OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

31 Oktober 2008

Kata Paling Banyak Dicari

Kata “sex” adalah kata paling banyak dicari di internet. Sampai saat ini diperkirakan terdapat 372 juta halaman website pornografi. Setiap hari diperkirakan 266 situs porno baru bermunculan. Bisnis situs porno menjadi bisnis yang dilirik bahkan oleh situs-situs sebesar Yahoo! Group sekalipun. Bagaimana dengan sepak terjang bisnis situs porno di Indonesia?

Dunia pebisnis Internet baru-baru ini dikejutkan oleh angka penjualan sebuah domain yang spektakuler. Angka itu menunjukkan rekor penjualan domain termahal dipecahkan situs Sex.com, yang terjual di harga Rp. 105 miliar! Angka itu mengalahkan Bussiness.com yang terjual di harga US$ 7,5 juta di tahun 1999 lalu.

Sementara itu situs Porn.com dikabarkan terjual di harga Rp. 83,83 miliar, atau termasuk sebagai salah satu domain termahal sepanjang sejarah internet. Angka-angka fantastis itu menunjukkan bisnis situs porno kian menggiurkan.

Seperti yang dilaporkan GoodMagazine, sebanyak 12% situs di dunia mengandung pornografi. Materi pornografi yang dicari melalui search engine mencapai 25%,dan 35% data yang di-download dari Internet adalah pornografi. Setiap detiknya, sekitar 28.258 pengguna Internet melihat pornografi, dan US$ 89.00 dihabiskan untuk pornografi di internet per detik.

Majalah online itu juga melaporkan 70% traffic pornografi Internet terjadi pada hari kerja jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Sementara negara-negara yang melarang pornografi diantaranya adalah Saudi Arabia, Iran, Mesir, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kenya, India, Kuba, Cina, Singapura, Malaysia dan Indonesia.

Meski belum seheboh Amerika, orang Indonesia mengenal situs-situs yang spesifik diluncurkan dari dalam negeri. Sebut saja seperti Exoticazza.com, Nonamaniez. com, Modelbugil.com, Lalatx. com, Indoamateurs.com, Ayamkampung.com, Indonesianbeauties.com, l7tahun.com, Videokita.net dan seterusnya. Berbeda dengan Playboy yang "kasat mata”, bisnis situs porno Indonesia nyaris tak tersentuh amuk massa yang anti-pornografi.

Apa saja yang ditawarkan situs porno Indonesia? Jika Anda mencoba membuka salah satu dari situs yang telah disebutkan tadi, Anda akan segera melihat tampilan cewek-cewek asli Indonesia. lnilah objek yang ditawarkan situs-situs porno buatan Indonesia. Anda bisa melihat kembali foto ganti baju Femmy Permatasari dan Shanty, foto bercinta di toilet, cewek-cewek berpakaian seragam SMU membuka kancing bajunya, video bercinta di kos-kosan dan sejumlah ciri khas "Indonesiana" lainnya. Sebuah situs semacam youtube-nya porno Indonesia baru-baru ini menyuguhkan close-up bagian dalam rok Wulan Guritno ketika tampil di acara Empat Mata.

Tampilan yang beragam dan amat lokal itu menunjukkan para kreator situs porno Indonesia berusaha menampung selera pasar lokal. "Situs asing bisa saja menyuguhkan cewek-cewek bule berbagai pose, tapi orang kita lebih suka lihat cewek lokal telanjang," tutur Gatot, seorang kreator situs porno via wawancara email.

Para kreator situs porno Indonesia nampak belum terlalu berani pasang badan. Sebagian besar kontak yang berusaha dijalin selalu dialihkan melalui komunikasi virtual atau melalui handphone. Siapakah orang-orang di balik bisnis tak bertuan ini?

Terdaftar di USA, Transfer ke BCA

Hasil pengamatan ME, para kreator situs ini memang didominasi laki-laki. Kalaupun ada wanita yang terlibat, biasanya dia hanya berperan sebagai sidekick, yang lebih bertugas untuk berhubungan dengan model-model atau make up selama pemotretan berIangsung. Seorang kreator mengatakan bahwa pelaku bisnis seperti ini memang harus pandai-pandai menyembunyikan identitas. Karena jika tidak, bukan tidak mungkin mereka akan berurusan dengan pihak berwajib, walaupun rambu-rambunya masih belum jelas di Indonesia. Meski begitu, menurut salah seorang kreator lainnya, bisnis seperti ini sebenarnya cukup aman dijalankan asal si pembuat hapal betul celah untuk bersembunyi.

Seperti yang diungkapkan Mr.G, seorang kreator Exoticazza.com yang juga pemilik Nonamaniez.com (dan Morenonamaniez.com), bisnis situs porno itu relatif aman."Kita mendaftar di server luar negeri, paling mudah di USA, dan sebisa mungkin tidak mencantumkan alamat," ujar pria setengah baya ini. G merupakan salah satu pemain lama dalam bisnis situs porno di Indonesia. Ia telah memulai bisnis ini sejak 1997 ketika belum banyak orang terjun ke dalamnya. Mulanya ia hanya mengaku iseng (ia pertamakali membuat Indonesiamateur.com) dan tidak terbayang bisa meraih cukup keuntungan. Namun, lambat laun ia mulai serius menggarap aspek bisnis dari hobi pribadinya itu.

Dibanding kreator situs porno lainnya, G termasuk yang serius. Jika situs porno lain cenderung memasukkan foto 'asal porno' dari berbagai sumber yang tak jelas, maka G memilih jalur kreatif. Excoticazza misalnya, selalu menampilkan model-model muda dalam sentuhan fotografi yang tidak bisa dibilang amatiran. Ia bahkan mengaku menyeleksi terlebih dahulu model-modelnya sebelum akhirnya lolos ke halaman web-nya."Tidak semua lolos seleksi, ada juga yang cantik tapi perutnya berlipat, atau ada bekas luka di perutnya. Yang seperti itu terpaksa tidak saya loloskan," ujar pria yang suka fotografi ini.

Seperti kebanyakan situs porno serius lainnya di Indonesia, G menjalankan "perusahaan gelapnya" ini secara sembunyi-sembunyi. Sebelum meng-casting model-modelnya, sekitar 5 orang anak buahnya bekerja mencari perempuan yang mau difoto telanjang dan setengah-telanjang. Kelima kru ini beredar di beberapa kota terpisah. Setelah terkumpul, model-model hasil buruan itu dipertemukan di sebuah lokasi yang tidak disebutkan. Kemungkinan besar di sebuah rumah yang tak jelas siapa pemiliknya. Disini model-model itu "diseleksi" dengan foto-foto yang digarap secara semi-profesional.

Mereka yang lolos akan dicatat untuk sesi pemotretan selanjutnya. Pemotretan tahap kedua ini digarap secara lebih matang dan biasanya mengambil latar di sebuah hotel atau rumah mewah. Dari latar foto-foto dimana model itu berpose dapat diketahui bahwa bisnis seperti ini memerlukan modal yang cukup besar. Beberapa latar menunjukkan set yang lux untuk sebuah pemotretan situs porno garapan orang lokal.

Ketika ditanya berapa modal yang harus disiapkan untuk bisnis ini, G hanya menjawab,"Ya lumayanlah. Untuk model casting saja saya harus membayar beberapa ratus ribu, sementara untuk model final saya membayar beberapa juta," ujarnya.

Dalam sebulan, G meng-up date situsnya dua minggu sekali. Jadi, untuk tiga situs yang dimilikinya, G harus menyiapkan sedikitnya 6 model per bulan. Itu belum dihitung berapa model casting yang tidak lolos seleksi yang harus dia bayar. Dengan modal yang tidak sedikit seperti itu, berapakah pendapatan yang mereka terima?

Menurut pengakuan Dedi, seorang kreator lainnya, penghasilan dari bisnis ini sebenarnya tidak banyak. Sejauh ini, menurutnya ia hanya mampu menjaring 150-an anggota saja. Mereka membayar sekitar Rp 150 ribu sebulan, atau ada pula yang mengambil paket tiga bulan di harga Rp 450 ribu.

"Kalau nggak kuat modal, lebih baik nggak usah saja. Apalagi kalau memang dari awal kurang hobi, lebih baik lupakan saja," ujar Dedi tanpa memperjelas apa yang dimaksudkan dengan "hobi"

Bisnis situs porno di Indonesia memang mengalami penurunan sejak awal 2000-an. Mulanya pengakses situs porno mengenal ratusan nama domain yang kini tereduksi dengan sendirinya sampai hanya mencapai puluhan saja. Sebagian besar situs porno yang tidak beroperasi lagi itu banyak terbentur soal biaya. Mereka kurang bisa membedakan hobi personal (memfoto cewek-cewek bugil) dengan kelihaian seorang pedagang.

"Dulu bisnis saya ini habis-habisan gara-gara praktek carding. Sekarang, terpaksa saya lepas sistem pembayaran melalui credit card, sehingga bisa lebih terkontrol," ujar Effendi, orang yang sering meng-upload film-film porno lokal di situsnya. Menurutnya, bisnis situs porno Indonesia sempat babak belur oleh adanya praktek carding yang membobolkan sistem pembayaran mereka. Kini mayoritas situs yang masih berdiri cenderung memampang nomer rekening BCA sebagai pola pembayaran.

"Memang jadi mempersulit orang yang ingin bergabung menjadi anggota. Karena tidak semua orang punya kartu BCA. Tapi ini jauh lebih terkontrol dibanding penggunaan kartu kredit," lanjut Effendi. Meski mencantumkan nomer rekening BCA, tetap saja itu bukan berarti mereka bisa lebih mudah dilacak. Seperti yang diakui G, nomer rekening dan nama yang tertera pada nomer rekening itu sudah dirancang sedemikian rupa agar dirinya tidak terlacak."Maklumlah, mas. Di Indonesia ini kan urusan KTP bisa diatur,"tuturnya.

Selain carding, bisnis situs porno bajakan juga sempat mengganggu lahan mereka. Situs porno bajakan adalah situs yang hanya mencuri foto atau video dari situs lain, dan meng-upload-nya pada situs mereka sendiri. Situs seperti ini umumnya gratisan, namun lambat laun akan terkikis dengan sendirinya lantaran lahan iklan yang tak subur. Sementara itu, ada pula beberapa situs porno bajakan yang mendulang untung. Diantaranya adalah Duniasex.com yang dalam sebuah riset dinyatakan sebagai situs porno terlaris di Indonesia.

Keberadaan situs bajakan ini membingungkan bagi kreator situs porno non-bajakan. Sebab, mereka berada pada kondisi dilematis antara pengganggu dan penggemar."Bisa saja foto-foto kita dikunci agar tidak bisa di-download seenaknya.Tapi di satu sisi anggota akan mengeluh karena tidak bisa men-download foto itu," ujar G. Kini ia mengaku membiarkan saja ulah para pembajak itu sejauh kuantitasnya masih dalam batas toleransi. Ia juga mengaku sempat berkomunikasi dengan situs-situs pembajak lainnya agar tidak membajak karya-karyanya.

Berbeda dengan situs-situs porno yang serius menggarap "karya-karya" mereka, situs porno bajakan cenderung menjadi alternatif yang lebih murah. Mereka hanya perlu meregistrasi situsnya (sekitar US$40 per bulan), dan membajak foto-video yang berserakan di luar untuk ditayangkan di situsnya. Umumnya mereka tidak membuka keanggotaan alias gratis sehingga mereka sangat bergantung pada iklan. Beberapa yang tak lihai mencari iklan akan gulung tikar sebelun setahun beroperasi.

Sementara yang berhasil menarik iklan akan langgeng dan lebih menguntungkan ketimbang situs non-bajakan. Sejauh ini, belum ada undang-undang yang bisa menjaring praktek ilegal para pebisnis situs porno. Mereka meregistrasi situsnya di Amerika Serikat, dan tidak mencantumkan alamat yang jelas di Indonesia.

Secara hukum, dapat dikatakan mereka beroperasi di wilayah abu-abu, dimana tangan-tangan hukum masih sulit untuk menggaruk mereka."Saya sempat juga bicara dengan teman saya seorang ahli di bidang hukum. Dia bilang, selagi undang-undangnya belum jelas, kami memang belum bisa memperkarakan bisnis Anda," tutup G.
Sumber: ME

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar