengalami wujud mimpi yang sama. Mereka mengatakan, negara raksasa itu punya maksud ideologis-politis yang bertujuan mempengaruhi alam jiwa rakyat yang tak ber-Tuhan. Disimpulkannya bahwa tindakan tersebut sesungguhnya merupakan serangan perang. Dan hampir saja tuduhan ini menyebabkan tak ber-Tuhan itu memutuskan untuk menyelenggarakan serangan balasan. Namun akhirnya rencana itu dipertimbangkan kembali setelah dilihatnya gejala universal yang terjadi pada segala macam jenis manusia di muka bumi. Bahkan akhirnya serangan tersebut dibatalkan sama sekali ketika muncul rencana lain yang bersifat internasional.

Rencana ini merupakan langkah raksasa berikutnya dari sejarah ummat manusia, sehingga serangan negara tak ber-Tuhan itu sungguh-sungguh kehilangan alasan untuk untuk benar-benar dilaksanakan.

Dipelopori oleh pemimpin-pemimpin dari negara tertuduh itu, para pemuka seluruh negara yang ada di muka bumi, bersidang bersama. Suasana prihatin dan wajah-wajah pucat penuh penyesalan dan rasa cemas, memenuhi ruang sidang tersebut. Agaknnya hantaman kejadian itu sedemikian perkasa dan mendalam di hati jiwa semua manusia, sehingga sidang itu berlangsung tidak terlalu lama, tetapi berhasil menelorkan keputusan yang sungguh-sungguh merupakan kejutan.

Diputuskanlah oleh sidang internasional itu: ummat manusia seluruh dunia mengutus minimal sepuluh wakil untuk menghadap ke istana Tuhan. Perutusan ini bertugas untuk menanyakan kepada Tuhan apakah benar beliau telah menutup pintunya bagi manusia. Jika beliau berkenan meninjau kembali keputusannya ini, maka seluruh ummat manusia bersedia bersujud sebulan siang malam penuh dengan maksud memohon ampunan, kemudian bersumpah hendak memperbaiki segala segi kehidupan di muka bumi. Negara-negara bersedia menghentikan perang. Semua negara di dunia bersahabat sehidup semati dan selalu mempertimbangkan kepentingan dan keseimbangan kehidupan seluruh penduduk dunia secara merata. Tidak ada lagi yang memonopoli. Tidak ada lagi raksasa dunia sementara ada juga negara teri dunia. Akan diusahakan pemerataan kekayaan sehingga sungguh-sungguh bisa dicapai keseimbangan taraf hidup antara seluruh rakyat bumi yang ada. Negara-negara dunia berjanji akan senantiasa memohon petunjuk Tuhan di dalam menciptakan tatanantatanan internasional, baik dalam segi politik, perekonomian, sosial maupun budaya. Tidak ada lagi penjajah, imperialism zionis, monopoli, penindas atau penipu. Kehidupan dunia diatur paling utama oleh kesadaran internasional, sehingga tidak ada lagi pertentangan antara kepentingan-kepentingan yang lebih kecil dari kesatuan dunia. Kadar kecintaan antarmanusia ditingkatkan sampai taraf yang setinggi-tingginya dan memadai, agar dunia tidak bingung lagi memilih antara sistem liberalis atau disiplin pemerataan teknis. Pada pokoknya segala peri kehidupan ummat manusia dijamin dilaksanakan sebaik-baiknya, dengan mempertimbangkan secara seksama dan adil antara kepentingan individu dan kepentingan bersama.

Seluruh manusia di dunia mengutus kesepuluh delegasi tersebut dengan membawa borg semacam itu. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa mereka ternyata memiliki kesadaran akan masa depan. Mereka memperhitungkan, jika manusia tidak memberi janji semacam itu tak akan butuh waktu lama Tuhan pasti menurunkan keajaiban yang baru. Sedang keajaiban mimpi saja sudah memberi akibat internasional sedemikian rupa. Coba bayangkan kalau kejutan itu berupa bencana-bencana. Umpamanya hujan deras turun sebulan penuh di seluruh muka bumi, muncul di mana-mana hama-hama ganas, tanah longsor atau gunung-gunung meletus. Bahkan yang lebih ajaib lagi. Tuhan gampang saja melakukan semua. Apalagi jika Beliau telah murka.

Sesungguhnya keputusan ini sama sekali tidak masuk akalnya dengan kejutan mimpi itu sendiri. Selama ini semua manusia yakin bahwa Tuhan tak mungkin bisa ditemui. Maksudnya manusia tak mungkin mampu memandang beliau. Nabi Musa saja pingsan. Apalagi kyai atau pendeta zaman sekarang. Dan diantara kesepuluh perutusan itu paling banyak memang terdiri atas para kyai, pendeta dan biksu. Mereka dianggap paling punya relasi terdekat dengan Tuhan.

Tak banyak cingcong. Pada hari kesebelas dari peristiwa mimpi itu, perutusan diberangkatkan. Maksudnya, diterbangkan. Yakni dari pusat penerbangan sebuah negara raksasa, dengan menggunakan pesawat Bouraq. Tentu saja ini bukan bouraq asli yang dulu dicarter oleh Nabi Muhammad ke sidratul muntaha bermikraj. Melainkan bouraq imitasi. Apa boleh buat. Apa yang dibikin manusia memang serba imitasi. Iman mereka pun imitasi. Habis bagaimana mungkin menciptakan bouraq asli.

Hari itupun sibuklah. Jutaan manusia berduyur-duyun mendatangi pusat penerbangan yang ditentukan. Rakyat di daerah sekeliling tempat tersebut tak seorang pun yang tak hadir. Sedang rakyat dari negara-negara lain, paling tidak mengutus wakil-wakilnya.

Kesepuluh utusan telah muncul di depan khalayak. Berpakaian antariksawan. Sebenarnya agak kaku dan geli juga seorang kyai atau biksu memakai pakaian semacam itu. Tetapi suasana tak memberi kesempatan mereka untuk tersenyum saja pun. Wajah upacara pemberangkatan itu demikian sendu, pucat dan sarat kecemasan. Airmuka para utusan, terutama, digenangi tangis. Mereka dibebani tugas yang luhur dari sekian milyard penduduk dunia. Mereka diharapkan mampu melancarkan taktik diplomasi yang jitu terhadap Tuhan, demi nasib seluruh ummat manusia. Kesepuluh orang itu gemetar. Hati mereka menggigil dan air mata mereka tak habis-habisnya mengalir. Demikian juga krew yang mengelola pemberangkatan itu, maupun rakyat yang berjejai-jejal. Hujan tangis. Hujan tangis.

"Wahai rakyat dunia yang tercinta!" berkata seorang pemimpin dunia. la berdiri di mimbar yang mengatasi seluruh hadirin. Matanya berkaca-kaca. Pakaiannya begitu lusuh. la tak sempat mengurusnya karena konsentrasinya yang penuh dalam memikirkan nasib ummat manusia.

"Utusan ummat manusia seluruh dunia akan segera berangkat ke istana Tuhan. Marilah kita antarkan mereka dengan air mata (dan doa, sebab itulah yang pertama-tama diajukan kepada Tuhan, untuk mengawali segala permohonan tulus umat manusia. Marilah berdoa agar beliau merasa terharu dan tersentuh hatinya melihat nasib seluruh umat manusia”.

Seluruh hadirin menundukkan kepala. Untuk kesekian kalinya mereka menangis. Kemudian mereka saling berangkulan dengan gemetar dan penuh keharuan.

Pesawat Bouraq pun akhirnya meluncur. Seluruh hadirin bagai hendak memekik hatinya. Tapi mereka hanya berkaca-kaca memandang kepul asap yang menjadi bayangan ekor perutusan mereka. Kemudian, tetap dalam suasana sendu dan penuh tangis. Mereka berduyun-duyun meninggalkan pusat penerbangan. Setiap orang menundukkan kepala.

Sesampainya di rumah pun mereka tidak banyak berbicara. Di seluruh muka bumi, umumnya orang tidak banyak melakukan pekerjaan. Mereka lebih banyak diam, merenung dan sebanyak mungkin menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan. Kehidupan bisa dikatakan macet, kecuali kegiatan makan, minum, berak dan tidur. Radio-radio dan TV sedikit sekali mengudara. Sesekali muncul hanya mempertunjukkan acara-acara ketuhanan. Pengajian Al-Qur'an atau lagu-lagu gereja. Koran-koran hanya memuat tulisan rohaniah, ulasan situasi yang lebih merupakan penyesalan dan doa mohon ampun kepada Tuhan. Kantor-kantor negara atau perusahaan tetap buka, tetapi dipenuhi oleh aktivitas yang nanggung. Antara sedikit kerja, keragu-raguan dan perenungan kembali. Setiap sendi kehidupan, jaringan masyarakat, pos-pos usaha dan seterusnva, pada umumnva bersikap menunggu. Bahkan ada yang tutup sama sekali. Sebab semua memperhitungkan, dalam waktu seminggu utusan mereka sudah akan kembali dan membawa kabar dari Tuhan. Kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari memang agak sedikit terbengkalai oleh macetnya pos-pos kehidupan masyarakat. Tetapi pada umumnya mereka bersedia agak berlapar-lapar sedikit, serta rela untuk tidak menggunakan fasilitas dan kesempatan seperti biasanya. Pengorbanan itu mereka persembahkan kepada Tuhan.

Akan tetapi setelah waktu berlangsung seminggu, kecemasan baru mulai timbul. Utusan belum juga datang. Ditunggu lagi sehari, dua hari, dan akhirnya sampai seminggu, sebulan kemudian tiga bulan. ini celaka. Kehidupan tidak bisa lagi menunggu. Kemacetan penghidupan rakyat bisa-bisa tak terkuasai lagi. Sirkulasi antara bidang-bidang usaha dan bidang-bidang pemakaian tak bisa terus-menerus diistirahatkan. Segala sistem yang tersedia musti aktif kembali agar kehidupan penduduk dunia bisa dipelihara. Namun demikian akibat-akibat dari kemandegan sementara itu sudah amat luas terasa. Kesejahteraan mulai jauh berkurang. Mekanisme tersebut sendat. Fasilitas-fasilitas sudah jauh berkurang. Kemacetan-kemacetan dan keterbengkalaian-keterbengkalaian berlangsung di mana-mana. Rakyat dunia bingung.

Akhirnya dua hal muncul. Pertama, dunia berpikir untuk mengirimkan utusan lagi ke istana Tuhan. Dan kedua, mobilisasi kembali segala mekanisme kehidupan dan penghidupan di dunia seperti waktu-waktu sebelum terjadi peristiwa ini. Sebabnya jelas, manusia tak bisa tak makan. Dunia tak bisa tak hidup.

Utusan kedua akhirnva diberangkatkan Juga. Di antaranya oleh kesenduan yang sama seperti yang pertama, ditambah kebingungan baru. Rakyat dunia kini terjepit. Antara keharusan untuk tetap bisa makan dan hidup, dengan tidak bisa dielakkannya pembikinan dosa-dosa baru. Memang secara langsung. individu-individu manusia tetap tak berani melakukan kejahatan-kejahatan atau segala pekerjaan yang mengindikasikan dosa dan murka Tuhan. Tetapi celakanya, banyak sekali sistem dan sarana pengelolaan hidup manusia secara keseluruhan yang mengandung dosa-dosa, kini tidak bisa tidak harus diaktifkan kembali. Misainya sistem perekonomian, sistem sosial dan lain sebagainya. Yang lebih konkrit umpamanya sarana seperti nite klub atau lokalisasi penjualan daging wanita, ini memang sarang dosa, tetapi tak lain adalah juga lapangan pekerjaan di mana hidup sekian banyak orang ditentukan. Secara keseluruhan sarana semacam ini tak mungkin dihapuskan untuk tidak menjadi arena pembunuhan nyawa manusia. Kemudian masih banyak lagi hal-hal semacam itu. Satu contoh lagi saja, misalnya sistem politik dengan jaringan birokrasinya. Selama ini ia menjadi penyebab dosa-dosa. Sekarang tak mungkin merombaknya hanya dalam waktu sebulan dua bulan sekadar untuk menghindarkan mereka dari kemungkinan dosa. Sebab pada awal perombakannya saja jelas pelaku atau pejabat-pejabat yang duduk di situ sudah akan terlantar dan bisa-bisa mati.

Maka dunia dilanda kegoncangan. Ketika waktu demi waktu makin berjalan, ketika utusan kedua tak juga kembali dan utusan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya yang dikirim tak kunjung balik, maka mekanisme kehidupan dunia benar-benar telah kembali sebagaimana semula. Negara-negara kuat, demi kelangsungan kepentingan politik-ekonomisnya, kembali menjalankan proyek-proyeknya semula. Umpamanya penguasaan tiranis maupun samar atas negara lain. Penjajahan-penjajahan kembali berlangsung. Penyelewengan dan penipuan tak bisa dihindarkan. Dan seterusnya. Bahkan sekarang lebih kacau balau lagi. Karena utusan demi utusan yang dikirim ke Tuhan tidak lain terdiri atas orang-orang, terpenting didunia.

Sudah sewajarnya kalau akhirnya dunia kehabisan orang-orang terkemukanya, Kehabisan orang-orang baik. Kehabisan orang-orang pintar. Kehabisan tenaga-tenaga yang mampu memegang kehidupan dunia. Akhirnya segalanya tidak bisa dipertahankan lagi. Kejahatan rnakin kasar dan brutal. Penindasan makin blak-blakan. Kekuatan fisik kembali menentukan kekuasaan. Peperangan demi peperangan tak bisa dibendung. Tidak saja antara negara, tetapi juga antara tetangga. Peri kehidupan manusia primitif kini kembali terulang.

Akan tetapi, alkisah, ternyata para utusan yang itu punya kisah tersendiri. Utusan yang pertama sebenarnya sudah sampai ke depan pintu gerbang istana Tuhan, tetapi pintunya dalam keadaan tertutup. Mereka ketuk pintu itu berkali-kali, tapi tak satu malaikat pun muncul membukakannya. Para kyai dan pendeta dan biksu itu kebingungan. Mereka bertugas untuk melakukan diplomasi dengan Tuhan. Jika tidak berhasil melakukannya, mereka tentu saja tak berani kembali. Akhirnya, setelah melewati musyawarah dan perdebatan yang panjang lebar, tak berhasil mereka temukan keputusan apa-apa. Jadi rnereka tertegun saja berbulan-bulan lamanya di depan pintu itu. Sampai akhirnya datang utusan kedua. ketiga, keernpat dan seterusnya. Semuanya tertegun. Semuanya berdiam diri di depan pintu.

Salah seorang anggota perutusan terakhir, melaporkan kepada rekan-rekannya: "Kehidupan di bumi kita makin rusak. Tak mungkin dikendalikan lagi. Apalagi diperbaiki."

Semua menunduk.

"Apakah Tuhan benar-benar telah menutup pintu?"**** (emha, 70-an)