OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

26 Desember 2009

Selamat Tahun baru


Oleh: A. Mustofa Bisri

Kawan, Sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan
Sebelum kita dihisabNya (A. Mustofa Bisri, Antologi Puisi Tadarus)


Tahun ini, tahun baru Hijriyah hampir bersamaan dengan tahun baru Masehi. Biasanya tahun baru Masehi disambut dengan hiruk-pikuk luar biasa. Sementara tahun baru Hijriyah yang sering diidentikkan dengan tahun Islam, tidak demikian. Tidak ada trek-trekan sepeda motor di jalanan. Tidak ada terompet. Tidak ada panggung-panggung hiburan di alon-alon.

Yang ada di sementara mesjid, kaum muslimin berkumpul berjamaah salat Asar –meski biasanya tidak—lalu bersama-sama berdoa akhir tahun; memohon agar dosa-dosa di tahun yang hendak ditinggalkan diampuni oleh Allah dan amal-amal diterima olehNya. Kemudian menunggu salat Maghrib –biasanya tidak—dan salat berjamaah lalu bersama-sama berdoa awal tahun. Memohon kepada Allah agar di tahun baru dibantu melawan setan dan antek-anteknya, ditolong menundukkan hawa nafsu, dan dimudahkan untuk melakukan amal-amal yang lebih mendekatkan kepada Allah.

Memang agak aneh, paling tidak menurut saya, jika tahun baru disambut dengan kegembiraan. Bukankah tahun baru berarti bertambahnya umur? Kecuali apabila selama ini umur memang digunakan dengan baik dan efisien. Kita tahu umur digunakan secara baik dan efisien atau tidak, tentu saja bila kita selalu melakukan muhasabah atau efaluasi. Minimal setahun sekali. Apabila tidak, insyaallah kita hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah; atau bahkan lebih buruk dari yang sudah. Padahal ada dawuh: “Barangsiapa yang hari-harinya sama, dialah orang yang merugi; barangsiapa yang hari ini-nya lebih buruk dari kemarin-nya, celakalah orang itu.”

Apabila kita amati kehidupan kaum muslimin di negeri kita ini sampai dengan penghujung tahun 1428, boleh jadi kita bingung mengatakannya. Apakah kehidupan kaum muslimin --yang merupakan mayoritas ini-- selama ini menggembirakan atau menyedihkan. Soalnya dari satu sisi, kehidupan keberagamaan terlihat begitu hebat di negeri ini.
Kitab suci al-Quran tidak hanya dibaca di mesjid, di mushalla, atau di rumah-rumah pada saat senggang, tapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ. Bahkan pada bulan Ramadan diteriakan oleh pengerassuara-pengerassuara tanpa pandang waktu. Lafal-lafalnya ditulis indah-indah dalam lukisan kaligrafi. Malah dibuatkan museum agar mereka yang sempat dapat melihat berbagai versi kitab suci itu dari yang produk kuno hingga yang modern; dari yang berbentuk mini hingga raksasa. Akan halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga sesekali dijadikan bahan khotbah dan ceramah para ustadz. Didiskusikan di seminar-seminar dan halqah-halqah. Bahkan sering dicuplik oleh beberapa politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai..

Secara ‘ritual’ kehidupan beragama di negeri ini memang dahsyat. Lihatlah. Hampir tidak ada tempat ibadah yang jelek dan tak megah. Dan orang masih terus membangun dan membangun mesjid-mesjid secara gila-gilaan. Bahkan di Jakarta ada yang membangun mesjid berkubah emas. (Saya tidak tahu apa niat mereka yang sesungguhnya membangun rumah-rumah Tuhan sedemikian megah. Tentu bukan untuk menakut-nakuti hamba-hamba Tuhan yang miskin di sekitas rumah-rumah Tuhan itu. Tapi bila Anda bertanya kepada mereka, insya Allah mereka akan menjawab, “Agar dibangunkan Allah istana di surga kelak”. Mungkin dalam pikiran mereka, semakin indah dan besar mesjid yang dibangun, akan semakin besar dan indah istana mereka di surga kelak.
(Terus terang bila teringat fungsi mesjid dan kenyataan sepinya kebanyakan mesjid-mesjid itu dari jamaah yang salat bersama dan beri’tikaf, timbul su’uzhzhan saya: jangan-jangan mereka bermaksud menyogok Tuhan agar kelakuan mereka tidak dihisab).

Tidak ada musalla, apalagi mesjid, yang tidak memiliki pengeras suara yang dipasang menghadap ke 4 penjuru mata angin untuk melantunkan tidak hanya adzan. Bahkan ada yang sengaja membangun menara dengan beaya jutaan hanya untuk memasang corong-corong pengeras suara. Adzan pun yang semula mempunyai fungsi memberitahukan datangnya waktu salat, sudah berubah fungsi menjadi keharusan ‘syiar’ sebagai manifestasi fastabiqul khairaat; sehingga sering merepotkan mereka yang ingin melaksanakan anjuran Rasulullah SAW: untuk menyahuti adzan.

Jamaah dzikir, istighatsah, mujahadah, dan muhasabah menjamur di desa-desa dan kota-kota. Terutama di bulan Ramadan, tv-tv penuh dengan tayangan program-program ’keagamaan’. Artis-artis berbaur dan bersaing dengan para ustadz memberikan ‘siraman ruhani’ dan dzikir bersama yang menghibur.

Jumlah orang yang naik haji setiap tahun meningkat, hingga di samping ketetapan quota, Departemen Agama perlu mengeluarkan peraturan pembatasan. Setiap hari orang berumroh menyaingi mereka yang berpiknik ke negara-negara lain.

Jilbab dan sorban yang dulu ditertawakan, kini menjadi pakaian yang membanggakan. Kalimat thoyyibah, seperti Allahu Akbar dan Subhanallah tidak hanya diwirid-bisikkan di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla, tapi juga diteriak-gemakan di jalan-jalan.

Label-label Islam tidak hanya terpasang di papan-papan sekolahan dan rumah sakit; tidak hanya di AD/ART-AD/ART organisasi sosial dan politik; tidak hanya di kaca-kaca mobil dan kaos-kaos oblong; tapi juga di lagu-lagu pop dan puisi-puisi.

Pemerintah Pancasila juga dengan serius ikut aktif mengatur pelaksanaan haji, penentuan awal Ramadan dan ‘Ied. MUI-nya mengeluarkan label halal (mengapa tidak label haram yang jumlahnya lebih sedikit?) demi menyelamatkan perut kaum muslimin dari kemasukan makanan haram.
Pejuang-pejuang Islam dengan semangat jihad fii sabiilillah mengawasi dan kalau perlu menindak –atas nama amar ma’ruuf dan nahi ‘anil munkar-- mereka yang dianggap melakukan kemungkaran dan melanggar peraturan Tuhan. Tidak cukup dengan fatwa-fatwa MUI, daerah-daerah terutama yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun berlomba-lomba membuat perda syareat.

Semangat keagamaan dan kegiatan keberagamaan kaum muslimin di negeri ini memang luar biasa. Begitu luar biasanya hingga daratan, lautan, dan udara di negeri ini seolah-olah hanya milik kaum muslimin. Takbir menggema dimana-mana, siang dan malam. Meski namanya negara Pancasila dengan penduduk majmuk, berbagai agama diakui, namun banyak kaum muslimin –terutama di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam— seperti merasa paling memiliki negara ini.

Barangkali karena itulah, banyak yang menyebut bangsa negeri ini sebagai bangsa religius.

Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis dalam kehidupan bangsa yang religius ini. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan yang sudah disinggung tadi, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah benda-benda asing yang tak begitu dikenal.

Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur kesepian dan rendah diri.
Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin agung Muhammad SAW dan para shahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.

Disiplin yang dididikkan agama seperti azan pada waktunya, salat pada watunya, haji pada waktunya, dsb. tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.

Plakat-plakat bertuliskan “An-nazhaafatu minal iimaan” dengan terjemahan jelas “Kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.

Kesungguhan yang diajarkan Quran dan dicontohkan Nabi tak mampu mempengaruhi tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.
Di atas, korupsi merajalela (Bahkan mantan presiden 32 tahun negeri ini dikabarkan menyandang gelar pencuri harta rakyat terbesar di dunia). Sementara di bawah, maling dan copet merebak.

Jumlah orang miskin dan pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.

Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini. Cukuplah satu berita ini: KPK baru-baru ini menangkap Koordinator Bidang Pengawasan Kehormatan Keluhuran Martabat dan Perilaku Hakim Komisi Yudisial saat menerima suap.

Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar. Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya..

Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama, bahkan sesama anggota organisasi keagamaan yang satu, setiap hari tidak hanya berbeda pendapat, tapi bertikai. Seolah-olah kebenaran hanya milik masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah perbedaan.

Kekerasan dan kebencian, bahkan keganasan, seolah-olah menantang missi Rasulullah SAW: rahmatan lil ‘aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan tatmiimu makaarimil akhlaaq, menyempurnakan akhlak yang mulia.

Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.

Waba’du; jangan-jangan selama ini –meski kita selalu menyanyikan ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”—hanya badan saja yang kita bangun. Jiwa kita lupakan. Daging saja yang kita gemukkan, ruh kita biarkan merana. Sehingga sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Lalu, bila benar, ini sampai kapan? Bukankah tahun baru ini momentum paling baik untuk melakukan perubahan?

Selamat Tahun Baru !

-----

31 Desember 2008
source: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2

20 Desember 2009

Joko dan Agama Barunya

Beberapa minggu yang lalu, seorang sahabat tiba-tiba berbisik kepadaku. “Eh, tau nggak…?? Kabar si Joko?” bisiknya padaku sambil matanya melirik kesana kemari, sepertinya dia takut apa yang dibicarakan itu didengar orang lain.

“Ada apa dengan Joko?”

“sssttt…!!!, jangan keras-keras…” dia meperingatkanku.

“Ada apa sih, rahasia banget ya?” aku juga mulai ketularan berbisik.

“Joko sekarang udah pindah agama….!!! Keluar dari Islam…!!” Sahabat saya itu berkata sambil mencibirkan bibirnya, seakan ada aura kebencian atau mungkin juga hanya sekedar kekecewaan.

“Oh ya…??” Aku pura-pura kaget, sebenarnya aku tidak senang untuk membahas masalah seperti ini, apalagi pake acara berbisik-bisik.

Kemudian sahabat saya itu terus bercerita, mencoba menjelaskan ‘kasus’ itu sedetail-detailnya kepadaku. Dan masih dengan nada bicara yang penuh kejengkelan.

Aku mencoba sesegara mungkin mengakhiri rasan-rasan itu.

---

Saya bukannya tidak setuju atas ‘kejengkelan’ sahabat saya terhadap Joko itu, saaya merasa itu wajar. Namun sangat tidak wajar jika sampai harus mengarah ke ranah kebencian, apalagi sampai memutuskan hubungan silaturahmi dan komunikasi.

Harusnya, yang patut di-jengkel-i itu bukan Joko, tapi diri kita sendiri. Saya. Ya, saya merasa sedih dan bersalah karena tidak mampu (sempat) memberikan saran kepada saudara saya itu saat akan mengambil keputusan untuk pindah jalur keimanan.

Dan meskipun saat itu saya sempat memberikan saran, kemudian dia masih dengan keputusannya itu, saya wajib untuk siap menerima itu dengan lapang hati. Pedoman saya : Tidak ada paksaan dalam agama’. Keputusan untuk di rel mana dia harus beriman adalah hak prerogratif dia, tidak ada satupun makhluk dibumi ini berhak untuk memaksa-maksa.

Agama di dalam diri seseorang berada di sebuah wilayah yang tak terjamah oleh orang lain. Pihak lain tak akan pernah sanggup untuk cawe-cawe.

Dari pada kita ‘sakiti’ diri kita sendiri dengan rasa kebencian kepada orang yang berpindah keimanan. Mending kita menyediakan ruang didalam diri kita sendiri, bahwa bisa jadi kita yang salah.

-----

Pada akhir tahun 2001, saya disodori sebuah buku kecil (semacam fotocopy sebuah tulisan yang dijilid secara sederhana) oleh sahabat saya. Dan isinya tentang Ahmadiyah. Respon saya waktu itu cuma bisa bilang “Hati-hati ya…” kemudian mengembalikan buku itu.

Beberapa tahun kemudian saya baru tahu kalau sahabat saya itu sudah masuk Ahmadiyah. Saya kecewa, itu jelas. Namun saya tidak serta merta ‘menggoblok-goblokan’ sahabat saya itu. Saya merasa kecewa, harusnya saya tidak sekedar bilang “Hati-hati ya…”.

Bagi diri saya, berdasarkan keimanan saya, menurut padangan ajaran yang saya ketahui, Ahmadiyah itu salah. Namun, tidak sedikitpun saya mempunyai hak untuk membenci pemeluk ajaran tersebut. Kalau bagi saya ajaran mereka sesat, saya yakin mereka juga memandang ajaran saya ini juga sesat (bagi mereka). Jadi, apa bedanya? Kalau karena perbedaan itu kita selipkan bibit permusuhan, saya teramat yakin, sampai kapanpun kita akan berkelahi, gelut.

Ajarannya yang kita anggap sesat, namun manusianya tetap kita anggap manusia dan wajib kita manusiakan.

----

Saya punya dua sahabat, mereka beda keyakinan namun berpacaran. Yang cewek seiman dengan saya. Suatu waktu, sahabat saya yang cewek itu bilang sama saya “Bagaimana kalau kita Islamkan dia (pacarnya)?”. Saya hanya tersenyum mendengar ajakan itu.

“Saya ini untuk meng-Islam-kan diri saya sendiri aja belum bisa, lha koq coba-coba meng-Islam-kan orang lain” jawabku sekenanya. “Maaf, saya tidak bisa ikut serta dalam agenda muliamu itu”

----

Bagi Joko dan sahabat-sahabat saya yang akan merayakan Natal. Selamat bersukacita, semoga kita bisa berdamai dalam pelukan-pelukan kemanusiaan.

Tembagapura, 17 Desember 2009

10 Oktober 2009

Perajam

Oleh : Goenawan Mohamad

INI sebuah cerita yang telah lama beredar, sebuah kisah yang termasyhur dalam Injil, yang dimulai di sebuah pagi di pelataran Baitullah, ketika Yesus duduk mengajar.

Orang-orang mendengarkan. Tiba-tiba guru Taurat dan orang Farisi datang. Mereka membawa seorang perempuan yang langsung mereka paksa berdiri di tengah orang banyak.

Perempuan itu tertangkap basah berzina, kata mereka. ”Hukum Taurat Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu,” kata para pemimpin Yahudi itu pula. Mereka tampak mengetahui hukum itu, tapi toh mereka bertanya: ”Apa yang harus kami lakukan?”

Bagi Yohanes, yang mencatat kejadian ini, guru Taurat dan orang Farisi itu memang berniat ”menjebak” Yesus. Mereka ingin agar sosok yang mereka panggil ”Guru” itu (mungkin dengan cemooh?) mengucapkan sesuatu yang salah.

Saya seorang muslim, bukan penafsir Injil. Saya hanya mengira-ngira latar belakang kejadian ini: para pakar Taurat dan kaum Farisi agaknya curiga, Yesus telah mengajarkan sikap beragama yang keliru. Diduga bahwa ia tak mempedulikan hukum yang tercantum di Kitab Suci; bukankah ia berani melanggar larangan bekerja di ladang di hari Sabbath? Mungkin telah mereka dengar, bagi Yesus iman tak bisa diatur pakar hukum. Beriman adalah menghayati hidup yang terus-menerus diciptakan Tuhan dan dirawat dengan cinta-kasih.

Tapi bagi para pemimpin Yahudi itu sikap meremehkan hukum Taurat tak bisa dibiarkan. Terutama di mata kaum Farisi yang, di antara kelompok penganut Yudaisme lain, paling gigih ingin memurnikan hidup sehari-hari dengan menjaga konsistensi akidah.

Maka pagi itu mereka ingin ”menjebak” Yesus.

Tapi Yesus tak menjawab. Ia hanya membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jari-jarinya di tanah. Dan ketika ”pemimpin Yahudi itu terus-menerus bertanya,” demikian menurut Yohanes, Yesus pun berdiri. Ia berkata, ”Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.

Suasana mendadak senyap. Tak ada yang bertindak. Tak seorang pun siap melemparkan batu, memulai rajam itu. Bahkan ”satu demi satu orang-orang itu pergi, didahului oleh yang tertua.” Akhirnya di sana tinggal Yesus dan perempuan yang dituduh pezina itu, kepada siapa ia berkata: ”Aku pun tak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Tak ada rajam. Tak ada hukuman. Kejadian pagi itu kemudian jadi tauladan: menghukum habis-habisan seorang pendosa tak akan mengubah apa-apa; sebaliknya empati, uluran hati, dan pengampunan adalah laku yang transformatif.

Tapi bagi saya yang lebih menarik adalah momen ketika Yesus membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jarinya ke atas tanah. Apa yang digoreskannya?

Tak ada yang tahu. Saya hanya mengkhayalkan: itu sebuah isyarat. Jika dengan jarinya Yesus menuliskan sejumlah huruf pada pasir, ia hendak menunjukkan bahwa pada tiap konstruksi harfiah niscaya ada elemen yang tak menetap. Kata-kata—juga dalam hukum Taurat—tak pernah lepas dari bumi, meskipun bukan dibentuk oleh bumi. Kata-kata disusun oleh tubuh (”jari-jari”), meskipun bukan perpanjangan tubuh. Pasir itu akan diinjak para pejalan: di atas permukaan bumi, memang akan selalu melintas makna, tapi ada yang niscaya berubah atau hilang dari makna itu.

Di pelataran Bait itu, Yesus memang tampak tak menampik ketentuan Taurat. Ia tak meniadakan sanksi rajam itu. Tapi secara radikal ia ubah hukum jadi sebuah unsur dalam pengalaman, jadi satu bagian dari hidup orang per orang di sebuah saat di sebuah tempat. Hukum tak lagi dituliskan untuk siapa saja, di mana saja, kapan saja. Ketika Yesus berbicara ”barangsiapa di antara kamu yang tak berdosa”, hukum serta-merta bersentuhan dengan ”siapa”, bukan ”apa”—dengan jiwa, hasrat, ingatan tiap orang yang hadir di pelataran Bait di pagi itu.

Para calon perajam itu bukan lagi mesin pendukung akidah. Mendadak mereka melihat diri masing-masing. Aku sendiri tak sepenuhnya cocok dengan hukum Allah. Aku sebuah situasi kompleks yang terbentuk oleh perkalian yang simpang-siur. Kemarin apa saja yang kulakukan? Nanti apa pula?

Dan di saat itu juga, si tertuduh bukan lagi hanya satu eksemplar dari ”perempuan-perempuan yang demikian”. Ia satu sosok, wajah, dan riwayat yang singular, tak terbandingkan—dan sebab itu tak terumuskan. Ia kisah yang kemarin tak ada, besok tak terulang, dan kini tak sepenuhnya kumengerti. Siapa gerangan namanya, kenapa ia sampai didakwa?

Perempuan itu, juga tiap orang yang hadir di pelataran itu, adalah nasib yang datang entah dari mana dan entah akan ke mana. Chairil Anwar benar: ”Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

Dalam esainya tentang kejadian di pelataran Baitullah itu, RenĂ© Girard—yang menganggap mimesis begitu penting dalam hidup manusia—menunjukkan satu adegan yang menarik: setelah terhenyak mendengar kata-kata Yesus itu, ”satu demi satu orang-orang itu pergi….” Pada saat itulah, dorongan mimesis—hasrat manusia menirukan yang dilakukan dan diperoleh orang lain—berhenti sebagai faktor yang menguasai perilaku. Dari kancah orang ramai itu muncul individu, orang seorang. ”Teks Injil itu,” kata Girard, ”dapat dibaca hampir secara alegoris tentang munculnya ke-person-an yang sejati dari gerombolan yang primordial.”

Tapi kepada siapakah sebenarnya agama berbicara: kepada tiap person dalam kesunyian masing-masing? Atau kepada ”gerombolan”? Saya tak tahu. Di pelataran itu Yesus membungkuk, membisu, hanya mengguratkan jarinya. Ketika ia berdiri, ia berkata ke arah orang banyak. Tapi sepotong kalimat itu tak berteriak.

~Majalah Tempo Senin, 28 September 2009~

27 Agustus 2009

Doa Kang Suto

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corakhidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini? Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus
diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, "Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh."

Para "Unyil" ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, "Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia."

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa
menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, 'ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

"Ain, Pak Suto," kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

"Ngain," kata Kang Suto.

"Ya kaga bisa nyang begini mah," pikir ustad.

Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

"Al-kham-du ...," tuntun guru barunya.

"Al-kam-ndu ...," Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, "Salah."

"Alkhamdulillah ...," panjang sekalian, pikir gurunya itu.

"Lha kam ndu lilah ...," Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

Kang Suto takut. "Mau belajar malah cari dosa," gerutunya.

Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

"Begini Kang," akhirnya saya menjawab. "Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu."

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. "Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya."

"Sira guru nyong," (kau guruku) katanya, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, "Arokmanirokim," (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

"Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas ..."

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi ...

---------------
Mohammad Sobary, Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991

25 Agustus 2009

Mimpi Setiap Orang

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Dalam waktu tak lebih dari dua malam, manusia di bulatan bumi ini seluruhnya menjadi gempar. Mereka kaget, takjub dan dibikin tidak mengerti oleh satu hal yang sama. Maka ributlah bumi, di bagian mana saja, yang di pusat atau yang di pelosok, oleh pergunjingan satu topic yang sama.

Ini jelas untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah dengan penuh gairah mengenyam dan mencatat kejutan ini di atas tinta mutiara. Segala mulut dan segala mass media sibuk mencari kata-kata dan kalimat yang tepat, yang artistik dan spektakuler untuk mengabadikannya. Sebenarnya pada mulanya hanya terjadi di sebuah kampung. Bahkan di sebuah pojok yang menjadi bagian kecil dari kampung. Seseorang, laki-laki tua, pagi-pagi buta berkata kepada istrinya:

"Hebat! Semalam aku bermimpi sensasionil. Entah bagaimana bentuk kisahnya yang Jelas. Tapi yang kuingat, Tuhan mulai hari ini menutup rapat-rapat pintu-Nya."

"He?" istrinya terbelalak, "Aku juga bermimpi demikian. Aku melihat mendadak di langit muncul makhluk aneh yang amat besar, membawa terompet yang juga amat besar ukurannya mengumandangkan suara ke segala penjuru bahwa Tuhan telah menutup pintu-Nya!”

Belum selesai keheranan sang suami. muncul menantunya dan menceritakan pengalaman yang sama. Belum sempat lagi menguraikan apa yang sesungguhnya terjadi, datang tetangga, bertanya apa bisa masuk nalar mimpinya semalam bahwa Tuhan menutup pintu. Maka kemudian menjalarlah keheranan demi keheranan. Ketakjuban demi ketakjuban. Meskipun dengan cerita mimpi yang berbeda-beda, tetapi kesimpulannya semua sama, Beberapa saat kemudian di seluruh kampung orang dipersatukan oleh rasa takjub yang sama. Dan seterusnya. tanpa terasa seluruh daerah, seluruh kota, seluruh negara, seluruh benua dan seluruh dunia, diikat oleh pergunjingan tetangga tentang masalah yang sama. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua malam. Bahkan bisa dikatakan sehari semalam, yakni sepanjang matahari beredar mengelilingi bumi, ketika semua manusia di seluruh bulatan bumi punya satu kali kesempatan untuk bangun pagi. Hanya saja hal tersebut menjadi kesadaran internasional, ditempuh dalam waktu dua hari dua malam. Maklumlah peradaban ummat manusia sudah demikian maju. Jaringan komunikasi sudah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga mampu mengedari bumi dan mengikat kesadaran bersama hanya dalam waktu yang teramat singkat.

Pada detik-detik berikutnya kesibukan rasa takjub itu mulai meningkat ke proses yang lebih jauh dan dalam. Segala topik yang semula menggunjing dunia, umpamanya soal perang yang tak kunjung selesai atau peristiwa olah raga internasional, terhapus secara mendadak oleh kejutan ini. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin, kata setiap orang. Sejak dari rakyat paling kecil, bodoh dan buta huruf, sampai pada pemimpin-pemimpin negara atau pemuka agama, tidak ada satu pun yang absen memperbincangkannya, menguraikannnya, menilainya, mengira-ngira, menyimpulkan atau setidaknya menawarkan kemungkinan. Ada yang menggunakan cara berpikir yang ilmiah, ada yang lugu, ada yang menangkapnya secara mistis, serta ada juga yang menggabungkan antara kepercayaan yang diperolehnya dari agama dengan tuduhan-tuduhan vang dahsyat terhadap dosa-dosa manusia selama sekian abad di dunia. Tetapi yang jelas tidak ada seorang pun berani acuh atau meremehkannya. Ia menjadi masalah semua etnis dan tingkat manusia. Sejak kuli di pelabuhan, babu Cina, pencari puntung, pedagang kaki lima, guru sekolah, pemain teater, pengkhothah, sampal pegawai negeri dan gerilyawan-gerilyawan di hutan-hutan. Masalah ini segera menumbuhkan berbagai macam reaksi, di samping reaksi pikiran, yang terlebih lagi ialah reaksi perasaan. Umumnya manusia dihinggapi rasa panik, cemas, minimal khawatir.

"Ini peringatan bagi keserakahan manusia selama ini" kata seorang pemeluk agama yang patuh.

“Tanda mau kiamat” ujar lainnya.

"Tuhan tak sudi lagi mengundurkan hukuman sampai hari akhir kelak di neraka, tapi menunjukkan menunjukkan kekuasaannya sekarang”.

Semua bernada sama. Rupanya tidak perduli seseorang punya ideologis, posisi sosial atau jabatan apa, semuanya langsung tertusuk kemanusiaannya oleh kejadian dramatis ini. Ada yang sekaligus menyalahkan para pengkhianat, orang-orang murtad, penjahat-penjahat, para pelacur yang menjual tubuhnya maupun keyakinannya, kaum munafik, penindas rakyat, penjilat, pengingkar sembahyang, orang-orang yang tidak setia pada tanggung jawabnya serta mereka yang mengeksploatir kedudukan untuk memenuhi nafsu keduniaannya. Ada juga yang langsung mengarahkan tudingannya ke para pemimpin dunia, yang dianggap penentu dari segala keadaan dan akibat-akibatnya dalam kehidupan seluruh dunia. Ada yang menyalahkan negara-negara penjajah, ambisius dan imperialism Ada yang menyalahkan para pemegang sumber arah kebudayaan, menyalahkan kebijaksanaannya yang ternyata menyesatkan hidup dan menumbuhkan ketidak-seimbangan-ketidak-seimbangan. Tetapi dari kesemuanya, bisa ditarik garis besar yang sama. ialah nada pertobatan, rasa dosa dan kesadaran untuk menyesali masa silam yang penuh noda.

Hanya negara-negara yang rakyatnya selama ini mengaku tidak ber-Tuhan saja yang bereaksi minir. Mula-mula mereka menuduh sementara negara raksasa di dunialah yang membikin kejadian ini, dengan cara menciptakan komputer yang bisa mensugesti situasi kejiwaan ummat manusia seluruh dunia, untuk merasakan dan mengalami wujud mimpi yang sama. Mereka mengatakan, negara raksasa itu punya maksud ideologis-politis yang bertujuan mempengaruhi alam jiwa rakyat yang tak ber-Tuhan. Disimpulkannya bahwa tindakan tersebut sesungguhnya merupakan serangan perang. Dan hampir saja tuduhan ini menyebabkan tak ber-Tuhan itu memutuskan untuk menyelenggarakan serangan balasan. Namun akhirnya rencana itu dipertimbangkan kembali setelah dilihatnya gejala universal yang terjadi pada segala macam jenis manusia di muka bumi. Bahkan akhirnya serangan tersebut dibatalkan sama sekali ketika muncul rencana lain yang bersifat internasional.

Rencana ini merupakan langkah raksasa berikutnya dari sejarah ummat manusia, sehingga serangan negara tak ber-Tuhan itu sungguh-sungguh kehilangan alasan untuk untuk benar-benar dilaksanakan.

Dipelopori oleh pemimpin-pemimpin dari negara tertuduh itu, para pemuka seluruh negara yang ada di muka bumi, bersidang bersama. Suasana prihatin dan wajah-wajah pucat penuh penyesalan dan rasa cemas, memenuhi ruang sidang tersebut. Agaknnya hantaman kejadian itu sedemikian perkasa dan mendalam di hati jiwa semua manusia, sehingga sidang itu berlangsung tidak terlalu lama, tetapi berhasil menelorkan keputusan yang sungguh-sungguh merupakan kejutan.

Diputuskanlah oleh sidang internasional itu: ummat manusia seluruh dunia mengutus minimal sepuluh wakil untuk menghadap ke istana Tuhan. Perutusan ini bertugas untuk menanyakan kepada Tuhan apakah benar beliau telah menutup pintunya bagi manusia. Jika beliau berkenan meninjau kembali keputusannya ini, maka seluruh ummat manusia bersedia bersujud sebulan siang malam penuh dengan maksud memohon ampunan, kemudian bersumpah hendak memperbaiki segala segi kehidupan di muka bumi. Negara-negara bersedia menghentikan perang. Semua negara di dunia bersahabat sehidup semati dan selalu mempertimbangkan kepentingan dan keseimbangan kehidupan seluruh penduduk dunia secara merata. Tidak ada lagi yang memonopoli. Tidak ada lagi raksasa dunia sementara ada juga negara teri dunia. Akan diusahakan pemerataan kekayaan sehingga sungguh-sungguh bisa dicapai keseimbangan taraf hidup antara seluruh rakyat bumi yang ada. Negara-negara dunia berjanji akan senantiasa memohon petunjuk Tuhan di dalam menciptakan tatanantatanan internasional, baik dalam segi politik, perekonomian, sosial maupun budaya. Tidak ada lagi penjajah, imperialism zionis, monopoli, penindas atau penipu. Kehidupan dunia diatur paling utama oleh kesadaran internasional, sehingga tidak ada lagi pertentangan antara kepentingan-kepentingan yang lebih kecil dari kesatuan dunia. Kadar kecintaan antarmanusia ditingkatkan sampai taraf yang setinggi-tingginya dan memadai, agar dunia tidak bingung lagi memilih antara sistem liberalis atau disiplin pemerataan teknis. Pada pokoknya segala peri kehidupan ummat manusia dijamin dilaksanakan sebaik-baiknya, dengan mempertimbangkan secara seksama dan adil antara kepentingan individu dan kepentingan bersama.

Seluruh manusia di dunia mengutus kesepuluh delegasi tersebut dengan membawa borg semacam itu. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa mereka ternyata memiliki kesadaran akan masa depan. Mereka memperhitungkan, jika manusia tidak memberi janji semacam itu tak akan butuh waktu lama Tuhan pasti menurunkan keajaiban yang baru. Sedang keajaiban mimpi saja sudah memberi akibat internasional sedemikian rupa. Coba bayangkan kalau kejutan itu berupa bencana-bencana. Umpamanya hujan deras turun sebulan penuh di seluruh muka bumi, muncul di mana-mana hama-hama ganas, tanah longsor atau gunung-gunung meletus. Bahkan yang lebih ajaib lagi. Tuhan gampang saja melakukan semua. Apalagi jika Beliau telah murka.

Sesungguhnya keputusan ini sama sekali tidak masuk akalnya dengan kejutan mimpi itu sendiri. Selama ini semua manusia yakin bahwa Tuhan tak mungkin bisa ditemui. Maksudnya manusia tak mungkin mampu memandang beliau. Nabi Musa saja pingsan. Apalagi kyai atau pendeta zaman sekarang. Dan diantara kesepuluh perutusan itu paling banyak memang terdiri atas para kyai, pendeta dan biksu. Mereka dianggap paling punya relasi terdekat dengan Tuhan.

Tak banyak cingcong. Pada hari kesebelas dari peristiwa mimpi itu, perutusan diberangkatkan. Maksudnya, diterbangkan. Yakni dari pusat penerbangan sebuah negara raksasa, dengan menggunakan pesawat Bouraq. Tentu saja ini bukan bouraq asli yang dulu dicarter oleh Nabi Muhammad ke sidratul muntaha bermikraj. Melainkan bouraq imitasi. Apa boleh buat. Apa yang dibikin manusia memang serba imitasi. Iman mereka pun imitasi. Habis bagaimana mungkin menciptakan bouraq asli.

Hari itupun sibuklah. Jutaan manusia berduyur-duyun mendatangi pusat penerbangan yang ditentukan. Rakyat di daerah sekeliling tempat tersebut tak seorang pun yang tak hadir. Sedang rakyat dari negara-negara lain, paling tidak mengutus wakil-wakilnya.

Kesepuluh utusan telah muncul di depan khalayak. Berpakaian antariksawan. Sebenarnya agak kaku dan geli juga seorang kyai atau biksu memakai pakaian semacam itu. Tetapi suasana tak memberi kesempatan mereka untuk tersenyum saja pun. Wajah upacara pemberangkatan itu demikian sendu, pucat dan sarat kecemasan. Airmuka para utusan, terutama, digenangi tangis. Mereka dibebani tugas yang luhur dari sekian milyard penduduk dunia. Mereka diharapkan mampu melancarkan taktik diplomasi yang jitu terhadap Tuhan, demi nasib seluruh ummat manusia. Kesepuluh orang itu gemetar. Hati mereka menggigil dan air mata mereka tak habis-habisnya mengalir. Demikian juga krew yang mengelola pemberangkatan itu, maupun rakyat yang berjejai-jejal. Hujan tangis. Hujan tangis.

"Wahai rakyat dunia yang tercinta!" berkata seorang pemimpin dunia. la berdiri di mimbar yang mengatasi seluruh hadirin. Matanya berkaca-kaca. Pakaiannya begitu lusuh. la tak sempat mengurusnya karena konsentrasinya yang penuh dalam memikirkan nasib ummat manusia.

"Utusan ummat manusia seluruh dunia akan segera berangkat ke istana Tuhan. Marilah kita antarkan mereka dengan air mata (dan doa, sebab itulah yang pertama-tama diajukan kepada Tuhan, untuk mengawali segala permohonan tulus umat manusia. Marilah berdoa agar beliau merasa terharu dan tersentuh hatinya melihat nasib seluruh umat manusia”.

Seluruh hadirin menundukkan kepala. Untuk kesekian kalinya mereka menangis. Kemudian mereka saling berangkulan dengan gemetar dan penuh keharuan.

Pesawat Bouraq pun akhirnya meluncur. Seluruh hadirin bagai hendak memekik hatinya. Tapi mereka hanya berkaca-kaca memandang kepul asap yang menjadi bayangan ekor perutusan mereka. Kemudian, tetap dalam suasana sendu dan penuh tangis. Mereka berduyun-duyun meninggalkan pusat penerbangan. Setiap orang menundukkan kepala.

Sesampainya di rumah pun mereka tidak banyak berbicara. Di seluruh muka bumi, umumnya orang tidak banyak melakukan pekerjaan. Mereka lebih banyak diam, merenung dan sebanyak mungkin menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan. Kehidupan bisa dikatakan macet, kecuali kegiatan makan, minum, berak dan tidur. Radio-radio dan TV sedikit sekali mengudara. Sesekali muncul hanya mempertunjukkan acara-acara ketuhanan. Pengajian Al-Qur'an atau lagu-lagu gereja. Koran-koran hanya memuat tulisan rohaniah, ulasan situasi yang lebih merupakan penyesalan dan doa mohon ampun kepada Tuhan. Kantor-kantor negara atau perusahaan tetap buka, tetapi dipenuhi oleh aktivitas yang nanggung. Antara sedikit kerja, keragu-raguan dan perenungan kembali. Setiap sendi kehidupan, jaringan masyarakat, pos-pos usaha dan seterusnva, pada umumnva bersikap menunggu. Bahkan ada yang tutup sama sekali. Sebab semua memperhitungkan, dalam waktu seminggu utusan mereka sudah akan kembali dan membawa kabar dari Tuhan. Kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari memang agak sedikit terbengkalai oleh macetnya pos-pos kehidupan masyarakat. Tetapi pada umumnya mereka bersedia agak berlapar-lapar sedikit, serta rela untuk tidak menggunakan fasilitas dan kesempatan seperti biasanya. Pengorbanan itu mereka persembahkan kepada Tuhan.

Akan tetapi setelah waktu berlangsung seminggu, kecemasan baru mulai timbul. Utusan belum juga datang. Ditunggu lagi sehari, dua hari, dan akhirnya sampai seminggu, sebulan kemudian tiga bulan. ini celaka. Kehidupan tidak bisa lagi menunggu. Kemacetan penghidupan rakyat bisa-bisa tak terkuasai lagi. Sirkulasi antara bidang-bidang usaha dan bidang-bidang pemakaian tak bisa terus-menerus diistirahatkan. Segala sistem yang tersedia musti aktif kembali agar kehidupan penduduk dunia bisa dipelihara. Namun demikian akibat-akibat dari kemandegan sementara itu sudah amat luas terasa. Kesejahteraan mulai jauh berkurang. Mekanisme tersebut sendat. Fasilitas-fasilitas sudah jauh berkurang. Kemacetan-kemacetan dan keterbengkalaian-keterbengkalaian berlangsung di mana-mana. Rakyat dunia bingung.

Akhirnya dua hal muncul. Pertama, dunia berpikir untuk mengirimkan utusan lagi ke istana Tuhan. Dan kedua, mobilisasi kembali segala mekanisme kehidupan dan penghidupan di dunia seperti waktu-waktu sebelum terjadi peristiwa ini. Sebabnya jelas, manusia tak bisa tak makan. Dunia tak bisa tak hidup.

Utusan kedua akhirnva diberangkatkan Juga. Di antaranya oleh kesenduan yang sama seperti yang pertama, ditambah kebingungan baru. Rakyat dunia kini terjepit. Antara keharusan untuk tetap bisa makan dan hidup, dengan tidak bisa dielakkannya pembikinan dosa-dosa baru. Memang secara langsung. individu-individu manusia tetap tak berani melakukan kejahatan-kejahatan atau segala pekerjaan yang mengindikasikan dosa dan murka Tuhan. Tetapi celakanya, banyak sekali sistem dan sarana pengelolaan hidup manusia secara keseluruhan yang mengandung dosa-dosa, kini tidak bisa tidak harus diaktifkan kembali. Misainya sistem perekonomian, sistem sosial dan lain sebagainya. Yang lebih konkrit umpamanya sarana seperti nite klub atau lokalisasi penjualan daging wanita, ini memang sarang dosa, tetapi tak lain adalah juga lapangan pekerjaan di mana hidup sekian banyak orang ditentukan. Secara keseluruhan sarana semacam ini tak mungkin dihapuskan untuk tidak menjadi arena pembunuhan nyawa manusia. Kemudian masih banyak lagi hal-hal semacam itu. Satu contoh lagi saja, misalnya sistem politik dengan jaringan birokrasinya. Selama ini ia menjadi penyebab dosa-dosa. Sekarang tak mungkin merombaknya hanya dalam waktu sebulan dua bulan sekadar untuk menghindarkan mereka dari kemungkinan dosa. Sebab pada awal perombakannya saja jelas pelaku atau pejabat-pejabat yang duduk di situ sudah akan terlantar dan bisa-bisa mati.

Maka dunia dilanda kegoncangan. Ketika waktu demi waktu makin berjalan, ketika utusan kedua tak juga kembali dan utusan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya yang dikirim tak kunjung balik, maka mekanisme kehidupan dunia benar-benar telah kembali sebagaimana semula. Negara-negara kuat, demi kelangsungan kepentingan politik-ekonomisnya, kembali menjalankan proyek-proyeknya semula. Umpamanya penguasaan tiranis maupun samar atas negara lain. Penjajahan-penjajahan kembali berlangsung. Penyelewengan dan penipuan tak bisa dihindarkan. Dan seterusnya. Bahkan sekarang lebih kacau balau lagi. Karena utusan demi utusan yang dikirim ke Tuhan tidak lain terdiri atas orang-orang, terpenting didunia.

Sudah sewajarnya kalau akhirnya dunia kehabisan orang-orang terkemukanya, Kehabisan orang-orang baik. Kehabisan orang-orang pintar. Kehabisan tenaga-tenaga yang mampu memegang kehidupan dunia. Akhirnya segalanya tidak bisa dipertahankan lagi. Kejahatan rnakin kasar dan brutal. Penindasan makin blak-blakan. Kekuatan fisik kembali menentukan kekuasaan. Peperangan demi peperangan tak bisa dibendung. Tidak saja antara negara, tetapi juga antara tetangga. Peri kehidupan manusia primitif kini kembali terulang.

Akan tetapi, alkisah, ternyata para utusan yang itu punya kisah tersendiri. Utusan yang pertama sebenarnya sudah sampai ke depan pintu gerbang istana Tuhan, tetapi pintunya dalam keadaan tertutup. Mereka ketuk pintu itu berkali-kali, tapi tak satu malaikat pun muncul membukakannya. Para kyai dan pendeta dan biksu itu kebingungan. Mereka bertugas untuk melakukan diplomasi dengan Tuhan. Jika tidak berhasil melakukannya, mereka tentu saja tak berani kembali. Akhirnya, setelah melewati musyawarah dan perdebatan yang panjang lebar, tak berhasil mereka temukan keputusan apa-apa. Jadi rnereka tertegun saja berbulan-bulan lamanya di depan pintu itu. Sampai akhirnya datang utusan kedua. ketiga, keernpat dan seterusnya. Semuanya tertegun. Semuanya berdiam diri di depan pintu.

Salah seorang anggota perutusan terakhir, melaporkan kepada rekan-rekannya: "Kehidupan di bumi kita makin rusak. Tak mungkin dikendalikan lagi. Apalagi diperbaiki."

Semua menunduk.

"Apakah Tuhan benar-benar telah menutup pintu?"**** (emha, 70-an)

24 Agustus 2009

Bulan Purnama Rendra

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Rendra. Malam Jumat, di bawah cahaya bulan purnama. Orang besar itu telah pergi dengan gagah sebagaimana ajarannya: ''gagah dalam kemiskinan''. Istrinya, Ken Zuraida, menyatakan ''ia sangat bahagia'', meskipun pasti bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam ''derita manusiawi'' yang membungkusnya.

Ini adalah puncak tangis mengguguk-guguk seorang pecinta yang air matanya tumpah di ufuk kesadaran tentang nyawiji. Selama sakit di pembaringan, Rendra selalu spontan menyebut, ''Ya Lathif, wahai Yang Mahalembut." Di saat-saat paling menderita oleh sakitnya, ia meneguhkan hatinya dengan ''Qul huwal-Lahu Ahad, Allahus-Shamad....'' Setengah sadar, sambil saya genggam tangan kirinya, saya minta ia menambahi, ''Mas, ucapkan juga Qul Huwal-Lahu Wahid....''

Ia berbisik, ''Apa bedanya Ahad dengan Wahid, Nun'', saya jawab, ''Mas, Ahad itu Allah yang tunggal, yang satu, yang gagah perkasa dengan maha-eksistensi-Nya. Wahid itu Allah yang manunggal, yang menyatu, yang integral, yang merendahkan diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya, nyawiji....'' Meledak tangis Rendra dalam rasa dan kesadaran bahwa ia tak berjarak dengan-Nya dan Ia tak berjarak dengan dirinya. Tatkala mereda gejolak hatinya, Rendra menorehkan puisi yang diakhiri dengan kalimat, ''Tuhan, aku cinta pada-Mu."

Maka, Rendra tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Rendra memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya, karena kita meletakkan diri semakin jauh dari titik nyawiji yang Rendra sudah lama menikmatinya.

***

Tapi sudah pasti kemudian terdengar suara dari seluruh penjuru: ''Kita sangat kehilangan'', ''Bangsa kita ditinggalkan lagi oleh salah seorang putra terbaiknya'', atau ''Tidak. Rendra tak pernah pergi. Orang besar tak pernah mati''.

Bisa jadi, pekikan-pekikan hati itu sebenarnya tidak terutama tentang Rendra, melainkan lebih terkait dengan kandungan batin kita sendiri. Semua pernyataan itu sangat memancarkan kedalaman cinta, semangat mempertahankan optimisme ke depan. Mungkin juga diam-diam terdapat kandungan kecemasan dan kebingungan dari dalam ego kita sendiri.

Terutama bagi orang yang semakin berangkat tua seperti saya: mengibarkan kehidupan Rendra pada momentum kematiannya sesungguhnya diam-diam sangat tajam mencerminkan kengerian terhadap kehidupan dan kematian saya sendiri. Kita berduyun-duyun menghadiri pemakamannya, mungkin untuk menyatakan kepada Tuhan betapa cintanya kita kepada kehidupan kita dan betapa khawatirnya kita akan datangnya maut sewaktu-waktu atas kita.

Mungkin terdapat semacam raungan di kandungan jiwa setiap pen-takziyah pemakaman Rendra. Raungan panjang seperti puisi "Rick dari Corona'' atau ''Khotbah''. Tetapi mungkin berakhir sublim dan mengkristal menjadi Drama Mini Kata Rendra: ''Bip Bop'', ''Rambate Rate Rata''....

Sementara bagi para pen-takziyah yang muda-muda, yang menyangka bahwa maut ada kaitannya dengan muda dan tua, di kompleks Bengkel Teater meneriakkan puisi-puisi perjuangan, mengibarkan kepercayaan di dalam diri mereka bahwa kepergian Rendra bukanlah sirnanya perjuangan sosial, progresivisme ideologi nasional dan martabat kemanusiaan. Mereka seolah menghadirkan kembali panggung ''Mastodon dan Burung Kondor'', ''Sekda'', bahkan ''Kasidah Barzanji'', hingga puisi ''Orang Miskin di Jalan'', ''Bersatulah Pelacur-pelacur Ibukota'', ''Seonggok Jagung di Kamar''.

***

Wahai maut, siapakah engkau? ''Bukan kematian benar menusuk kalbu,'' kata Chairil Anwar, penyair terbesar Indonesia di samping Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. ''Keridaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu. Dan duka Maha Tuan bertahta...."

Tuhan tak sudi dipergoki. Takdir-Nya tak bisa dicegat. Kehendak-Nya tak mungkin dibatasi. Hak-Nya atas misteri garis terang dan gelap kehidupan, serta atas ketentuan detik maut dihadirkan, tak membuka diri sedikit pun untuk dirumuskan oleh segala ilmu dan pengalaman. Kehidupan sangat mengaitkan sakit dengan kematian, tetapi maut tidak bersedia dikaitkan dengan sakit.

Orang bisa sakit berkepanjangan tanpa kunjung maut menjemputnya. Orang sehat walafiat bisa mendadak dihadang oleh kematian. Rendra dipanggil Allah tidak berdasar akselerasi logis dari sakit demi sakit yang dideritanya: pikiran yang memberat, jantung bekerja terlalu keras, ginjal menanggung akibatnya, kemudian tiba-tiba demam berdarah menelusup ke darahnya dan menganiaya jiwanya.

Keadaannya justru membaik, sehingga diperkenankan keluar dari rumah sakit, kemudian menempuh jalan yang ia menyebutnya: ''Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimia. Aku ingin kembali kepada jalan alam. Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah. Tuhan, aku cinta pada-Mu'' (31 Juli 2009).

Rasulullah Muhammad SAW menderita panas badan yang sangat luar biasa melebihi kebanyakan orang. Beliau menjawab pertanyaan salah seorang sahabatnya tentang panas yang ekstra itu: bahwa beliau dibebani Allah tanggung jawab sangat besar melampaui semua yang lain, sehingga Tuhan menganugerahkan juga kemuliaan yang sangat tinggi melebihi siapa pun, tetapi harus juga beliau tanggung panas yang amat tinggi dan dahsyat yang orang lain tak menanggungnya.

Demikianlah juga kadar derita sakit yang dialami Rendra, takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya, yang khalayak ramai tidak perlu mengetahui atau turut menghayatinya. Rendra bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam rahasia. Bahkan lautan kebahagiaan dan kemuliaan Rendra tidak perlu ''digarami'' oleh pernyataan pers Presiden Republik Indonesia sebagaimana Mbah Surip dianggap memerlukannya.

Pada hari wafatnya Rendra, di samping menikmati pemandangan indahnya kemuliaan rahasia Rendra itu, saya mendapat cipratan anugerah yang lain: menyaksikan seseorang menginfakkan Rp 6,1 trilyun --dengan Allah merebut seluruh kemuliaan hamba-Nya itu-- dengan cara membiarkan sesama manusia justru memperhinakannya. Alangkah anehnya metode cinta Tuhan.

Di hadapan akal sehat, presiden berpidato untuk wafatnya Mbah Surip tapi tidak untuk wafatnya Rendra adalah kehancuran logika dan kebangkrutan parameter nilai budaya. Tapi, di hadapan karamah Allah, itu justru keindahan yang spesifik. SBY bikin stempel tegas atas dirinya sendiri.

Ini sama sekali bukan polarisasi antara Rendra dan Mbah Surip. Tiga tahun lebih saya ikut mengawal dan menjunjung Mbah Surip dan ''Tiga Gorilla''-nya --bersama Bertha dan almarhum Ndang: melalui forum rakyat rutin bulanan di Jakarta, Jombang, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Sehingga Tak Gendong dan Tidur Lagi sudah sangat dihafal oleh komunitas lima kota itu dan terus-menerus diulang karena sangat dicintai sebagai ''lagu kebangsaan'' komunitas kami. Kami ''I love you full'' kepada Mbah Surip, meskipun dua bulan terakhir menjelang beliau wafat, kami kehilangan diri kami di penggalan akhir sejarah Mbah Surip, tanpa Mbah Surip pernah hilang dari hati kami.

***

Rendra dipanggil Allah justru di puncak optimisme keluarganya atas kesembuhannya. Candle light phenomenon, kata orang. Fenomena lilin yang apinya membesar dan memancarkan cahaya sangat benderang, sebelum akhirnya padam. Tapi Tuhan berhak juga bikin lilin membenderang apinya, kemudian tidak padam. Atau lilin tidak pernah membenderang dan lantas padam.

Tuhan berhak memaparkan suatu gejala yang pada repetisi kesekian dihipotesiskan oleh manusia sebagai jenis "perilaku" Tuhan atas nasib manusia. Tapi Tuhan juga berhak kapan saja melanggar rumusan apa pun yang pernah Ia berikan. Bahkan Tuhan seratus persen tidak berkewajiban untuk berbuat adil kepada siapa pun, karena Ia tidak terikat atau bergantung pada pola hubungan apa pun dengan siapa pun, yang secara logis membuat-Nya wajib bertindak adil.

Namun Ia selalu sangat adil kepada siapa pun, dan tindakan adil-Nya itu bukan karena Ia wajib adil, melainkan karena Ia sangat sayang kepada makhluk-Nya.

Termasuk bagaimana cara maut ditimpakan kepada seseorang, Tuhan menolak untuk kita rumuskan. Ada bandit mati ketika bersujud. Ada orang sangat alim saleh pergi ke masjid di tengah malam diserempet motor, kemudian ia dipukuli pengendara motor itu sampai meninggal. Ada pendosa besar mati ketika bertawaf, ada true believer pengkhusyuk ibadah mati kecelakaan secara sangat mengenaskan.

Semua fenomena itu tidak menggambarkan apa-apa kecuali kemutlakan kuasa Tuhan. Posisi manusia hanya pada dinamika doa: selalu cemas dan memohon kepada-Nya agar diperkenankan untuk tidak tampak hina di hadapan sesama manusia.

Pun tak usah merumuskan sebab-akibat antara baik-buruknya manusia dan jumlah pelayat, volume pemberitaan media, tayangan langsung atau tunda, tatkala meninggal. Ada ratu lalim diantarkan ke pemakaman oleh puluhan ribu orang, ada nabi dikuburkan hanya oleh enam orang. Jadi, Rendra tidak bisa kita ukur kualitas mautnya, tak juga bisa kita takar mutu hidupnya. Tidak ada jenis dan wilayah ilmu manusia apa pun yang bisa dipakai untuk merumuskan hidup dan matinya Rendra. Sirrul-asror. Itu misteri seserpih rahasia di antara jagat raya tak terhingga rahasia iradah-Nya.

Yang mungkin, dan harus, kita lakukan adalah meneliti dan menghitung ulang karya-karya Rendra, menghormatinya dengan ilmu, merayakannya terus-menerus dengan cinta, menjunjungnya dengan semangat tanpa henti untuk memelihara keindahan hidup, serta menghidupkan kembali kandungan karya-karyanya itu di dalam berbagai modus kreatif kebudayaan kita.

Rendra telah diterima Allah untuk bergabung dalam keabadian. Kelabakanlah kita, sebab yang kita punyai pada saat ini adalah budaya instan, pola berpikir sepenggal, perhatian terlalu rendah terhadap sejarah, serta kefakiran yang luar biasa terhadap kualitas hidup. ''Kami cuma tulang-tulang berserakan,'' kata Chairil, ''Tapi adalah kepunyaanmu." Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan....''.
[Obituari, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 13 Agustus 2009]

23 Agustus 2009

Kesalehan Sosial, Kesalehan Ritual

Ketika dalam Robohnya Surau Kami, A.A. Navis memasukkan Haji Saleh(yang yakin bakal masuk sorga itu) ke neraka, sebenarnya ia sedang berbicara tentang suatu corak keagamaan yang tak ia "restui". Navis sedang menggugat kesalehan ritual: jenis kesalehan yang ukurannya ditentukan berdasarkan seberapa taat seseorang menjalankan salat lima waktu, seberapa panjang zikir-zikir sesudah salat, dan seberapa sering salat sunat ia lakukan.

Pendek kata, kesalehan itu ditentukan berdasarkan ukuran serba legal formal sebagaimana kata ajaran. Dan biasanya, untuk ini ada-ada saja orang yang merasa memiliki otoritas buat menilai kredibilitas moral orang lain. Ia menjadi semacam tim pemeriksa dan penilai keimanan orang lain.

Islam bukan agama individual. Ajaran yang dibawa Gusti Kanjeng Nabi Muhammad itu, dari "atas" memang dirancang buat rahmat bagi semesta alam. Orang yang paling saleh pun dengan demikian tak punya hak monopoli atas agama itu.

Kita tak berhak menentukan tingkat kesalehan tetangga sebelah. Dan tak satu pun di antara kita punya wewenang "mengontrol" ibadah orang lain. Terutama bila hal itu
disertai sikap sinis dan cemooh, seperti Haji Saleh dalam Robohnya Surau Kami itu.

Kita tahu Bang Navis orang Minang dan ia sedang bicara tentang situasi kultural Minang. Tapi corak keagamaan itu tak dengan sendirinya cuma milik orang Minang. Di Jawa pun, pada saat yang sama, tiga puluhan tahun yang lalu, ketika perpecahan ideologi kultural kuat mewarnai kehidupan masyarakat, gejala serupa juga menonjol. Terjadinya polarisasi santri-abangan, sebagaimana dirumuskan Clifford Geertz, adalah produk zaman tersebut.

Namun juga tak berarti cuma milik zaman itu. Sekarang pun, setelah tiga puluhan tahun yang berlalu, kecenderungan agamis seperti itu toh masih juga terasa. Maka pada tahun 1980-an, ketika Gus Dur giat menganjurkan agar kita istirahat sebentar dari kesibukan berdebat tentang batalnya wudlu, untuk khusyuk bersama-sama memikirkan bagaimana kemiskinan umat ditangani, ia seperti memberi jawaban atas persoalan yang merunyamkan A.A. Navis tersebut.

Dengan kata lain, Gus Dur sedang berbicara tentang kesalehan sosial: suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, melainkan juga oleh cucuran keringat dalam praksis hidup keseharian kita.

Orang semacam Gus Dur dan mayoritas umat yang miskin tentu saja juga memerlukan penyelamatan sorgawi seperti Haji Saleh itu. Bedanya, Haji saleh mengesankan sikap hidup egoistis, ingin mencari selamat sendiri, sedangkan Gus Dur tampak altruis, ingin menikmati penyelamatan sorgawi bersama umat. Kalau boleh, mungkin mau masuk sorga dengan sandal kulitnya itu sekaligus.

Kecuali itu, Haji Saleh yakin bahwa sorga bisa digapai dengan kesalehan ritual. Gus Dur melihat bahwa sorga justru (setelah melihat konteks sosio-ekonomis umat yang compang-camping) harus lebih diraih dengan kesalehan sosial. Usahanya "menerobos" pintu Bank Summa untuk melakukan kerja sama ekonomi dengan membuka BPR, misalnya, jelas mempertegas wawasan keagamaannya.

Dalam kitab suci disebutkan bahwa sorga itu ada tingkatan-tingkatannya. Tanpa menodai ajaran, saya sering menafsirkan bahwa rasanya, sekarang pun saya sudah menikmati sebagian kenyamanan sorga itu. Maka, tafsiran saya selanjutnya, sorga bagi rakyat kecil, mayoritas umat yang miskin tentu juga sederhana tingkatannya: yakni sekadar buat pemenuhan kebutuhan jasmani (sandang, pangan, papan). Buat kebutuhan rohani, (membaca salawat buat Kanjeng Nabi, maupun segala puja dan puji kepada Allah) tentu dirasa sebagaikebutuhan luks. Dus, belum merupakan kebutuhan primer.

Tafsiran serupa saya dengar pernah dibuat oleh seorang pastur muda yang arif. Sehabis mengkhotbahi habis-habisan para "domba" yang miskin, ia antar mereka pulang. Di tengah nyala obor, di sepanjang jalan licin dan becek di daerah Malang, terjadilah dialog antara sang pastur dan dan para jemaahnya. Sang pastur kemudian menyimpulkan: saya ini keliru. Kongkret, mereka butuh makan. Tapi saya beri mereka
cerita tentang sorga, cinta kasih, dan Tuhan Bapa ...

Pemikiran keagamaan seperti ini ternyata juga bukan monopoli kaum terpelajar, seperti Romo Pastur muda tadi. Di Desa Ciater, Serpong, tempat saya melakukan penelitian tentang hubungan antara agama dan tingkah laku ekonomi, saya temukan seorang haji tua, pedagang kecil, yang beranggapan bahwa kesalehan itu terletak dalam praksis, bukan dalam doa-doa.

Ketika saya tanyakan kepadanya, orang yang bagaimana yang disebut sebagai orang saleh, Haji Asnen bin Haji Thalib itu menjawab:

"Orang yang menyeimbangkan ushali dan usaha," katanya.

Baginya, kedua hal itu harus diseimbangkan. Namun, jika ia harus memilih, ia akan lebih memilih yang kedua dulu.

"Mengapa?" tanya saya.

"Karena kalau anak-anak lapar, kita harus memberikan jawab kongkret: kasih makan. Dan makan itu kita peroleh dari usaha."

"Doa mah kaga enak dimakan," katanya lagi.

Dengan kata lain, haji dari Betawi ini pun sedang bicara bahwa dalam kondisi tertentu, kesalehan sosial terasa agak lebih, dan karena itu perlu didahulukan dari kesalehan ritual. Dengan begini, gugatan Navis kini terasa berdengung kembali dan memperoleh lagi relevansinya.

Bukan haji kalau ia tak bisa memperkuat argumentasinya dengan contoh kuat. Maka, Haji Asnen pun mengutip sebuah Hadis.

Katanya, seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Kanjeng Nabi.

"Mengapa ia kau sebut sangat saleh?" tanya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

"Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa."

"Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?" tanya Kanjeng Nabi lagi.

"Kakaknya," sahut sahabat tersebut.

"Kakaknya itulah yang layak disebut saleh," sahut Kanjeng Nabi lebih lanjut. Sahabat itu diam. Sebuah pengertian baru terbentuk dalam benaknya.

Ukuran kesalehan, dengan begitu, menjadi lebih jelas diletakkan pada tindakan nyata. Kesalehan, jadinya, lalu dilihat dampak kongkretnya dalam kehidupan sosial. Tentu saja, hanya kesalehan sosial yang bisa diukur dengan cara seperti itu.

Dalam agama, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan wajah sebuah kemestian yang tak usah ditawar. Secara normatif, keduanya haruslah merupakan bagian hidup tiap-tiap hamba.

Kita, pendeknya, selalu diminta tampil ideal. Artinya, secara ritual kita saleh, secara sosial pun kita mestinya saleh juga.

Maka, betapa pun pahitnya harus diakui bahwa memang, silang selisih antara mereka yang lebih menggarisbawahi kesalehan ritual dengan mereka yang lebih memilih kesalehan social masih bisa terjadi terus-menerus. Ini tak menjadi soal. Sebab, bukankah silang selisih itu sendiri merupakan sebuah dialog untuk mencapai takaran ideal itu juga?

---------------
Mohammad Sobary, Jawa Pos, Minggu Legi, 29 Desember 1991

22 Agustus 2009

marhaban yaa ramadhan

(ditulis oleh : Emha Ainun Najib)

Setiap kali memasuki bulan puasa Ramadhan, seringkali yang teringat oleh kita adalah bahwa semua setan yang ada di muka bumi dibelenggu. Kalau bisa dibayangkan, tiba-tiba persis saat maghrib memasuki malam Ramadhan pertama, setan-setan terkaget-kaget tangannya tak bisa bergerak, kakinya tak bisa berjalan, kalau perlu mata dan mulutnya di-selotip, sehingga mustahil bisa mendekati apalagi mengganggu manusia dengan rayuan maut-nya untuk berbuat keji, maksiat, dan dosa.

Tapi opo yo ngono tho? Kalau saja alam berpikir kita mau diajak untuk naik beberapa derajat lebih tinggi dari sekedar pengandaian sederhana seperti itu. Sesungguhnya pengertian "setan dibelengu" adalah upaya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh keburukan yang masuk dalam hati, tindakan dan perilaku kita. Apa sih iya, Tuhan mau repot-repot membelenggu setan untuk manusia yang bahkan Tuhan sendiri mempersilahkan setan untuk menyesatkan manusia sepanjang umurnya? Lha kok enak? Sesungguhnya secara akal sehat, ya mestinya manusia itu sendiri-lah yang harus membelenggu setan agar tidak menyesatkan dirinya sendiri. Dan Ramadhan adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memperkuat kendali kita atas setan.

Setan, kalau mau diartikan dalam bahasa gaul yang keren, yang IT-minded, adalah sebuah frekuensi, sebuah rangkaian koordinat-koordinat , sebuah gelombang tingkat tinggi, suatu virus yang tak terdeteksi, suatu pergerakan atom-atom atau quartz-quartz (rangkaian terkecil dari atom), sebuah bentuk entitas non-jasad, yang merasuk ke dalam jiwa dan hati kita dan selalu bergerak berkebalikan arah dari naluri/kodrati positif kita. Hingga menimbulkan keinginan untuk berbuat keji, maksiat dan dosa, dan tanpa kita sadari jika dilakukan terus menerus menjadi kebiasaan yang dimaklumkan. Dengan kata lain gelombang jiwa dan hati kita telah satu fasa, satu rangkaian, satu mazhab, satu arah dengan frekuensi setan itu sendiri. Betapa mengerikan.

Dalam bulan Ramadhan ini, Tuhan memberikan kesempatan kepada kita bahwa segala gelombang, frekuensi, gerak koordinat atau amalan yang berpihak pada kebenaran dan kebaikan jika dipancarkan oleh manusia akan diberikan faktor pengali beberapa ratus atau bahkan beberapa ribu kali lipat dibandingkan saat dipancarkan di bulan selain Ramadhan. Jadi Tuhan hanya memberikan kekuatan lebih kepada mereka yang memang mau menggunakan kekuatan itu. Sehingga setan pun jelas takluk pada manusia. Kalau kita sendiri tidak memancarkan gelombang kebenaran, tidak menyesuaikan dengan frekuensi positif, tidak melakukan amalan kebaikan, tentu tetap tidak akan merasakan kemurahan Tuhan dan tetap tidak akan dapat membelenggu setan.

Puasa Ramadhan sebagai inti dari ibadah di bulan Ramadhan menjadi pengaktif virus scanner agar tindakan atau software dalam diri ini dapat berjalan tanpa gangguan virus-virus yang bertebaran di dunia jiwa dan hati kita. Itulah sebenarnya arti dari "setan dibelenggu" tersebut. Dengan kata lain, jika kita melakukan ibadah puasa dengan benar maka sesungguhnya kita telah mengaktifkan Anti-Virus dalam jiwa dan hati kita. Sehingga segala langkah, tindakan dan perilaku kita insyaAllah menjadi baik dan diridhoi oleh Tuhan Pencipta Manusia.

Karena itu, saat Ramadhan tiba, nyalakan jiwa dan hati kita dan jalankan Anti-Virus-nya. Perbanyak ibadah dan amalan yang mendekatkan frekuensi, gelombang, atom-atom kita ke arah Tuhan Maha Pengampun. Dan segala kebaikan akan berlipat-lipat kembalinya pada kita, dan setan pun akan terbelenggu & kecut nyali-nya. Tapi janganlah lupa juga, setelah Lebaran tiba, kita harus sering meng-update data Anti-Virus-nya. Dan jangan matikan program Anti-Virus-nya, meski Ramadhan akan ada lagi di tahun depan. Sebab manusia mana yang bisa memastikan bakal bertemu Ramadhan di tahun depan? Wallahu'alam.

Ramadan Ya Ramadan

Oleh: A. Mustofa Bisri

“MUSTOFA, Ramadan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan kepadamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata untuk-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya.” (A. Mustofa Bisri Dalam Nasehat Ramadan buat A. Mustofa Bisri)

Gegap gempita menyambut kedatangan Ramadan dan hiruk pikuk kaum muslimin menjalani Ramadan, disatu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama, khususnya di negeri ini. Namun, dilain pihak, bias sebagai bahan perenungan kita semua, terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita.

Lihatlah, bagaimana repotnya pemerintah mengkoordinasikan pihak-pihak yang di ajak bersama-sama mengitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal Ramadan. Bahkan, tahun ini masyarakat umumpun dilibatkan dalam kegiatan rukyah.

Lihatlah spanduk-spanduk menyambut kedatangan Ramadan yang terpampang di seantero jalan. Lihatkan kesibukan para produser dan insan-insan pertelevisian serta para pemilik PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadan.

Lihatlah ingar-bingar masjid-masjid dan mushola serta meriahnya acara buka bersama dimana-mana. Lihatlah kepedulian instansi-instansi, termasuk kepolisian yang dengan serius berusaha menghormati Ramadan. Luar biasa.

Pendek kata pada Ramadan ini, Indonesia seolah-olah menjadi milik kaum muslimin. Lautan, daratan, dan udara boleh dikata dikuasai kaum muslimin. Subhanallah! Kata Ilham dan ustad-ustad dalam takjub.

Fenomena ini bisa kita saksikan setiap tahun. Setiap Ramadan. Hanya pada Ramadan. Inilah acara rutin tahunan kita selama ini.

Seakan-akan kita hanya menunggu datang dan perginya Ramadan, lalu setelah itu kembali kepada kesibukan lain yang biasa kita lakukan di sebelas bulan yang lain. Seakan-akan kita menghormati Ramadan hanya pada Ramadan. Kita berpuasa, menahan diri hanya kepada Ramadan. Termasuk berakrab-akrab dengan keluarga pun hanya pada Ramadan. Itu pun – kehidupan Ramadan yang seperti itu – masih menyisakan sekian tanda Tanya bagi mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keridaan Tuhan mereka. Tanda Tanya itu antara lain, dimanakah posisi Allah dalam diri kita di tengah kesibukan kita yag khas itu?

Seberapa murnikah niat kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah kita? Atau seberapa jauh dorongan nafsu yang samara menyusupi keinginan kita mendapatkan rida Allah?

Dengan perenungan yang agak dalam, kita mungkin akan menyadari bahwa nafsu begitu halus tersembunyi dalam diri kita, sering berhimpitan dengan kehendak mendapatkan rida Allah. Kita berzikir atau membaca Quran, misalnya, tentulah dengan kehendak ingin mendapatkan rida-Nya. Namun, bersamaan dengan itu, sering tanpa kita sadari nafsu justru mendorong kita untuk berlebih-lebihan, sehingga kehendak yang mulia itu malah melenceng melanggar anggar-anggar-Nya.

Kita berzikir atau membaca Quran tidak lagi murni bagi Allah Yang Mahadekat, tetapi kita keraskan suara kita sedemikian rupa seolah-olah kita sedang menyeru orang tuli. Bahkan, di negeri ini, kebiasaan berzikir, membaca Quran, dan sebagainya, dengan pengeras suara sudah merupakan hal jamak lumrah. Tak ada seorang kiai pun yang mengingatkannya.

Saya sendiri pernah menyinggung masalah kemaruk pengeras suara ini, di koran ini. Besoknya ada penelepon yang marah-marah, “MUI saja, Gus Dur saja, tidak mempersoalkan, kok sampeyan mempersoalkan!” Saya mempersoalkan hal ini justru karena MUI dan Gus Dur tidak terang-terangan mempersoalkannya, jawab saya ketika itu.

Biasanya orang yang membenarkan zikir dsb dengan pengeras suara beralasan bahwa itu merupakan syi’ar. Saya tidak tahu apakah maksud mereka dengan syi’ar itu?

Apakah Rasulullah SAW yang melarang berzikir keras-keras itu tidak mengerti syi’ar? Apakah para sahabat, Imam Syafi’i dan ulama-ulama besar yang mengecam zikir dengan suara keras itu tiak mengerti syi’ar?

Lagi pula apakah, karena kita merasa besar, lalu kita merasa merdeka dan menafikkan hak mereka yang lain – sekecil apa pun – untuk tidak diganggu dengan suara-suara keras?

Kehendak untuk diterima amal kita sering juga disusupi nafsu yang samar, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima tanpa mengindahkan hak orang lain untuk berkehendak diterima amalnya. Bahkan, sering karena kita terlalu ingin mendapatkan rida Allah, lalu kita mempersetankan hak orang lain untuk menjadi hamba-Nya sesuai kemampuannya.

Tengoklah mereka yang karena ingin menghormati Ramadan, lalu ingin memaksa para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib melaksanakan puasa pada Ramadan. Di sana ada musafir-musafir yang di perkenankan tidak puasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang malah tidak boleh berpuasa. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum beragama secara batiniah. Dengan demikian, Ramadan tidak begitu saja berlalu sebagaimana momen-momen rutin lain yang tidak membekas.

Apalagi justru menjadikan kita hamba-hamba yang bangga diri terhadap kebesaran semu kita. Selamat berpuasa Ramadan! Semoga Allah mengampuni kekurangan-kekurangan kita dan menerima amal ibadah kita. Amin.

21 Agustus 2009

Marhaban Ya Ramadhan

Oleh: A. Mustofa Bisri


Setiap kali datang bulan Ramadan, kaum muslimin menyambutnya dengan menyatakan ”Marhaban ya Ramadhan!”, ”Selamat Datang, Ramadan!”. Seolah-olah Ramadan merupakan tamu yang dinanti-nantikan kedatangannya.

Tapi tamu yang dinanti-nantikan kedatangannya, belum tentu karena tamunya itu sendiri. Sering kali orang menanti-nanti kedatangan tamu karena mengetahui dan mendambakan apa –atau apa-apa-- yang dibawa si tamu.

Mungkin memang ada yang menanti-nanti datangnya bulan Ramadan karena alasan yang bersifat relegi atau bahkan spiritual; namun banyak yang menyambut bulan itu justru karena keistimewaan-keistimewaan duniawi yang menyertainya. Industri pertelevisian misalnya, jauh-jauh hari –jauh sebelum para kiai pesantren menyusun jadwal pengajian pasanan— sudah menyiapkan jadwal acara yang akan ditayangkan selama bulan Ramadan. Artis-artis dan ustadz-ustadz metropolitan jauh-jauh hari sudah banyak yang dikontrak untuk mengisi acara-acara bulan suci. Pedagang-pedagang jauh-jauh hari sudah ancang-ancang menaikkan harga kebutuhan-kebutuhan pokok, terutama makanan. Ibu-ibu rumah tangga banyak yang sudah menyiapkan menu-menu istimewa yang akan disuguhkan dalam acara-acara buka dan sahur nanti. Instansi-instansi dan ormas-ormas (orpol-opol tentu tidak mau ketinggalan) sudah menyusun agenda buka bersama dengan acara-acara ’kerohanian’ dan atau sekaligus konsolidasi. Bagi mereka yang menjadi calon dan menghadapi pilihan-pilihan --pilkada; pilgub; pileg pilihan legislatif)— bulan Ramadan (ada yang menyebut ’Bulan Kemenangan’) tentulah merupakan medan yang sangat diperhitungkan kaitannya dengan taktik-strategi pemenangan.

Yang mungkin tidak jelas niat dan tujuannya adalah mereka yang menyongsong bulan suci Ramadan ini dengan agenda melakukan swiping, termasuk menswiping warung-warung yang buka di siang hari. Untuk menghormati bulan Ramadan ataukah untuk membantu mereka agar kuat puasa karena tidak banyak godaan?

Tanpa dihormati, bulan Ramadan sudah sangat terhormat. Ramadan sangat terhormat terutama karena pada bulan ini Kitab suci Al-Quran diturunkan (Baca Q. 2: 185). Pada bulan ini, seperti diberitakan oleh Rasulullah SAW, pintu sorga dibuka (HR Bukhori Muslim dari shahabat Abu Hurairah). Justru karena keterhormatan Ramadan itulah, kaum beriman dengan gairah, menunggu-nunggu kedatangannya. Mereka ingin mendapatkan berkahnya. Terloberi keterhormatannya. Pada bulan suci, bulan dimana diturunkan kitab suci ini, mereka ingin benar-benar mensucikan diri; setelah sebelas bulan boleh jadi tergelepoti oleh noda-noda yang menghambat perjalanan mereka menuju hadiratNya.

Pada bulan dimana pintu sorga dibuka, adalah kesempatan emas bagi mereka yang ingin memasukinya. ”Semua umatku masuk sorga;” sabda Rasulullah SAW, ”kecuali mereka yang tidak mau.” Adakah orang yang tidak mau atau tidak ingin masuk sorga? Mungkin setiap mulut akan menjawab, tidak ada. Semua orang mau dan ingin masuk sorga. Hanya saja jawaban mulut ini masih perlu diuji dengan perilaku dan perbuatan. Bila misalnya sorga berada di barat dan Rasulullah SAW menuju kesana; sekalipun Anda mengatakan mau dan ingin masuk sorga, tapi Anda berjalan menuju ke timur, siapakah yang percaya Anda mau dan ingin ke sorga?

Memang mulut kita sering kali berbeda bahkan berlawanan dengan tindakan kita. Mulut kita mengatakan, misalnya, politik itu kotor, tapi kita tak juga beranjak pergi dari kubangan politik. Mulut kita mengkritik dan mengatakan wakil rakyat brengsek, tapi kita terus berlomba mendaftarkan diri jadi calon wakil rakyat. Kita berteriak-teriak hormatilah bulan suci Ramadan, tapi tindakan kita justru menodainya. Tentu karena inilah, kelak di hari kiamat, mulut-mulut kita dikunci dan tangan-tangan kita yang berbicara, kaki-kaki kita yang bersaksi (Baca Q. 36: 65).

Di bulan Ramadan lagi-lagi Allah menunjukkan rahmatNya kepada kita, hamba-hambaNya ini. Ia menjadikan bulan suci ini waktu khusus untuk kita melatih diri menjadi manusia yang lurus dan jujur. Lurus dan jujur kepada diri sendiri dan kepadaNya.
Lurus dan jujur dalam pengabdian. Lurus dan jujur dalam beribadah kepadaNya. Sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri.

Dalam berpuasa, tak ada seorang pun yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau apalagi apakah kita benar-benar berpuasa karena Allah? Tidak ada yang tahu kecuali Allah. Ramadan hanyalah antara kita dan Allah. Maka puasa Ramadan Ia sendiri yang akan mengganjarnya.

Marhaban ya Ramadhan, Selamat Datang Ramadan!

20 Agustus 2009

Indonesia

Ditulis oleh : Goenawan Mohamad

KADANG-KADANG saya berpikir, apa gerangan yang ada dalam pikiran bapak saya beberapa saat sebelum ia ditembak mati. Kadang-kadang saya ingin membayangkan, ia menyebut nama ”Indonesia” di bibirnya, atau ”Indonesia merdeka”, tapi tentu saja ini satu imajinasi klise, dan sebab itu tiap kali muncul cepat-cepat saya stop. Bukan mustahil bapak ketakutan di depan regu tembak pasukan pendudukan Belanda itu. Atau ia pasrah? Yang agaknya pasti, beberapa puluh menit, atau beberapa puluh detik kemudian, seluruh ketakutan (atau sikap pasrah, atau jangan-jangan kecongkakan yang tampil seperti keberanian) pun punah: peluru-peluru menembus batok kepalanya. Darah muncrat, ia roboh, tak akan pernah pulang lagi.

Di tengah perkabungan, seluruh keluarga kami ketakutan dan menangis. Hanya ibu yang teguh: seperti tiang rumah yang ajaib. Ia menangis tapi ia menenangkan kami semua dan mengambil alih persiapan pemakaman dan perkabungan yang tergesa-gesa itu.

Kini saya mencoba mengerti kenapa ibu dapat demikian kuat. Ia mungkin sudah tahu, hidup suaminya akan berakhir seperti itu, atau sedikit lebih baik ketimbang ditembak mati. Ibu telah menyaksikan bapak keluar-masuk penjara; ia bahkan menyertai bapak ke pembuangan nun di Digul, di Papua, yang tak terkirakan jauhnya. Adakah ia ikhlas? Ibu tak pernah berbicara tentang suaminya dengan kekaguman kepada seorang pejuang; ia hanya sesekali berbicara tentang sikap keras hati laki-laki itu: ada saat-saat ia seperti bertapa buat menetralisir musuh-musuhnya (yang tak pernah dijelaskan kepada saya siapa), ada saat-saat ia meninggalkan rumah untuk sebuah rapat gelap di atas perahu, ada saat-saat ia tak putus-putusnya mendengarkan radio. Selama itu, ibu tak pernah berbicara tentang ”Indonesia”.

Barangkali karena bagi generasi aktivis politik masa itu—yang terlibat langsung dalam pergerakan nasional sejak awal abad ke-20—”Indonesia” sudah dengan sendirinya hadir dalam pikiran, sehingga mulut tak perlu mengucapkannya lagi. Atau kata ”Indonesia” dengan sendirinya sebuah perlawanan bagi kata ”Hindia Belanda”. Karena setiap saat dalam aktivitas politik masa itu adalah perlawanan, kata ”Indonesia” sudah tersirat ketika orang siap masuk penjara. Atau dibuang. Atau ditembak mati.

Ibu membesarkan sisa anak-anaknya yang belum dewasa dengan praktis: mereka harus makan dan bersekolah. Hampir hanya itu. Dalam percakapan keluarga kami sama sekali tak ada pesan untuk cinta tanah air. Tapi saya tumbuh, dan saya kira juga saudara-saudara sekandung saya, dengan ingatan tentang bapak—dan bersama itu, diam-diam, ”Indonesia” pun menongkrongi diri kami, melibatkan kami. Artinya jadi sangat berarti. Setidaknya saya tak bisa membayangkan diri saya hidup tanpa pertautan dengan ”Indonesia”.

Saya yakin, saya tak sendirian. Bersama yang lain-lain, saya tak akan bisa merumuskan dengan fasih apa arti ”Indonesia” bagi saya. Tapi saya melihat teman-teman saya yang tanpa merumuskan apa pun berdiri menyanyikan Padamu Negeri seraya siap untuk melakukan tindakan besar bagi orang banyak di negerinya—misalnya melawan mereka yang menindas. Saya melihat Upik dan Udin yang berangkat ke Aceh untuk membantu mereka yang terhantam tsunami dan memasang bendera merah-putih kecil di ransel mereka. Saya mengenal Tati dan Toto yang—meskipun tak menyukai apa saja yang ”politik”—berkaca-kaca matanya ketika mendengar Indonesia Raya dengan musik yang agung.

Apa yang mendorong mereka demikian? Mungkin karena tanah air adalah ingatan dan harapan yang menyangkut tubuh: harum padi yang terkenang, rasa rempah yang membekas, deras arus yang tak bisa dilupakan, suara ayah yang memuji, lagu ibu yang sejuk, batuk kakek, dan cerita-cerita kanak yang mengendap dalam kesadaran. Juga harapan: rumah kelak akan dibangun, anak-anak akan beres bersekolah, karier akan dicapai. Juga harapan akan melakukan sesuatu yang berarti.

Tapi tentu saja ada mereka yang menolak itu semua—atau tak merasa terpaut dengan tanah air yang mana pun. Saya kira, mereka yang bersetia kepada gagasan ”Darul Islam” yang tak berpeta bumi itu adalah contoh yang baik; mereka berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, tanpa bertaut ke masing-masing tempat. Mereka tak bertanah air, sebab tanah air adalah bagian dari bumi dan badan, sedang mereka yakin bahwa hukum—yang bagi mereka adalah segala-galanya—tak terpaut pada bumi dan badan, ruang dan waktu tertentu. Tak akan mengherankan bila ”Indonesia” bagi mereka tak berarti apa-apa. Geografi mereka sederhana: sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh atau wilayah diri. Tak ada yang lain.

Kita tahu mereka siap untuk mati, untuk ditembak mati. Tapi betapa berbedanya dengan mereka yang merasa terpaut dengan sebuah tempat hidup dan tempat mati. Mungkin sekali di depan regu tembak itu bapak saya tak menyebut nama ”Indonesia” dengan tekad utuh. Mungkin sekali ibu saya bekerja dengan tekad untuk anak-anaknya bukan untuk masa depan negeri ini. Tapi bagi saya mereka seperti kebanyakan kita: bagian dari sesama, yang hidup fana, di sebuah masa, di sebuah tempat, dan tak pernah bisa ditiadakan dengan hukum dan senjata.

---------------------------------

~Majalah Tempo Edisi 17 Agustus 2009~

19 Agustus 2009

Rendra, (1935-….)

Oleh Goenawan mohamad

SAYA tak bisa mengerti bagaimana Rendra ”pergi selama-lamanya”, kecuali bahwa jasad itu dimakamkan, 7 Agustus 2009, dalam umur hampir 74. Rendra tak pernah mati: ia telah memberi kita puisi.

Lalu terdengarlah suara

di balik semak itu

sedang bulan merah mabuk

dan angin dari selatan.

Sajak seperti ini ditulis sekitar setengah abad yang lalu. Tapi deskripsinya yang bersahaja dan terang tetap menyembunyikan sesuatu yang seakan-akan baru terungkap secara mendadak buat pertama kalinya hari ini. Rendra menghadirkan yang tak terhingga. ”Tujuh pasang mata peri/terpejam di pohonan”. Imaji seperti itu terus-menerus tak bisa dibekukan oleh tafsir.

Puisi tentu saja bisa beku, juga puisi Rendra. Ini terjadi ketika apa yang tumbuh dan hidup dari dalamnya—yaitu yang fantastis, yang ganjil, yang misterius—ditiadakan. Ini yang terjadi ketika puisi diambil alih perannya oleh ajaran, dengan niat bisa berguna secara efektif. Dan zaman bisa membutuhkan itu: karena keadaan, kita dengan brutal menuntut puisi untuk mati suri.

Saya tak ingin Rendra, yang sebagai penyair rela mengorbankan banyak hal—termasuk apa yang terbaik dari dirinya—harus dikorbankan berkali-kali.

Sebab itu, ketika kini Rendra hanya diingat sebagai suara kritik dan kearifan sosial yang menggugah, saya ingin mengenangnya lebih dari sekadar itu.

-----

Di sekolah menengah pertama sekitar tahun 1955, saya terpesona membaca sajak Litani Domba Yang Kudus di majalah Kisah. Sajak Rendra ini melantunkan pengulangan yang berbunyi seperti dalam doa, tapi juga seperti permainan anak-anak yang tangkas, dengan imaji yang datang dari khazanah yang terasa akrab—yang datang dari latar agama Katolik yang membesarkan sang penyair. Seperti sebuah sajak lain dari masa ini, yang ditulisnya sekitar hari sakramen pernikahannya dengan Sunarti Suwandi:

Di gereja St Josef

tanggal 31 Maret 1959

di pagi yang basah

seorang malaikat telah turun.

Seorang malaikat remaja

dengan rambut keriting

berayun di lidah lonceng.

Maka sambil membuat bahana indah

dinyanyikan masmur

yang mengandung sebuah berita

yang bagus.

Dan kakinya yang putih indah

terjuntai


Suara itu sungguh berbeda dari corak umum puisi tahun 1950-an lain. Puisi Rendra adalah sebuah kecenderungan naratif yang unik, lincah, cerah, dan acap kali amat manis.

Seorang kritikus, Subagio Sastrowardojo, menunjukkan bahwa dalam sajak-sajak Rendra terdapat pengaruh kuat puisi penyair Spanyol Federico Garcia Lorca, yang di Indonesia waktu itu diperkenalkan dengan bagus oleh Ramadhan K.H. Tapi orang juga bisa mengatakan, dalam puisi Rendra masa itu bergema lagu dolanan anak-anak Jawa. Bagi saya itu menunjukkan, tak seperti Chairil Anwar dan Rivai Apin yang berseru memilih laut dan meninggalkan daratan, Rendra—seperti Lorca, seperti dolanan anak-anak dusun—lebih akrab dengan lanskap yang terdiri dari bukit, jalanan, rumpun, daun, dan burung-burung. Dalam buku Empat Kumpulan Sajak, ada kutipan sepucuk suratnya kepada sahabatnya, D.S. Moeljanto, bertahun 1955, yang menyatakan bahwa ia ingin ”tetap bergantung pada daun-daun, dan air sungai”

Bagi Chairil, Rivai, dan Asrul Sani—mungkin karena mereka datang dari lingkungan yang terbentuk oleh adat merantau—laut adalah kemerdekaan, dengan risiko menghadapi malapetaka dan kesendirian. ”Apa di sini,” kata Rivai Apin memaki tanah asal dalam salah satu sajaknya, ”batu semua!”

Puisi Rendra, sebaliknya, tak merayakan laut, tak menggambarkan diri sebagai kelasi yang hanya singgah di bandar asing dengan perempuan yang cukup dipeluk untuk beberapa saat.

Pada 1953, dalam sebuah pidato tentang Chairil Anwar di hadapan ”sastrawan-sastrawan muda Surakarta”, ia mengecam para seniman yang meniru-niru ”jalang”-nya Chairil Anwar. Para pembuntut macam itu, kata Rendra, hanya ”menjalang dengan otak babinya”.

Rendra tak terbatas mengkritik para epigon Chairil Anwar. Terhadap sikap Chairil sendiri ia menarik garis. ”Konsekuensi dari ajakan melepas nafsu Chairil dalam sajaknya Kepada Kawan,” demikian kata Rendra, ”adalah penghapusan undang-undang, yang berarti lebih dahsyat dari bom atom.”

l l l

Pandangan itu kemudian berubah; kita memang tak bisa berbicara tentang satu Rendra. Ia kemudian mempesona kita ketika ia berbicara tentang peran soal ”orang urakan”: orang-orang yang, seperti Ken Arok dalam sejarah, berada di luar ketertiban hukum, bahkan merupakan antitesis dari ketertiban sebagai ideologi yang berkuasa, dan dengan posisi itu, para ”urakan” justru berperan untuk pembaharuan, transformasi sosial, dan pembebasan.

Pada akhirnya, posisi ”urakan” bagi Rendra lebih penting dan lebih menarik ketimbang posisi pembela ketertiban. Meskipun ia tak pernah memaki tanah asal sebagai ”batu semua!” sebagaimana Rivai Apin, ia tak pernah tergerak untuk mensakralkan tempat tinggal, rumah, dan negeri asal.

Hubungannya dengan tradisi, dalam hal ini tradisi Jawa, tak akrab. Baginya kebudayaan Jawa adalah sebuah ”kebudayaan kasur tua”: sebuah tempat mandek yang hanya enak buat tidur nyenyak.

Tapi ia melihat tradisi dan masa lalu tak satu. Masa lalu yang dikecamnya adalah ”kebudayaan Jawa baru, yang kira-kira dimulai abad ke-18 atau akhir abad ke-17”. Ada masa lalu lain, yang menurut Rendra dilupakan orang Jawa sendiri. Dalam ”tembang-tembang kuno,” katanya, ”ada ajaran yang mengajak kita untuk mandiri, untuk berdiri sendiri, untuk mengada.”

Rendra tak menyebut dengan jelas ”tembang kuno” mana yang mengajarkan demikian. Ia hanya menyebut kisah Dewa Ruci, kisah tentang Bhima yang mencari dan kemudian menemukan ”dirinya sendiri”. Agaknya yang jadi soal bukanlah tradisi itu sendiri, tapi kemandekan yang mencekik individu. Dalam kebudayaan tradisional yang ada, kata Rendra, ”individu belum diketemukan”.

Pada 1967 ia pergi ke Amerika Serikat, dan hidup di Kota New York. Dari sana datang beberapa puisinya yang matang dan memukau, yang terkumpul dalam Blues Untuk Bonnie. Dalam sepucuk surat yang ditulisnya dari sana, bertanggal 29 Mei 1967, ia mengatakan, ”Perubahan terjadi di dalam saya…. Adapun yang paling memberikan kesan pada kesadaran saya dewasa ini ialah ilmu pengetahuan. Saya merasakan ini sebagai imbangan yang sehat untuk kesadaran mistik dan seni yang ada dalam diri saya”.

Dari sini ia berbicara untuk melaksanakan ”firman modernisasi”. Ia bersuara tentang agar orang Indonesia ”melawan alam”. Ini ditandaskannya kembali ketika ia, bersama awak Bengkel Teater Yogya memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 1969. Ia berpidato dengan teks yang ditulis tangan. Ia berbicara bagaimana di Barat kehidupan diatur oleh mesin bikinan manusia, dan bagaimana di Indonesia individu bagaikan sekrup dan gotri yang ditentukan perannya oleh semacam mesin lain, yakni alam. Individu tak bisa merdeka, katanya, karena seluruh hidupnya hanya merupakan onderdil yang sudah ditetapkan status dan tugasnya dalam tradisi. Panggilan zaman yang sekarang adalah melawannya, kata Rendra.

Di sini ada gema yang kembali dari pemikiran yang dibawakan para sastrawan pada 1930-an, terutama oleh S. Takdir Alisjahbana. Suara itu kemudian dilanjutkan Soedjatmoko ketika menulis pengantar buat majalah Konfrontasi pada 1955: ia menjelaskan kenapa harus ada ”konfrontasi” dengan ”faktor-faktor kebudayaan” yang tidak mendukung pembangunan bangsa. Rendra meneruskan ”firman modernisasi” itu.

Tapi dunia modern, sebagaimana dicemaskan Sanusi Pane, seorang penganut Theosofi yang memuja masa lalu India, punya sisi gelap. Tak ada yang baru di sini: Max Weber meramalkan bahwa ”akal instrumental” yang memacu dunia modern pada akhirnya akan membawa manusia ke dalam ”kerangkeng besi”. Mazhab Frankfurt melihat ”Pencerahan” yang membawa ”firman modernisasi” pada akhirnya melahirkan penindasan.

Sanusi Pane memandang sisi gelap itu seraya memegang gambaran tentang ”Timur” dalam idealisasi kaum Orientalis. Akhirnya, sebagai kelanjutan sikap ”anti-Barat”, penyair Madah Kelana itu memuja semangat Jepang yang fasistis.

Berbeda dari Sanusi, kaum intelijensia Indonesia yang hidup dalam dasawarsa 1970 dan 1980 punya acuan lain.

Inilah masa ketika Soedjatmoko, yang agaknya terpengaruh oleh Schumacher, dan Schumacher yang terpengaruh oleh Buddhisme, berbicara tentang perlunya ”teknologi madya”. Ini juga masa ketika Arief Budiman mengedepankan ”teori dependenzia” yang mengecam ”ketergantungan” Dunia Ketiga kepada modal. Ini juga masa ketika Rendra mementaskan Mastodon dan Burung Kondor serta Perjuangan Suku Naga, yang mengkritik ”pembangunanisme” kekuasaan ”Orde Baru”.

Tampak ada perubahan yang tajam dari seruan ”modernisasi” dan ”melawan alam” yang ditulisnya pada akhir 1960-an. Saya tak tahu, adakah perubahan itu mendasar sifatnya dan akan menetap. Dunia sedang bergeser lagi. Semangat ”teknologi madya” yang merupakan ”Gandhisme baru” tampaknya tak bergema lagi, mungkin karena dari ide itu tak ada jawaban bagaimana negeri-negeri miskin akan bertahan menghadapi negeri yang memakai teknologi tinggi. Teori ”dependenzia” sudah ditinggalkan para teoretikusnya sendiri di Amerika Latin. Pembangunan sosialis model RRC zaman Mao digantikan pembangunan ala borjuis dengan gegap-gempita dan mencengangkan dunia.

Rendra belum menjawab pergeseran besar ini. Tapi ia telah memberi kita sebuah kearifan yang boleh dibilang inti dari ”firman modernisasi” yang sering dilupakan. Kearifan itu tersirat dari kata-katanya: ”Kreativitas saya adalah kreativitas orang yang bertanya pada kehidupan.”

---

Puisi bukanlah sebuah pertanyaan, tapi puisi tak ingin menjebak kita dengan jawaban. Seorang penyair akan merasakan gundah ketika orang ramai menuntutnya jadi pemberi fatwa.

Rendra—di pentas selalu karismatis, suaranya memukau—akan dengan gampang berada dalam status itu: seorang penyair yang jadi intelektual publik karena keadaan yang tertekan memaksanya demikian, dan seorang intelektual publik yang kata-katanya berubah jadi khotbah karena orang ramai—dengan dorongan tersendiri— mendesaknya.

Saya kira ada kegundahan itu dalam Khotbah, salah satu sajak yang akan kekal dalam sejarah kesusastraan mana pun.

Fantastis.

Di satu Minggu siang yang panas

di gereja yang penuh orangnya

seorang padri muda berdiri di mimbar.

Wajahnya molek dan suci

matanya manis seperti mata kelinci

dan ia mengangkat kedua tangannya

yang bersih halus bagai leli

lalu berkata:

”Sekarang kita bubaran

Hari ini khotbah tak ada”.


Tapi orang-orang tak beranjak. Mereka tetap berdesak-desakan. Mata mereka menatap bertanya-tanya. Mereka ingin benar mendengar. Mereka pun berdesah, barbareng, dengan suara aneh. Padri itu menyaksikan semua itu dengan cemas:

”Lihatlah aku masih muda.

Biarkan aku menjaga sukmaku.

Silakan bubar.

Ijinkan aku memuliakan kesucian.

Aku akan kembali ke biara

Merenungkan keindahan Ilahi.”

Tapi orang banyak itu tak membiarkannya. Mereka tak mau bubar. Mereka akhirnya mendesak, dan dalam sebuah orgi yang buas dan bernafsu, memperkosa sang padri, mencincang dagingnya, memakannya, dalam suara gemuruh, ”cha-cha-cha, cha-cha-cha…”

Fantastis.

Jakarta, 8 Agustus 2009

~Majalah Tempo Edisi 8 Agustus 2009~