OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

Tampilkan postingan dengan label Cak Nun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cak Nun. Tampilkan semua postingan

18 Februari 2010

Bakso Khalifatullah

Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”

“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.

14 Februari 2010

”Islamic Valentine Day”


Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi.Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari ”agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entiti, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam.Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

01 Februari 2010

Toko Dalam Toko Kelontong

Agama Versi Emha Ainun Nadjib

Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar, sering saya bertanya kepada forum: "Apakah anda punya tetangga?"
Dijawab serentak "Tentu punya."
"Punya istri enggak tetangga Anda?"
"Ya, punya doooong."
"Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?"
"Secara khusus, tak pernah melihat."
"Jari-jari kakinya lima atau tujuh?"
"Tidak pernah memperhatikan."
"Body-nya sexy enggak?" Hadirin tertawa lepas.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka: "Sexy atau tidak, bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja. Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong- omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati.

25 Agustus 2009

Mimpi Setiap Orang

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Dalam waktu tak lebih dari dua malam, manusia di bulatan bumi ini seluruhnya menjadi gempar. Mereka kaget, takjub dan dibikin tidak mengerti oleh satu hal yang sama. Maka ributlah bumi, di bagian mana saja, yang di pusat atau yang di pelosok, oleh pergunjingan satu topic yang sama.

Ini jelas untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah dengan penuh gairah mengenyam dan mencatat kejutan ini di atas tinta mutiara. Segala mulut dan segala mass media sibuk mencari kata-kata dan kalimat yang tepat, yang artistik dan spektakuler untuk mengabadikannya. Sebenarnya pada mulanya hanya terjadi di sebuah kampung. Bahkan di sebuah pojok yang menjadi bagian kecil dari kampung. Seseorang, laki-laki tua, pagi-pagi buta berkata kepada istrinya:

"Hebat! Semalam aku bermimpi sensasionil. Entah bagaimana bentuk kisahnya yang Jelas. Tapi yang kuingat, Tuhan mulai hari ini menutup rapat-rapat pintu-Nya."

"He?" istrinya terbelalak, "Aku juga bermimpi demikian. Aku melihat mendadak di langit muncul makhluk aneh yang amat besar, membawa terompet yang juga amat besar ukurannya mengumandangkan suara ke segala penjuru bahwa Tuhan telah menutup pintu-Nya!”

Belum selesai keheranan sang suami. muncul menantunya dan menceritakan pengalaman yang sama. Belum sempat lagi menguraikan apa yang sesungguhnya terjadi, datang tetangga, bertanya apa bisa masuk nalar mimpinya semalam bahwa Tuhan menutup pintu. Maka kemudian menjalarlah keheranan demi keheranan. Ketakjuban demi ketakjuban. Meskipun dengan cerita mimpi yang berbeda-beda, tetapi kesimpulannya semua sama, Beberapa saat kemudian di seluruh kampung orang dipersatukan oleh rasa takjub yang sama. Dan seterusnya. tanpa terasa seluruh daerah, seluruh kota, seluruh negara, seluruh benua dan seluruh dunia, diikat oleh pergunjingan tetangga tentang masalah yang sama. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua malam. Bahkan bisa dikatakan sehari semalam, yakni sepanjang matahari beredar mengelilingi bumi, ketika semua manusia di seluruh bulatan bumi punya satu kali kesempatan untuk bangun pagi. Hanya saja hal tersebut menjadi kesadaran internasional, ditempuh dalam waktu dua hari dua malam. Maklumlah peradaban ummat manusia sudah demikian maju. Jaringan komunikasi sudah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga mampu mengedari bumi dan mengikat kesadaran bersama hanya dalam waktu yang teramat singkat.

Pada detik-detik berikutnya kesibukan rasa takjub itu mulai meningkat ke proses yang lebih jauh dan dalam. Segala topik yang semula menggunjing dunia, umpamanya soal perang yang tak kunjung selesai atau peristiwa olah raga internasional, terhapus secara mendadak oleh kejutan ini. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin, kata setiap orang. Sejak dari rakyat paling kecil, bodoh dan buta huruf, sampai pada pemimpin-pemimpin negara atau pemuka agama, tidak ada satu pun yang absen memperbincangkannya, menguraikannnya, menilainya, mengira-ngira, menyimpulkan atau setidaknya menawarkan kemungkinan. Ada yang menggunakan cara berpikir yang ilmiah, ada yang lugu, ada yang menangkapnya secara mistis, serta ada juga yang menggabungkan antara kepercayaan yang diperolehnya dari agama dengan tuduhan-tuduhan vang dahsyat terhadap dosa-dosa manusia selama sekian abad di dunia. Tetapi yang jelas tidak ada seorang pun berani acuh atau meremehkannya. Ia menjadi masalah semua etnis dan tingkat manusia. Sejak kuli di pelabuhan, babu Cina, pencari puntung, pedagang kaki lima, guru sekolah, pemain teater, pengkhothah, sampal pegawai negeri dan gerilyawan-gerilyawan di hutan-hutan. Masalah ini segera menumbuhkan berbagai macam reaksi, di samping reaksi pikiran, yang terlebih lagi ialah reaksi perasaan. Umumnya manusia dihinggapi rasa panik, cemas, minimal khawatir.

"Ini peringatan bagi keserakahan manusia selama ini" kata seorang pemeluk agama yang patuh.

“Tanda mau kiamat” ujar lainnya.

"Tuhan tak sudi lagi mengundurkan hukuman sampai hari akhir kelak di neraka, tapi menunjukkan menunjukkan kekuasaannya sekarang”.

Semua bernada sama. Rupanya tidak perduli seseorang punya ideologis, posisi sosial atau jabatan apa, semuanya langsung tertusuk kemanusiaannya oleh kejadian dramatis ini. Ada yang sekaligus menyalahkan para pengkhianat, orang-orang murtad, penjahat-penjahat, para pelacur yang menjual tubuhnya maupun keyakinannya, kaum munafik, penindas rakyat, penjilat, pengingkar sembahyang, orang-orang yang tidak setia pada tanggung jawabnya serta mereka yang mengeksploatir kedudukan untuk memenuhi nafsu keduniaannya. Ada juga yang langsung mengarahkan tudingannya ke para pemimpin dunia, yang dianggap penentu dari segala keadaan dan akibat-akibatnya dalam kehidupan seluruh dunia. Ada yang menyalahkan negara-negara penjajah, ambisius dan imperialism Ada yang menyalahkan para pemegang sumber arah kebudayaan, menyalahkan kebijaksanaannya yang ternyata menyesatkan hidup dan menumbuhkan ketidak-seimbangan-ketidak-seimbangan. Tetapi dari kesemuanya, bisa ditarik garis besar yang sama. ialah nada pertobatan, rasa dosa dan kesadaran untuk menyesali masa silam yang penuh noda.

Hanya negara-negara yang rakyatnya selama ini mengaku tidak ber-Tuhan saja yang bereaksi minir. Mula-mula mereka menuduh sementara negara raksasa di dunialah yang membikin kejadian ini, dengan cara menciptakan komputer yang bisa mensugesti situasi kejiwaan ummat manusia seluruh dunia, untuk merasakan dan mengalami wujud mimpi yang sama. Mereka mengatakan, negara raksasa itu punya maksud ideologis-politis yang bertujuan mempengaruhi alam jiwa rakyat yang tak ber-Tuhan. Disimpulkannya bahwa tindakan tersebut sesungguhnya merupakan serangan perang. Dan hampir saja tuduhan ini menyebabkan tak ber-Tuhan itu memutuskan untuk menyelenggarakan serangan balasan. Namun akhirnya rencana itu dipertimbangkan kembali setelah dilihatnya gejala universal yang terjadi pada segala macam jenis manusia di muka bumi. Bahkan akhirnya serangan tersebut dibatalkan sama sekali ketika muncul rencana lain yang bersifat internasional.

Rencana ini merupakan langkah raksasa berikutnya dari sejarah ummat manusia, sehingga serangan negara tak ber-Tuhan itu sungguh-sungguh kehilangan alasan untuk untuk benar-benar dilaksanakan.

Dipelopori oleh pemimpin-pemimpin dari negara tertuduh itu, para pemuka seluruh negara yang ada di muka bumi, bersidang bersama. Suasana prihatin dan wajah-wajah pucat penuh penyesalan dan rasa cemas, memenuhi ruang sidang tersebut. Agaknnya hantaman kejadian itu sedemikian perkasa dan mendalam di hati jiwa semua manusia, sehingga sidang itu berlangsung tidak terlalu lama, tetapi berhasil menelorkan keputusan yang sungguh-sungguh merupakan kejutan.

Diputuskanlah oleh sidang internasional itu: ummat manusia seluruh dunia mengutus minimal sepuluh wakil untuk menghadap ke istana Tuhan. Perutusan ini bertugas untuk menanyakan kepada Tuhan apakah benar beliau telah menutup pintunya bagi manusia. Jika beliau berkenan meninjau kembali keputusannya ini, maka seluruh ummat manusia bersedia bersujud sebulan siang malam penuh dengan maksud memohon ampunan, kemudian bersumpah hendak memperbaiki segala segi kehidupan di muka bumi. Negara-negara bersedia menghentikan perang. Semua negara di dunia bersahabat sehidup semati dan selalu mempertimbangkan kepentingan dan keseimbangan kehidupan seluruh penduduk dunia secara merata. Tidak ada lagi yang memonopoli. Tidak ada lagi raksasa dunia sementara ada juga negara teri dunia. Akan diusahakan pemerataan kekayaan sehingga sungguh-sungguh bisa dicapai keseimbangan taraf hidup antara seluruh rakyat bumi yang ada. Negara-negara dunia berjanji akan senantiasa memohon petunjuk Tuhan di dalam menciptakan tatanantatanan internasional, baik dalam segi politik, perekonomian, sosial maupun budaya. Tidak ada lagi penjajah, imperialism zionis, monopoli, penindas atau penipu. Kehidupan dunia diatur paling utama oleh kesadaran internasional, sehingga tidak ada lagi pertentangan antara kepentingan-kepentingan yang lebih kecil dari kesatuan dunia. Kadar kecintaan antarmanusia ditingkatkan sampai taraf yang setinggi-tingginya dan memadai, agar dunia tidak bingung lagi memilih antara sistem liberalis atau disiplin pemerataan teknis. Pada pokoknya segala peri kehidupan ummat manusia dijamin dilaksanakan sebaik-baiknya, dengan mempertimbangkan secara seksama dan adil antara kepentingan individu dan kepentingan bersama.

Seluruh manusia di dunia mengutus kesepuluh delegasi tersebut dengan membawa borg semacam itu. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa mereka ternyata memiliki kesadaran akan masa depan. Mereka memperhitungkan, jika manusia tidak memberi janji semacam itu tak akan butuh waktu lama Tuhan pasti menurunkan keajaiban yang baru. Sedang keajaiban mimpi saja sudah memberi akibat internasional sedemikian rupa. Coba bayangkan kalau kejutan itu berupa bencana-bencana. Umpamanya hujan deras turun sebulan penuh di seluruh muka bumi, muncul di mana-mana hama-hama ganas, tanah longsor atau gunung-gunung meletus. Bahkan yang lebih ajaib lagi. Tuhan gampang saja melakukan semua. Apalagi jika Beliau telah murka.

Sesungguhnya keputusan ini sama sekali tidak masuk akalnya dengan kejutan mimpi itu sendiri. Selama ini semua manusia yakin bahwa Tuhan tak mungkin bisa ditemui. Maksudnya manusia tak mungkin mampu memandang beliau. Nabi Musa saja pingsan. Apalagi kyai atau pendeta zaman sekarang. Dan diantara kesepuluh perutusan itu paling banyak memang terdiri atas para kyai, pendeta dan biksu. Mereka dianggap paling punya relasi terdekat dengan Tuhan.

Tak banyak cingcong. Pada hari kesebelas dari peristiwa mimpi itu, perutusan diberangkatkan. Maksudnya, diterbangkan. Yakni dari pusat penerbangan sebuah negara raksasa, dengan menggunakan pesawat Bouraq. Tentu saja ini bukan bouraq asli yang dulu dicarter oleh Nabi Muhammad ke sidratul muntaha bermikraj. Melainkan bouraq imitasi. Apa boleh buat. Apa yang dibikin manusia memang serba imitasi. Iman mereka pun imitasi. Habis bagaimana mungkin menciptakan bouraq asli.

Hari itupun sibuklah. Jutaan manusia berduyur-duyun mendatangi pusat penerbangan yang ditentukan. Rakyat di daerah sekeliling tempat tersebut tak seorang pun yang tak hadir. Sedang rakyat dari negara-negara lain, paling tidak mengutus wakil-wakilnya.

Kesepuluh utusan telah muncul di depan khalayak. Berpakaian antariksawan. Sebenarnya agak kaku dan geli juga seorang kyai atau biksu memakai pakaian semacam itu. Tetapi suasana tak memberi kesempatan mereka untuk tersenyum saja pun. Wajah upacara pemberangkatan itu demikian sendu, pucat dan sarat kecemasan. Airmuka para utusan, terutama, digenangi tangis. Mereka dibebani tugas yang luhur dari sekian milyard penduduk dunia. Mereka diharapkan mampu melancarkan taktik diplomasi yang jitu terhadap Tuhan, demi nasib seluruh ummat manusia. Kesepuluh orang itu gemetar. Hati mereka menggigil dan air mata mereka tak habis-habisnya mengalir. Demikian juga krew yang mengelola pemberangkatan itu, maupun rakyat yang berjejai-jejal. Hujan tangis. Hujan tangis.

"Wahai rakyat dunia yang tercinta!" berkata seorang pemimpin dunia. la berdiri di mimbar yang mengatasi seluruh hadirin. Matanya berkaca-kaca. Pakaiannya begitu lusuh. la tak sempat mengurusnya karena konsentrasinya yang penuh dalam memikirkan nasib ummat manusia.

"Utusan ummat manusia seluruh dunia akan segera berangkat ke istana Tuhan. Marilah kita antarkan mereka dengan air mata (dan doa, sebab itulah yang pertama-tama diajukan kepada Tuhan, untuk mengawali segala permohonan tulus umat manusia. Marilah berdoa agar beliau merasa terharu dan tersentuh hatinya melihat nasib seluruh umat manusia”.

Seluruh hadirin menundukkan kepala. Untuk kesekian kalinya mereka menangis. Kemudian mereka saling berangkulan dengan gemetar dan penuh keharuan.

Pesawat Bouraq pun akhirnya meluncur. Seluruh hadirin bagai hendak memekik hatinya. Tapi mereka hanya berkaca-kaca memandang kepul asap yang menjadi bayangan ekor perutusan mereka. Kemudian, tetap dalam suasana sendu dan penuh tangis. Mereka berduyun-duyun meninggalkan pusat penerbangan. Setiap orang menundukkan kepala.

Sesampainya di rumah pun mereka tidak banyak berbicara. Di seluruh muka bumi, umumnya orang tidak banyak melakukan pekerjaan. Mereka lebih banyak diam, merenung dan sebanyak mungkin menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan. Kehidupan bisa dikatakan macet, kecuali kegiatan makan, minum, berak dan tidur. Radio-radio dan TV sedikit sekali mengudara. Sesekali muncul hanya mempertunjukkan acara-acara ketuhanan. Pengajian Al-Qur'an atau lagu-lagu gereja. Koran-koran hanya memuat tulisan rohaniah, ulasan situasi yang lebih merupakan penyesalan dan doa mohon ampun kepada Tuhan. Kantor-kantor negara atau perusahaan tetap buka, tetapi dipenuhi oleh aktivitas yang nanggung. Antara sedikit kerja, keragu-raguan dan perenungan kembali. Setiap sendi kehidupan, jaringan masyarakat, pos-pos usaha dan seterusnva, pada umumnva bersikap menunggu. Bahkan ada yang tutup sama sekali. Sebab semua memperhitungkan, dalam waktu seminggu utusan mereka sudah akan kembali dan membawa kabar dari Tuhan. Kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari memang agak sedikit terbengkalai oleh macetnya pos-pos kehidupan masyarakat. Tetapi pada umumnya mereka bersedia agak berlapar-lapar sedikit, serta rela untuk tidak menggunakan fasilitas dan kesempatan seperti biasanya. Pengorbanan itu mereka persembahkan kepada Tuhan.

Akan tetapi setelah waktu berlangsung seminggu, kecemasan baru mulai timbul. Utusan belum juga datang. Ditunggu lagi sehari, dua hari, dan akhirnya sampai seminggu, sebulan kemudian tiga bulan. ini celaka. Kehidupan tidak bisa lagi menunggu. Kemacetan penghidupan rakyat bisa-bisa tak terkuasai lagi. Sirkulasi antara bidang-bidang usaha dan bidang-bidang pemakaian tak bisa terus-menerus diistirahatkan. Segala sistem yang tersedia musti aktif kembali agar kehidupan penduduk dunia bisa dipelihara. Namun demikian akibat-akibat dari kemandegan sementara itu sudah amat luas terasa. Kesejahteraan mulai jauh berkurang. Mekanisme tersebut sendat. Fasilitas-fasilitas sudah jauh berkurang. Kemacetan-kemacetan dan keterbengkalaian-keterbengkalaian berlangsung di mana-mana. Rakyat dunia bingung.

Akhirnya dua hal muncul. Pertama, dunia berpikir untuk mengirimkan utusan lagi ke istana Tuhan. Dan kedua, mobilisasi kembali segala mekanisme kehidupan dan penghidupan di dunia seperti waktu-waktu sebelum terjadi peristiwa ini. Sebabnya jelas, manusia tak bisa tak makan. Dunia tak bisa tak hidup.

Utusan kedua akhirnva diberangkatkan Juga. Di antaranya oleh kesenduan yang sama seperti yang pertama, ditambah kebingungan baru. Rakyat dunia kini terjepit. Antara keharusan untuk tetap bisa makan dan hidup, dengan tidak bisa dielakkannya pembikinan dosa-dosa baru. Memang secara langsung. individu-individu manusia tetap tak berani melakukan kejahatan-kejahatan atau segala pekerjaan yang mengindikasikan dosa dan murka Tuhan. Tetapi celakanya, banyak sekali sistem dan sarana pengelolaan hidup manusia secara keseluruhan yang mengandung dosa-dosa, kini tidak bisa tidak harus diaktifkan kembali. Misainya sistem perekonomian, sistem sosial dan lain sebagainya. Yang lebih konkrit umpamanya sarana seperti nite klub atau lokalisasi penjualan daging wanita, ini memang sarang dosa, tetapi tak lain adalah juga lapangan pekerjaan di mana hidup sekian banyak orang ditentukan. Secara keseluruhan sarana semacam ini tak mungkin dihapuskan untuk tidak menjadi arena pembunuhan nyawa manusia. Kemudian masih banyak lagi hal-hal semacam itu. Satu contoh lagi saja, misalnya sistem politik dengan jaringan birokrasinya. Selama ini ia menjadi penyebab dosa-dosa. Sekarang tak mungkin merombaknya hanya dalam waktu sebulan dua bulan sekadar untuk menghindarkan mereka dari kemungkinan dosa. Sebab pada awal perombakannya saja jelas pelaku atau pejabat-pejabat yang duduk di situ sudah akan terlantar dan bisa-bisa mati.

Maka dunia dilanda kegoncangan. Ketika waktu demi waktu makin berjalan, ketika utusan kedua tak juga kembali dan utusan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya yang dikirim tak kunjung balik, maka mekanisme kehidupan dunia benar-benar telah kembali sebagaimana semula. Negara-negara kuat, demi kelangsungan kepentingan politik-ekonomisnya, kembali menjalankan proyek-proyeknya semula. Umpamanya penguasaan tiranis maupun samar atas negara lain. Penjajahan-penjajahan kembali berlangsung. Penyelewengan dan penipuan tak bisa dihindarkan. Dan seterusnya. Bahkan sekarang lebih kacau balau lagi. Karena utusan demi utusan yang dikirim ke Tuhan tidak lain terdiri atas orang-orang, terpenting didunia.

Sudah sewajarnya kalau akhirnya dunia kehabisan orang-orang terkemukanya, Kehabisan orang-orang baik. Kehabisan orang-orang pintar. Kehabisan tenaga-tenaga yang mampu memegang kehidupan dunia. Akhirnya segalanya tidak bisa dipertahankan lagi. Kejahatan rnakin kasar dan brutal. Penindasan makin blak-blakan. Kekuatan fisik kembali menentukan kekuasaan. Peperangan demi peperangan tak bisa dibendung. Tidak saja antara negara, tetapi juga antara tetangga. Peri kehidupan manusia primitif kini kembali terulang.

Akan tetapi, alkisah, ternyata para utusan yang itu punya kisah tersendiri. Utusan yang pertama sebenarnya sudah sampai ke depan pintu gerbang istana Tuhan, tetapi pintunya dalam keadaan tertutup. Mereka ketuk pintu itu berkali-kali, tapi tak satu malaikat pun muncul membukakannya. Para kyai dan pendeta dan biksu itu kebingungan. Mereka bertugas untuk melakukan diplomasi dengan Tuhan. Jika tidak berhasil melakukannya, mereka tentu saja tak berani kembali. Akhirnya, setelah melewati musyawarah dan perdebatan yang panjang lebar, tak berhasil mereka temukan keputusan apa-apa. Jadi rnereka tertegun saja berbulan-bulan lamanya di depan pintu itu. Sampai akhirnya datang utusan kedua. ketiga, keernpat dan seterusnya. Semuanya tertegun. Semuanya berdiam diri di depan pintu.

Salah seorang anggota perutusan terakhir, melaporkan kepada rekan-rekannya: "Kehidupan di bumi kita makin rusak. Tak mungkin dikendalikan lagi. Apalagi diperbaiki."

Semua menunduk.

"Apakah Tuhan benar-benar telah menutup pintu?"**** (emha, 70-an)

24 Agustus 2009

Bulan Purnama Rendra

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Rendra. Malam Jumat, di bawah cahaya bulan purnama. Orang besar itu telah pergi dengan gagah sebagaimana ajarannya: ''gagah dalam kemiskinan''. Istrinya, Ken Zuraida, menyatakan ''ia sangat bahagia'', meskipun pasti bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam ''derita manusiawi'' yang membungkusnya.

Ini adalah puncak tangis mengguguk-guguk seorang pecinta yang air matanya tumpah di ufuk kesadaran tentang nyawiji. Selama sakit di pembaringan, Rendra selalu spontan menyebut, ''Ya Lathif, wahai Yang Mahalembut." Di saat-saat paling menderita oleh sakitnya, ia meneguhkan hatinya dengan ''Qul huwal-Lahu Ahad, Allahus-Shamad....'' Setengah sadar, sambil saya genggam tangan kirinya, saya minta ia menambahi, ''Mas, ucapkan juga Qul Huwal-Lahu Wahid....''

Ia berbisik, ''Apa bedanya Ahad dengan Wahid, Nun'', saya jawab, ''Mas, Ahad itu Allah yang tunggal, yang satu, yang gagah perkasa dengan maha-eksistensi-Nya. Wahid itu Allah yang manunggal, yang menyatu, yang integral, yang merendahkan diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya, nyawiji....'' Meledak tangis Rendra dalam rasa dan kesadaran bahwa ia tak berjarak dengan-Nya dan Ia tak berjarak dengan dirinya. Tatkala mereda gejolak hatinya, Rendra menorehkan puisi yang diakhiri dengan kalimat, ''Tuhan, aku cinta pada-Mu."

Maka, Rendra tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Rendra memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya, karena kita meletakkan diri semakin jauh dari titik nyawiji yang Rendra sudah lama menikmatinya.

***

Tapi sudah pasti kemudian terdengar suara dari seluruh penjuru: ''Kita sangat kehilangan'', ''Bangsa kita ditinggalkan lagi oleh salah seorang putra terbaiknya'', atau ''Tidak. Rendra tak pernah pergi. Orang besar tak pernah mati''.

Bisa jadi, pekikan-pekikan hati itu sebenarnya tidak terutama tentang Rendra, melainkan lebih terkait dengan kandungan batin kita sendiri. Semua pernyataan itu sangat memancarkan kedalaman cinta, semangat mempertahankan optimisme ke depan. Mungkin juga diam-diam terdapat kandungan kecemasan dan kebingungan dari dalam ego kita sendiri.

Terutama bagi orang yang semakin berangkat tua seperti saya: mengibarkan kehidupan Rendra pada momentum kematiannya sesungguhnya diam-diam sangat tajam mencerminkan kengerian terhadap kehidupan dan kematian saya sendiri. Kita berduyun-duyun menghadiri pemakamannya, mungkin untuk menyatakan kepada Tuhan betapa cintanya kita kepada kehidupan kita dan betapa khawatirnya kita akan datangnya maut sewaktu-waktu atas kita.

Mungkin terdapat semacam raungan di kandungan jiwa setiap pen-takziyah pemakaman Rendra. Raungan panjang seperti puisi "Rick dari Corona'' atau ''Khotbah''. Tetapi mungkin berakhir sublim dan mengkristal menjadi Drama Mini Kata Rendra: ''Bip Bop'', ''Rambate Rate Rata''....

Sementara bagi para pen-takziyah yang muda-muda, yang menyangka bahwa maut ada kaitannya dengan muda dan tua, di kompleks Bengkel Teater meneriakkan puisi-puisi perjuangan, mengibarkan kepercayaan di dalam diri mereka bahwa kepergian Rendra bukanlah sirnanya perjuangan sosial, progresivisme ideologi nasional dan martabat kemanusiaan. Mereka seolah menghadirkan kembali panggung ''Mastodon dan Burung Kondor'', ''Sekda'', bahkan ''Kasidah Barzanji'', hingga puisi ''Orang Miskin di Jalan'', ''Bersatulah Pelacur-pelacur Ibukota'', ''Seonggok Jagung di Kamar''.

***

Wahai maut, siapakah engkau? ''Bukan kematian benar menusuk kalbu,'' kata Chairil Anwar, penyair terbesar Indonesia di samping Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. ''Keridaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu. Dan duka Maha Tuan bertahta...."

Tuhan tak sudi dipergoki. Takdir-Nya tak bisa dicegat. Kehendak-Nya tak mungkin dibatasi. Hak-Nya atas misteri garis terang dan gelap kehidupan, serta atas ketentuan detik maut dihadirkan, tak membuka diri sedikit pun untuk dirumuskan oleh segala ilmu dan pengalaman. Kehidupan sangat mengaitkan sakit dengan kematian, tetapi maut tidak bersedia dikaitkan dengan sakit.

Orang bisa sakit berkepanjangan tanpa kunjung maut menjemputnya. Orang sehat walafiat bisa mendadak dihadang oleh kematian. Rendra dipanggil Allah tidak berdasar akselerasi logis dari sakit demi sakit yang dideritanya: pikiran yang memberat, jantung bekerja terlalu keras, ginjal menanggung akibatnya, kemudian tiba-tiba demam berdarah menelusup ke darahnya dan menganiaya jiwanya.

Keadaannya justru membaik, sehingga diperkenankan keluar dari rumah sakit, kemudian menempuh jalan yang ia menyebutnya: ''Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimia. Aku ingin kembali kepada jalan alam. Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah. Tuhan, aku cinta pada-Mu'' (31 Juli 2009).

Rasulullah Muhammad SAW menderita panas badan yang sangat luar biasa melebihi kebanyakan orang. Beliau menjawab pertanyaan salah seorang sahabatnya tentang panas yang ekstra itu: bahwa beliau dibebani Allah tanggung jawab sangat besar melampaui semua yang lain, sehingga Tuhan menganugerahkan juga kemuliaan yang sangat tinggi melebihi siapa pun, tetapi harus juga beliau tanggung panas yang amat tinggi dan dahsyat yang orang lain tak menanggungnya.

Demikianlah juga kadar derita sakit yang dialami Rendra, takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya, yang khalayak ramai tidak perlu mengetahui atau turut menghayatinya. Rendra bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam rahasia. Bahkan lautan kebahagiaan dan kemuliaan Rendra tidak perlu ''digarami'' oleh pernyataan pers Presiden Republik Indonesia sebagaimana Mbah Surip dianggap memerlukannya.

Pada hari wafatnya Rendra, di samping menikmati pemandangan indahnya kemuliaan rahasia Rendra itu, saya mendapat cipratan anugerah yang lain: menyaksikan seseorang menginfakkan Rp 6,1 trilyun --dengan Allah merebut seluruh kemuliaan hamba-Nya itu-- dengan cara membiarkan sesama manusia justru memperhinakannya. Alangkah anehnya metode cinta Tuhan.

Di hadapan akal sehat, presiden berpidato untuk wafatnya Mbah Surip tapi tidak untuk wafatnya Rendra adalah kehancuran logika dan kebangkrutan parameter nilai budaya. Tapi, di hadapan karamah Allah, itu justru keindahan yang spesifik. SBY bikin stempel tegas atas dirinya sendiri.

Ini sama sekali bukan polarisasi antara Rendra dan Mbah Surip. Tiga tahun lebih saya ikut mengawal dan menjunjung Mbah Surip dan ''Tiga Gorilla''-nya --bersama Bertha dan almarhum Ndang: melalui forum rakyat rutin bulanan di Jakarta, Jombang, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Sehingga Tak Gendong dan Tidur Lagi sudah sangat dihafal oleh komunitas lima kota itu dan terus-menerus diulang karena sangat dicintai sebagai ''lagu kebangsaan'' komunitas kami. Kami ''I love you full'' kepada Mbah Surip, meskipun dua bulan terakhir menjelang beliau wafat, kami kehilangan diri kami di penggalan akhir sejarah Mbah Surip, tanpa Mbah Surip pernah hilang dari hati kami.

***

Rendra dipanggil Allah justru di puncak optimisme keluarganya atas kesembuhannya. Candle light phenomenon, kata orang. Fenomena lilin yang apinya membesar dan memancarkan cahaya sangat benderang, sebelum akhirnya padam. Tapi Tuhan berhak juga bikin lilin membenderang apinya, kemudian tidak padam. Atau lilin tidak pernah membenderang dan lantas padam.

Tuhan berhak memaparkan suatu gejala yang pada repetisi kesekian dihipotesiskan oleh manusia sebagai jenis "perilaku" Tuhan atas nasib manusia. Tapi Tuhan juga berhak kapan saja melanggar rumusan apa pun yang pernah Ia berikan. Bahkan Tuhan seratus persen tidak berkewajiban untuk berbuat adil kepada siapa pun, karena Ia tidak terikat atau bergantung pada pola hubungan apa pun dengan siapa pun, yang secara logis membuat-Nya wajib bertindak adil.

Namun Ia selalu sangat adil kepada siapa pun, dan tindakan adil-Nya itu bukan karena Ia wajib adil, melainkan karena Ia sangat sayang kepada makhluk-Nya.

Termasuk bagaimana cara maut ditimpakan kepada seseorang, Tuhan menolak untuk kita rumuskan. Ada bandit mati ketika bersujud. Ada orang sangat alim saleh pergi ke masjid di tengah malam diserempet motor, kemudian ia dipukuli pengendara motor itu sampai meninggal. Ada pendosa besar mati ketika bertawaf, ada true believer pengkhusyuk ibadah mati kecelakaan secara sangat mengenaskan.

Semua fenomena itu tidak menggambarkan apa-apa kecuali kemutlakan kuasa Tuhan. Posisi manusia hanya pada dinamika doa: selalu cemas dan memohon kepada-Nya agar diperkenankan untuk tidak tampak hina di hadapan sesama manusia.

Pun tak usah merumuskan sebab-akibat antara baik-buruknya manusia dan jumlah pelayat, volume pemberitaan media, tayangan langsung atau tunda, tatkala meninggal. Ada ratu lalim diantarkan ke pemakaman oleh puluhan ribu orang, ada nabi dikuburkan hanya oleh enam orang. Jadi, Rendra tidak bisa kita ukur kualitas mautnya, tak juga bisa kita takar mutu hidupnya. Tidak ada jenis dan wilayah ilmu manusia apa pun yang bisa dipakai untuk merumuskan hidup dan matinya Rendra. Sirrul-asror. Itu misteri seserpih rahasia di antara jagat raya tak terhingga rahasia iradah-Nya.

Yang mungkin, dan harus, kita lakukan adalah meneliti dan menghitung ulang karya-karya Rendra, menghormatinya dengan ilmu, merayakannya terus-menerus dengan cinta, menjunjungnya dengan semangat tanpa henti untuk memelihara keindahan hidup, serta menghidupkan kembali kandungan karya-karyanya itu di dalam berbagai modus kreatif kebudayaan kita.

Rendra telah diterima Allah untuk bergabung dalam keabadian. Kelabakanlah kita, sebab yang kita punyai pada saat ini adalah budaya instan, pola berpikir sepenggal, perhatian terlalu rendah terhadap sejarah, serta kefakiran yang luar biasa terhadap kualitas hidup. ''Kami cuma tulang-tulang berserakan,'' kata Chairil, ''Tapi adalah kepunyaanmu." Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan....''.
[Obituari, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 13 Agustus 2009]

22 Agustus 2009

marhaban yaa ramadhan

(ditulis oleh : Emha Ainun Najib)

Setiap kali memasuki bulan puasa Ramadhan, seringkali yang teringat oleh kita adalah bahwa semua setan yang ada di muka bumi dibelenggu. Kalau bisa dibayangkan, tiba-tiba persis saat maghrib memasuki malam Ramadhan pertama, setan-setan terkaget-kaget tangannya tak bisa bergerak, kakinya tak bisa berjalan, kalau perlu mata dan mulutnya di-selotip, sehingga mustahil bisa mendekati apalagi mengganggu manusia dengan rayuan maut-nya untuk berbuat keji, maksiat, dan dosa.

Tapi opo yo ngono tho? Kalau saja alam berpikir kita mau diajak untuk naik beberapa derajat lebih tinggi dari sekedar pengandaian sederhana seperti itu. Sesungguhnya pengertian "setan dibelengu" adalah upaya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh keburukan yang masuk dalam hati, tindakan dan perilaku kita. Apa sih iya, Tuhan mau repot-repot membelenggu setan untuk manusia yang bahkan Tuhan sendiri mempersilahkan setan untuk menyesatkan manusia sepanjang umurnya? Lha kok enak? Sesungguhnya secara akal sehat, ya mestinya manusia itu sendiri-lah yang harus membelenggu setan agar tidak menyesatkan dirinya sendiri. Dan Ramadhan adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memperkuat kendali kita atas setan.

Setan, kalau mau diartikan dalam bahasa gaul yang keren, yang IT-minded, adalah sebuah frekuensi, sebuah rangkaian koordinat-koordinat , sebuah gelombang tingkat tinggi, suatu virus yang tak terdeteksi, suatu pergerakan atom-atom atau quartz-quartz (rangkaian terkecil dari atom), sebuah bentuk entitas non-jasad, yang merasuk ke dalam jiwa dan hati kita dan selalu bergerak berkebalikan arah dari naluri/kodrati positif kita. Hingga menimbulkan keinginan untuk berbuat keji, maksiat dan dosa, dan tanpa kita sadari jika dilakukan terus menerus menjadi kebiasaan yang dimaklumkan. Dengan kata lain gelombang jiwa dan hati kita telah satu fasa, satu rangkaian, satu mazhab, satu arah dengan frekuensi setan itu sendiri. Betapa mengerikan.

Dalam bulan Ramadhan ini, Tuhan memberikan kesempatan kepada kita bahwa segala gelombang, frekuensi, gerak koordinat atau amalan yang berpihak pada kebenaran dan kebaikan jika dipancarkan oleh manusia akan diberikan faktor pengali beberapa ratus atau bahkan beberapa ribu kali lipat dibandingkan saat dipancarkan di bulan selain Ramadhan. Jadi Tuhan hanya memberikan kekuatan lebih kepada mereka yang memang mau menggunakan kekuatan itu. Sehingga setan pun jelas takluk pada manusia. Kalau kita sendiri tidak memancarkan gelombang kebenaran, tidak menyesuaikan dengan frekuensi positif, tidak melakukan amalan kebaikan, tentu tetap tidak akan merasakan kemurahan Tuhan dan tetap tidak akan dapat membelenggu setan.

Puasa Ramadhan sebagai inti dari ibadah di bulan Ramadhan menjadi pengaktif virus scanner agar tindakan atau software dalam diri ini dapat berjalan tanpa gangguan virus-virus yang bertebaran di dunia jiwa dan hati kita. Itulah sebenarnya arti dari "setan dibelenggu" tersebut. Dengan kata lain, jika kita melakukan ibadah puasa dengan benar maka sesungguhnya kita telah mengaktifkan Anti-Virus dalam jiwa dan hati kita. Sehingga segala langkah, tindakan dan perilaku kita insyaAllah menjadi baik dan diridhoi oleh Tuhan Pencipta Manusia.

Karena itu, saat Ramadhan tiba, nyalakan jiwa dan hati kita dan jalankan Anti-Virus-nya. Perbanyak ibadah dan amalan yang mendekatkan frekuensi, gelombang, atom-atom kita ke arah Tuhan Maha Pengampun. Dan segala kebaikan akan berlipat-lipat kembalinya pada kita, dan setan pun akan terbelenggu & kecut nyali-nya. Tapi janganlah lupa juga, setelah Lebaran tiba, kita harus sering meng-update data Anti-Virus-nya. Dan jangan matikan program Anti-Virus-nya, meski Ramadhan akan ada lagi di tahun depan. Sebab manusia mana yang bisa memastikan bakal bertemu Ramadhan di tahun depan? Wallahu'alam.

16 Agustus 2009

MAKNA SPIRITUAL DAN SOSIAL IBADAH PUASA

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib - 1996

Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak?

'Alamat' dan 'Jurusan'

Syahadah. Salah satu Rukun Islam berarti ketetapan dan penetapan titik pijak dan sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia Muslim. Semacam 'alamat' dan 'jurusan'. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis kemudian teologis, baru kemudian kedua kultural.

Pandangan tentang 'sangkan paran', semacam alamat historis-kosmologis, menurut manusia untuk (melalui akal pikiran maupun melalui informasi wahyu, mawaddah wa rahmah, juga huda, bayyinat, wa furqan) menentukan alamat teologis (atau a-teologis)nya. Berdasarkan itu maka ia berangkat merumuskan alamat sosialnya, alamat kulturalnya, juga mungkin alamat politiknya, bahkan bukan tidak mungkin juga alamat geografisnya. Dengan itu, beda pandang manusia mengenai dunia, akhirat, dan tentang dunia akhirat menjadi terumuskan.

Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan

Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun dalam kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan dan kesejahteraan di antara mereka, dilaksanakan dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala akhir.

Wadahnya hanya dunia. Substansinya hanya dunia. Metodenya hanya dunia. Dan, targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang bekerja, orang berkuasa, orang berkarier, dalam 'durasi' dunia.

Segala sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan dunia sebagai titik tolak dan titik pijak untuk melangkah ke akhirat. Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan (syari', thariq, shirath), dan produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam sejarah, selama dunia berlangsung, berlaku sebagai metoda. Berkedudukan tinggi, berjaya, unggul, atau menang di antara manusia, tidak dipahami sebagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.

Dalam hal ini belum akan kita perdebatan tentang apakah dunia dan akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda, atau terletak pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yawm al-qiyamah, ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung sekaligus.

Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain serta 'syariat' hidup secara menyeluruh adalah suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangna atas dunia dan akhirat. Dengan pijakan sikap ini manusia menggerakkan aktivitas sosialnya, melaksanakan upaya-upaya hidupnya, serta menja-dikannya sebagai pedoman di dalam memandang, menghayati dan memperlakukan apapun saja dalam hidupnya.

Tidak termasuk dalam katagori ini pola sikap manusia yang dalam bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodekan dunia untuk target akhirat, namun dalam praktiknya ia lebih cenderung meletakkan dunia sebagai target dan tujuan.

Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi padanya adalah kecenderungan menduniakan akhirat. Sementara pada manusia yang dalam konteks tersebut tercerahkan spiritualitasnya, yang konsisten sikap mentalnya, yang teguh moralnya, dan yang tegak pengetahuannya- kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari sisi lain ia bermakna menduniaakhiratkan kehidupan.

Evolusi Salat dan Idul Fitri-Idul Fitri Kecil

Ibadah salat merupakan suatu metode 'rutin' kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan manusia pelakunya untuk secara berkala melakukan pengambilan 'jarak dari dunia'.

Itu bisa berarti suatu disiplin intelektual untuk menjernihkan kembali persepsi-persepsinya, untuk memproporsionalkan dan mensejatikan kembali pandangan-pandangannya terhadap dunia dan isinya, sekaligus itu bermakna ia menemukan kembali kefitrian-diri-kemanusiaan. Salat dengan demikian adalah idul fitri-idul fitri kecil yang bersifat rutin. Sekurang-kurangnya salat mengandung potensi untuk membatalkan atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Ini sama sekali bukan pandangan antidunia. Yang saya maksud, sebagai substansi, target, titik berat atau tujuan kehidupan.

Ibadah salat dengan demikian adalah suatu transisi sistem yang terus-menerus mengingatkan dan mengkodisikan pelakunya yang memelihara sikap mengakhiratkan dunia atau menduniaakhiratkan kehidupan. Ibadah salat menawarkan irama, yaitu proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis berlangsung dalam kesadaran, naluri dan perilaku manusia.

Kalau kita idiomatikkan bahwa salat itu bermakna pencahayaan ('air hujan', salah satu jenis air yang disebut oleh al-Qur'an), maka jenis ibadah berkala ini berfungsi mencahayai dan mencahayakan kehidupan pelakunya. Mencahayai dalam arti menaburkan alat penjernihan diri dan persepsi hidup. Mencahayakan dalam arti memberi kemungkinan kepada pelakunya untuk bergerak dari konsentrasi kuantitas (benda, materi) menuju dinamika kreativitas (energi) sampai akhirnya menuju atau menjadi kualitas cahaya (Allahu nur al-samawat wa al-ardl).

Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh al-Qur'an). Kambing tidak meminum susunya sendiri, melainkan mendistribusi-kannya kepada anak-anak dan makhluk lain. Etos zakat adalah mem-bersihkan harta perolehan manusia. Membersihkan artinya mempro-porsikan letak hak dan wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, melainkan membayarkan atau menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.

Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan

Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih 'revolusioner' radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur'an. Dan, waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.

Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.

Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap 'tidak' kepada isi pokok dunia yang berposisi 'ya' dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.

Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.

Sementara ibadah haji adalah puncak 'pesta pora' dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.

Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal dan personal yang tidak menjanjikan kesejatian dan keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji'un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang 'menuju' dan 'kembali'nya searah.

Ihram adalah 'pelecehan' habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan-kemegahan dunia--tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.

Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal

Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber'revolusi' dengan puasa?

Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk, memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.

Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa--sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti menyadari dan mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa' Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu--oleh Yang Sejati Ada.

Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra' Mi'raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan--tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam 'kosmos' dan sifat-Nya.

Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi menuju (bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan dan ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.

Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.

Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena 'dirinya' di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.

Pada 'citra' waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu.

Melampiaskan dan Mengendalikan

Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yang individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial (tawhid basyariyyah), ia mencair, melembut. Yang ananiyyah itu temporer dan berakhir, yang tauhid basyariyah itu baqa' dan tak berakhir.

Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal.

Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya--sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.

Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan, negara, sistem, organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.

Ibadah puasa merupakan jalan 'tol' bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total.

Kita bisa menolak ke terma sab'a samawat, tujuh langit-- Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi-Ruh-- bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia.

Atau terma Empat 'Agama'--'agama'intuitif-instinktif, 'agama' intelektual, 'agama' wahyu, serta 'agama atas agama'--kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu-Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, maka 'agama atas agama' merupakan fenomena peruhanian, kristalisasi substansi. Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan-gumpalan aliran, sekte, kelompok, mazhab atau organisasi agama.

Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la'allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa.
(Indonesia Paramadina Mulya )

11 Agustus 2009

IN MEMORIAM RENDRA: Tanahku, Hutanku, Kuburanku

Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Rencananya, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta langsung menuju rumah Mamiek Slamet di Kampung Makassar, tempat pertama jenazah beliau disemayamkan.

Memasuki kampung padat gang sempit penuh orang dan wartawan, tiba juga kami di depan rumah Mamiek. Pintu ditutup rapat. Manohara barusan masuk. Kami tidak punya ”kompetensi” untuk berjuang agar bisa dibukakan pintu sebab kami tidak tahu posisi kami dalam dunia Mbah Surip: apakah kami termasuk di lingkaran primer sahabatnya, atau lingkungan sekunder, ataukah fans belaka sebagai ratusan khalayak yang memadati tempat itu.

Bersama Dr Nursamad Kamba, aktivis Thariqat Naqshabandy Mesir, kami mengaji dan berdoa di sebuah pojok, kemudian berniat langsung saja ke Cipayung, tempat Mbah Surip akan disemayamkan. Jalan kami terdesak-desak oleh arus massa yang berlomba mengerumuni dan menciumi tangan Manohara, tetapi syukur bisa lolos juga dan langsung menuju kompleks Bengkel Teater Rendra di Cipayung.

Sesampai di sana kami terbentur problem ”kompetensi etis” lagi sehingga hanya berkumpul di sebuah rumah tetangga Rendra untuk berdoa dan shalat gaib bersama. Kami menyepakati agar Noe ”Letto” dan satu dua teman yang masuk ke tempat jenazah Mbah Surip disemayamkan.

Pukul 20.00, kami cabut menuju Pesona Khayangan Kav-5 untuk menemani Rendra yang terbaring sakit. Problem jantung dan ginjal beliau semakin mereda sesudah berpindah tiga rumah sakit, tetapi lalu tiba-tiba terserang demam berdarah sehingga rencana untuk keluar dari RS Mitra tertunda menunggu trombositnya naik. Syukur beliau akhirnya diizinkan pulang dan mulai ditangani oleh sebuah klinik herbal di Jakarta Barat.

”Menonton” Mbah Surip


Rendra telentang, rambutnya dipotong pendek sejak seminggu sebelumnya, tubuhnya masih kuyu, tetapi wajahnya mulai bersinar.

”Hatinya lebih tenteram di sini, Mas?” saya menyapa sambil memegangi tangannya. Rendra tersenyum, menganggukkan kepala, dan memancarkan sorot mata optimisme. Rendra bukan orang yang pernah suka menyembunyikan isi hatinya sehingga kalau hatinya tidak benar-benar lebih tenteram, ia pasti menjawab dengan keras dan tegas, ”Ora!”

Kami berbisik-bisik mengobrol pendek-pendek, tentang kelegaannya ditangani dengan metode yang lebih natural, tetapi menyepakati kesiapan seluruh segi untuk sewaktu-waktu berpindah ke rumah sakit di Singapura, yang memang sudah kami runding sejak dua minggu sebelumnya.

Ken Zuraida, istri beliau, dan Meme, putri mereka, lalu lalang menyiapkan ini itu yang diperlukan. A’u alias Clara Shinta, putri Rendra dari istri pertamanya, Sunarti, tak pernah diperbolehkan papanya lepas beberapa meter saja pun darinya, siang dan malam. Juga Arifin, semacam asisten pribadi Rendra yang senantiasa siap ceplas-ceplos bergurau menyegarkan jiwa Rendra, tidak pernah bisa beranjak dari seputar Rendra. Jika beranjak akan terdengar suara berat memanggil-manggilnya, ”Fiiin! Fiiin!”

Namun, malam itu Rachell, putri Rendra dari Sitoresmi, sedang pamit ke Yogyakarta sehingga tak terdengar gurauan liberal yang segar antara bapak dan putrinya.

Suasana di pembaringan Rendra kemudian bahkan agak berubah sendu. Di seberang pandang Rendra, televisi sedang menayangkan siaran langsung prosesi pemakaman Mbah Surip.

Ribuan orang dan ratusan wartawan memenuhi ”rumah Rendra”. Rendra menatap televisi dengan ekspresi wajah yang tidak segera bisa saya raba. Apakah mereka tahu di mana gerangan tuan rumahnya Mbah Surip berada? Kenapa Rendra tak tampak turut takziah kepada tamunya? Apakah ada yang tahu bahwa si tuan rumah sedang terbaring sakit sejak dua bulan sebelum Mbah Surip meninggalkannya?

Anatomi nilai

Tatkala terbaring di rumah sakit, Rendra pernah berbisik, ”Kapan saya pulang, Nun?” Saya agak mengelak, ”Kalau pulang, ke mana, Mas?” Ia menjawab, ”Ke Cipayung. Itu tanahku, itu hutanku, itu kuburanku….”

Lalu, tatkala diperkenankan pulang, ia mengambil keputusan, akan pulang ke rumah putrinya, A’u. Saya memahaminya sebagai ungkapan kearifan dan kemuliaan hatinya untuk berbagi kegembiraan dan keadilan bagi siapa saja di dalam lingkup keluarganya. Ternyata kemuliaan hati Rendra itu dituntun Tuhan. Sesudah dua hari berbaring di rumah putrinya, ia rebah di ”tanahku, hutanku, kuburanku”.

Tiba-tiba, tatkala bersama Komunitas Padangbulan saya berbincang di bawah cahaya bulan purnama di Jombang, 6 Agustus pukul 22.05, di panggung saya memperoleh telepon bahwa Rendra telah dijemput oleh Malaikat Izroil karena lamaran cintanya diterima Allah SWT. Beberapa jam sebelumnya, tatkala maghrib, ia memanggil A’u dan Arifin, bertanya, ”Kalau aku mati, kamu ikut siapa?” Tentu saja mereka berdua menjawab, ”Papa tidak boleh omong seperti itu.”

Hati saya mungkin kotor karena spontan yang muncul di benak saya sesudah mendengar kepergian Rendra adalah ”apakah akan ada siaran langsung juga sebagaimana Mbah Surip?”

Saya mencoba memaafkan diri sendiri dengan meyakini bahwa pertanyaan itu muncul tidak dari konteks eksistensialisme dan kemasyhuran, melainkan ujian berpikir bagi diri saya sendiri, dan syukur bagi seluruh bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia jurnalisme negeri ini. Apakah tidak sebaiknya kita mempertanyakan kembali parameter-parameter nilai kehidupan yang berlaku.

Bagaimana sebenarnya kita menggambar ”anatomi nilai” kebudayaan kita? Yang mana dan siapa ”kepala”, yang mana dan siapa ”tangan”, ”kaki”, ”otak”, ”nurani”, dan ”kelamin”?

Jangan dulu bertanya tentang kaliber karya dan kepribadian Rendra. Kita benahi dulu: yang primer itu akal ataukah nurani, ataukah kelamin? Yang utama bagi informasi dan komunikasi kebudayaan kita ini prestasi akal, pencapaian estetika dan nurani, atau euforia nafsu dangkal kelamin—baik yang diekspresikan dan diperjualbelikan secara eksplisit kelamin maupun yang implisit dan tak kentara bahwa sesungguhnya ”rating tertinggi” yang kita imani adalah ”packaging” kedangkalan, kekonyolan, kehinaan, dan kerendahan?

Wallahualam. Saya berdebar dari detik ke detik. Di tangan saya tergenggam lembar kertas yang bertuliskan puisi terakhir Rendra yang ia tulis pada 31 Juli 2009 di RS Mitra Keluarga…. (Sumber: Kompas, Sabtu, 8 Agustus 2009)

02 Agustus 2009

Gunung Jangan Pula Meletus

Oleh Emha Ainun Nadjib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku menyerbu.

"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"

"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."

"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?"

"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."

"Termasuk Kiai...." Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran. "Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya. Aku menjawab tegas, "Ya." "Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"

"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."

"Sampai kapan?"

"Sampai kapan pun!"

"Sampai mati?"

"Ya!"

"Kapan kamu mati?"

"Gila!"

"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"

"Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter...."

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku. "Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."

"Kewajiban apa?"

"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...."

"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.

"Pakailah sesukamu."

"Emang untuk apa?"

"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."

"Sinting!"

"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh." Ia membawaku duduk kembali. "Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.

"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang. "Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."

"Sangat benar demikian," jawabnya,

"Apa yang membuatmu tidak yakin?"

"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."

"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."

"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."

"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"

"Aceh, Kiai, Aceh."

"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".

"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan."

"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan- berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."

"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?"

"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka mem! perbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"

"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."

"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup."

"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."

"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur."

"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"

"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."

"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.

"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."

"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?" Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

26 Juli 2009

Nasionalisme Burung-burung

Engkau selalu bertanya kepada burung-burung, tanpa engkau sadari bahwa engkau selalu bertanya kepada burung-burung: "Milik siapakah kalian?"
Dan burung-burung selalu menjawab: "Pemilik kami Tuhan kami, namun Ia meminjamkan diri kami ini kepada kami, kemudian kami pinjamkan diri kami kepada kumpulan manusia yang menghuni tanah dan padang-padang di mana kami beterbangan mencari makan"
Seterusnya engkau bertanya: "Kapan kalian akan mengembalikan diri kalian kepada Tuhan, dan kapan kumpulan manusia itu akan mengembalikan diri kalian kepada diri kalian?"
Burung-burung menjawab: "Setiap saat, kapan pun saja, kami siap mengembalikan diri kami kepada Pemiliknya. Namun kami tak bisa melakukannya, karena manusia tidak mau mengembalikan diri kami kepada diri kami...."

***

Demikianlah juga jawaban pepohonan, rumput-rumput, gunung dan perbukitan; demikianlah juga jawaban tanah dan air, darah dan daging, hutan dan sungai-sungai, jika engkau bertanya: "Milik siapakah kalian?" Sehingga engkau akan terheran-heran dan melanjutkan pertanyaan:
"Apakah manusia itu sejenis makhluk yang kalau meminjam tidak bersedia mengembalikan? yang kalau berhutang, selalu menunda-nunda pembayaran, sampai saat maut menghadang, sampai di bilik pengap penjara ia digeletakkan, sampai dari singgasananya ia dicampakkan? ataukah manusia itu sejenis ciptaan Tuhan yang sedemikian dungunya sehingga kalau mencuri malah merasa memiliki, dan kalau memonopoli malah merasa paling berjasa sendiri?"

***

Maka aku juga ingin engkau selalu membisikkan ke telingaku apa kata burung-burung itu, apa kata hutan, pegunungan, angin dan lumpur. Aku ingin engkau membisikkan ke telingaku dendang hati mereka tentang negeri ini. Aku ingin mendengar nyanyian-nyanyian itu kembali:
Nasionalisme bukanlah tali ikatan antara satu jenis burung yang membedakan diri dari jenis-jenis burung yang lain
Nasionalisme adalah persentuhan getaran hatinurani seluruh burung-burung, seluruh burung-burung
Nasionalisme bukanlah pada wilayah hutan belantara mana burung-burung boleh hinggap dan beterbangan
Nasionalisme adalah kesepakatan antara semua jenis burung tentang bagaimana memelihara hutan yang indah dan sehat bagi kehidupan setiap burung, setiap burung
Nasionalisme bukanlah burung dibikinkan sangkar oleh Tuannya, yang diulur naik ke puncak tiang di pagi hari, kemudian diturunkan dan dimasukkan kandang di sore hari
nasionalisme adalah burung tanpa sangkar, adalah burung di angkasa bebas, yang dari kebebasan itu hati dan kesadarannya belajar memahami dan merancang sangkarnya sendiri

***

Nasionalisme bukanlah mengketapel burung, menjerat dan mengurungnya, serta menjadikannya hiasan karena meskipun engkau mengelus-elus bulu dan sayapnya, namun engkau berdusta kepada hakikat burung-burung ketika merebut langit dan alam dari kehidupannya.
Nasionalisme bukanlah membatasi ruang terbang burung-burung, melainkan membuka peluang belajar dan pelatihan bagi nurani burung-burung untuk sanggup menciptakan batas-batas ruang terbangnya sendiri.
Nasionalisme bukanlah burung dalam sangkar bambu yang tunduk menghormati burung sangkar emas, atau burung sangkar emas meludahi burung sangkar bambu.
Nasionalisme adalah burung-burung sangkar langit, burung-burung sangkar alam semesta, burung-burung sangkar jagat yang tak dibatasi garis kepentingan kelas-kelas burung, oleh egosentrisme dan penghisapan sejenis burung atas sejenis burung yang lain
Nasionalisme bukanlah burung-burung yang engkau tawan dan engkau jatah makan minumnya serta engkau tentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh disantapnya.
Nasionalisme adalah menguakkan kesanggupan burung-burung yang tanpa akal senantiasa mengerti apa yang berhak dimakannya dan apa yang terlarang untuk diminumnya.
Nasionalisme burung-burung tidak punya tuan, nasionalisme burung-burung hanya punya Tuhan.
Nasionalisme adalah burung-burung yang menentukan dan memiliki pemuka-pemuka. Pemuka-pemuka yang bertugas untuk menjadi pekerja yang memenuhi keperluan seluruh burung-burung, sehingga seluruh burung-burung itu bersedia menyisihkan pendapatannya untuk memberi makan kepada pemuka-pemukanya.

***

Burung-burung tak dimiliki oleh Tuan, burung-burung hanya memiliki Tuhan. Sebab jika Tuan memilikinya, mereka tak boleh memiliki Tuannya, sedang jika mereka dimiliki Tuhannya, itu berarti Tuhan adalah milik mereka.
Burung-burung sangat mengerti bahwa hak tertinggi yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup adalah memperoleh pinjaman dari Tuhannya sejumlah yang diperlukannya, adalah makan dan minum sebanyak yang dibutuhkannya
Burung-burung sangat memahami bahwa hanya tatkala lapar ia berhak memetik makanan dari alam, dan hanya ketika haus ia berhak menimba minum dari alam
Burung-burung sangat bersetia kepada kenyataan betapa Tuhan sangat memiliki segala sesuatu, namun senantiasa pula ia tak memakainya sendiri melainkan meminjamkannya
Betapa Tuhan sangat memiliki kesanggupan untuk menggenggam apa pun saja, untuk merampas apa pun saja, serta untuk mengambil alih apa pun saja, namun ia tak melakukannya
Sehingga burung-burung selalu sangat merasa heran betapa ada makhluk-Nya yang tak memiliki namun berlaku sebagai pemilik, yang tak berkewenangan namun bertindak sebagai penguasa, yang tak berhak namun mengambil apa saja yang dinafsuinya, yang berkedudukan hanya sebagai hamba namun segala jenis penghisapan, perbudakan dan penindasan dilakukannya

***

Nasionalisme burung-burung tidak mempersoalkan di sarang pepohonan apa telornya menetas, oleh karena itu segenap burung di muka bumi mencicit-cicit apabila ada saudara-saudaranya sesama makhluk datang bagai banjir, menebangi pohon-pohon, sehingga merasa kehilangan tempat untuk membuat sarang-sarang
Nasionalisme burung-burung tidak mempersoalkan apa warna telor mereka, berbentuk lonjong atau bulat, oleh karena itu segenap burung di hamparan tanah ini mendongakkan paruh-paruh mereka apabila tiba mesin besar entah dari mana yang menyeragamkan bentuk telor mereka
Nasionalisme burung-burung tidak mempersoalkan apa warna bulu atau berapa besar tubuh mereka, oelh karena itu segenap burung-burung di kehangatan alam ini mengepak-ngepakkan sayap mereka apabila hadir pisau besar yang memangkas bulu mereka dan membonsai badan-badan mereka
Nasionalisme burung-burung adalah negeri cinta kasih yang dibatasi hanya oleh cakrawala dan langit biru, sungai, gunung-gunung, hutan, samudera dan pulau-pulau hanyalah torehan garis dan warna-warni dalam kanvas lagu pujaan mereka kepada Tuhan
Nasionalisme burung-burung adalah kesepakatan untuk menjaga kemerdekaan seluruh alam. Negara burung-burung adalah pembangunan tempat dan kesejahteraan utnuk saling memerdekakan dan mengasihi

***

Jika burung-burung rajawali, jika burung-burung hantu, jika burung-burung raksasa lainnya bergerombol untuk mematuki burung-burung kecil dan merampas jatah makan minum dan kemerdekaan mereka: maka jagat cinta kasih terbelah menjadi dua negeri. Yang satu negeri para penindas, lainnya negeri para tertindas
Para penindas berlaku sebagai tuhan, sedangkan para tertindas sesak napasnya tidak hanya oleh kekuasaan yang menindih, tapi juga oleh cinta dan kesantunan yang tidak disemaikan di bagian manapun dari tanah Tuhan

Nasionalisme burung-burung terluka dan mengucurkan darah, karena seluruh burung-burung kecil di mana saja di permukaan bumi terjaring menjadi satu negara rahasia yang tergetar nuraninya, serta bersiap menagih di hari esoknya


------------------

1989
(Emha Ainun Nadjib/"Doa Mohon Kutukan"/Risalah Gusti/1995/PadhangmBulanNetDok)

17 Juli 2009

Matahari Islam Berpendar-pendar


Meledaknya BOM di JW Marriott & Ritz Carlton hari ini mengingatkan saya pada sebuah tulisan yg menurut saya sangat bagus, yang saya baca beberapa tahun silam. Setelah saya "googling-googling", akhirnya dapet juga. sebuah catatan yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, memberikan pandangan yang sedikit berbeda tentang BOM BALI

-----------------------------------

GATRA.com - SAYA sedang menikmati pemandangan indah: berpendar-pendarnya matahari terbit kebangkitan Islam di Indonesia. Kekuatan mana di muka bumi ini yang berani melawan kedahsyatan simpanan kekuatan umat Islam, kalau santri sekelas Amrozi dan rombongannya saja mampu mengguncang dunia dan memerangahkan bumi? Dengan kemampuan teknologi bom yang ultramodern?

Ini baru level santri. Belum kiai ini, kiai itu. Belum Syekh Fulan atau Polan, Habib sana atau Habib sini, atau Gus Anu atau Gus Ano. Beberapa santri saja sudah cukup membuat Polri, BIN, Mossad, CIA, dan dinas intelijen Australia porak-poranda kesombongannya. Baru sekadar Amrozi!

Itu baru Lamongan sayap dusun luar --dunia sudah guncang. Belum Lamongan bagian Langitan dan kantong-kantong kekuatan bom Islam lainnya di kabupaten itu. Belum Bojonegoro, Tuban, Gresik. Jangankan lagi omong Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo --dan jangan pula sebut Jombang! Tandingan Jombang bukan pasukan-pasukan elite kelas dunia. Jombang disiapkan untuk menaklukkan ultra-sophisticated teknologi perang Dajjal yang kini ditatar di kedalaman laut Bermuda Triangle.

Kalau semua kekuatan Islam itu, cukup Jawa Timur saja, pada suatu hari serempak ber-triwikrama, mateg aji, unjuk kebolehan, pastilah Amerika dan Eropa rata tanah, seluruh permukaan bumi jadi padang pasir!
***

Memang, sebagian kecil kaum muslimin berprihatin dan bersedih hati atas persangkaan dihancurkankannya citra ulama dan kiai, dirusaknya nama baik dunia pesantren oleh kasus-kasus terorisme belakangan ini --atas yang mereka sangka tentang nasib Amrozi dan Imam Samudra. Atas seolah terpecahnya kepemimpinan Islam. Berserak-serak dan tercerai-berainya kekuatan umat Islam. Atas mitos dan prasangka tentang krisis moral, krisis akhlak, krisis bermacam-macam yang akhirnya disebut krisis total, dan sebagainya.

Padahal, Tuhan kasih kunci: "Engkau menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk bagimu, dan engkau membenci sesuatu yang sesungguhnya baik bagimu." Apa yang kau sangka pengikisan nilai Islam ternyata pembangkitan nilai Islam. Sebaliknya, apa yang kau pikir mengibarkan nilai Islam nanti terbukti justru merusaknya. Apa yang kau kira de-Islamisasi sesungguhnya memiliki rahasia Islamisasi. Sebaliknya, apa yang kau yakini sebagai Islamisasi nanti kau jumpai sebagai proses penyirnaan Islam.

Kalau pengetahuanmu tidak rangkap dan gampang dijebak oleh sesuatu yang seolah-olah menyenangkan atau seakan-akan menjengkelkan, engkau akan sangat kaget jika suatu hari mendengar Amrozi memberikan pengakuan bahwa sesungguhnya dia jualah yang meledakkan Gunung Papandayan. Dan kalau para aparat tidak mau ngemong hati orang Islam, siap-siap suatu hari ada pasukan santri siluman lagi yang meledakkan Gunung Semeru, meletuskan Merapi, serta menumpahkan air samudra ke permukaan Pulau Jawa.

Hendaknya para penguasa membatasi keangkuhannya dengan menyadari bahwa para santri memegang warisan kekuatan-kekuatan dari masa silam: tongkat Nabi Musa, kapak Ibrahim, keris Kolomunyeng Sunan Giri, tongkat pendek Syekh Abdul Qodir Jaelani, serban Sunan Kalijaga, Setan Kober Penangsang, Sangkelat Karebet, dan belum lagi ilmu-ilmu sirrul asror dari Mbah Hamid, Sakajiwa-nya Adipati Kolopaking, kain mandarnya Imam Lapeo, atau air liur mustajabnya Gus Ud Kedungcangkring.

Itu semua simpanan baku tradisional umat Islam. Santri macam Samudra dan Amrozi bukan pemegang warisan kelas utama. Kalau nanti yang bergerak adalah mbahurekso kaum muslimin benar-benar, akibatnya tan kinoyo ngopo tan keno kiniro. Tak bisa Anda bayangkan dan rumuskan.

Sementara itu, jangan disangka umat Islam adalah kaum yang sibuk membangga-banggakan khazanah masa silam. Kalau engkau pelajari dengan saksama, kekuatan mutakhir yang dibangun umat Islam juga tidak bisa diremehkan siapa pun. Baik di bidang politik dan kekuasaan, di bidang pemikiran, di bidang tarikat dan batiniah, maupun di bidang teknologi dan budaya.
***

Apalagi kekuatan tasawuf kaum muslimin. Nashrudin Hoja, sesudah keledainya dicuri orang di halaman masjid, malah masuk masjid lagi dan bersujud lama sekali. Orang-orang bertanya: kehilangan kendaraan kok malah bersujud? Nashrudin menjawab: "Saya tadi melakukan sujud syukur. Sungguh saya berterima kasih kepada Allah bahwa hanya keledai saya yang hilang, sedangkan diri saya ini tidak ikut dicuri orang..."

Ini bukan hanya bermakna kritik atas hilangnya kepribadian manusia yang dicuri kekuatan nafsu kekuasaan, keserakahan kapitalistik, ditelan ideologi dan bukan me-manage ideologi pilihannya, dehumanisasi oleh industri, depersonalisasi oleh komunalisme, lenyapnya kemanusiaan oleh kepandaian atau oleh kebodohan. Tak hanya itu. Kisah Nashrudin ini juga bermakna sufistik, misalnya bahwa rezeki itu tidak hanya berbentuk memperoleh atau mendapatkan, melainkan bisa juga berbentuk kehilangan. Keuntungan tidak selalu berarti memiliki, bisa juga pada saat tidak memiliki. Kemenangan tidak hanya berarti menang dalam perebutan dan kenduri, kemenangan malah mungkin terjadi pada seseorang yang berpuasa dari perebutan, pesta pora, dan kerakusan.

Orang mengatakan bahwa kekuatan politik umat Islam terpecah-pecah, karena ia tidak tahu bahwa itu memang strategi yang disengaja. Politisi Islam tahu, jangan sampai terjadi hegemoni Islam di negara yang bukan Islam. Islam itu ngemong, bukan menguasai. Apa yang tampak terpecah-pecah itu sesungguhnya dinamika pluralisme dalam tubuh umat Islam. Islam itu memerdekakan, membuka pintu tafsir atau interpretasi seluas jumlah pemeluknya. Bisa ada sejuta mazhab dalam Islam. Jangankan sekadar beberapa puluh partai politik Islam.

Orang bilang ekonomi kaum muslimin terpuruk, karena mereka tidak mengerti pilihan utama pemeluk Islam berada di tengah-tengah. Ada level ghony, kaya. Ada level miskin dan ada level fakir. Orang Islam tidak memilih kaya, tapi juga menolak menjadi fakir. Cukup pilih miskin saja. Rasulullah Muhammad sendiri adalah 'abdan nabiyya: Nabi yang rakyat jelata. Beliau ditawari punya kekuasaan dan kekayaan seperti Nabi Sulaiman, namun menolak.

Itu pun, umumnya kaum muslimin masih tergolong kaya dibandingkan dengan Nabi Muhammad, yang rumah tinggalnya bersama Siti Aisyah panjangnya hanya 4,80 m, lebarnya 4,62 m. Itu pun tanpa kulkas, tanpa VCD player, AC, furnitur, dan aksesori. Jadi, kalau dari sisi negatif, perekonomian umat Islam seperti terpuruk, dari sisi positif hal itu menunjukkan bahwa mereka lebih memilih kekayaan akhirat daripada kekayaan dunia.
***

Jadi, apa yang perlu dicemaskan dari keadaan umat Islam di Indonesia? Kalau dikalahkan di dunia, toh engkau menang di akhirat. Dunia cuma sekejap, akhirat abadi. Apa keberatanmu?

Kalau namamu dicoreng kehinaan di bumi, engkau memperoleh kemuliaan di langit. Bumi hanya mikrokosmos, sedangkan langit makrokosmos. Apa alasanmu untuk tidak bersyukur?

Makin namamu dihancurkan, ditangkap, dihukum di dunia, makin populer dan tinggi indah kursimu di surga. Nikmat Allah yang mana yang masih engkau dustakan?

Allah menagih jihadmu, dan tidak mempertanyakan kemenangan duniawimu. Allah menantikan syahidmu, dan membayar penderitaan duniamu dengan pendaran-pendaran cahaya wajah-Nya sendiri yang abadi menggiurkanmu.

Katakanlah kita mulai kehilangan Buya Hamka, kita memiliki yang lebih dari itu: Quraish Shihab. Kita kehilangan Muhammad Natsir, malah muncul Yusril Ihza Mahendra. Mulai kehilangan Cak Nurcholish Madjid, malah dianugerahi Ulil Abshar Abdalla. Umpamanya pun kehilangan Ustad Zainuddin MZ, kita punya yang lebih dimensional: Aa Gym. Dan kalaupun akhirnya pada suatu hari nanti Gus Dur uzur, kita punya Saifullah Yusuf.

Kita punya banyak tokoh Islam fenomenologis. Pemikiran-pemikirannya mungkin menggelisahkan dan menjengkelkan ulama-ulama tua, tapi lambat laun orang-orang tua harus belajar kepada anak-anaknya.

Mereka itu letaknya di pinggir, tak terlalu dianggap kental Islamnya, tapi nanti akan ternyata keilmuannya memang ijtihadiyah --hanya saja, kita orang-orang tua terlambat memahaminya.

Kita punya banyak Nashrudin lain. Kecenderungan sikapnya seolah bertentangan dengan tradisi konvensional kaum tua. Padahal, sungguh kritik mereka sangat menohok. Setelah kaum muslimin "kehilangan keledai", Nashrudin-Nashrudin ini seakan tidak menunjukkan sikap militan untuk mengutuk si pencuri. Mereka malah kelihatan seperti melakukan sujud syukur atas tertangkapnya Ustad Ba'asyir, Amrozi, dan Samudra.

Bahkan terdengar seakan memuji-muji pihak yang dianggap musuh dan justru kaannahum mengutuk saudara-saudaranya seagama.

Itu semata-mata karena model kritisisme Nashrudin memang mempersyaratkan kecerdasan pikiran tingkat tinggi, kepekaan dan kejernihan hati yang sungguh-sungguh --untuk mampu menangkapnya. Itulah sebabnya, "yang kau anggap baik ternyata berbahaya, yang kau anggap buruk malah sebenarnya baik". Islam liberal malah dicurigai, sementara Islam sensual justru dibiarkan saja merajalela di mana-mana dari kampus-kampus hingga mal-mal.
***

Sungguh saya menikmati berpendarnya matahari kebangkitan Islam di Nusantara, terutama selama Ramadan, ketika siang, malam, pagi, sore, kita diguyur kenikmatan dan kemuliaan acara-acara Ramadan di sekian banyak siaran (syiar) televisi. Engkau yang berpengalaman melanglang buana ke mancanegara, jawablah apa ada Ramadan sesemarak tayangan TV-TV kita?

Engkau ingat hukum kompetensi: yang berwenang atas kualitas dunia sepak bola adalah PSSI, tinju adalah KTI, tepung adalah Bogasari, rawon adalah Probolinggo, dan gudeg adalah Yogyakarta. Jangan pesan gudeg ke Banyuwangi, jangan cari petinju hebat ke PSSI, dan jangan menambal ban bocor ke penjual rujak. Kalau mau berdakwah, PSSI-nya adalah ulama.

Siaran TV Ramadan memuat penyamaran-penyamaran strategis yang tentu didasarkan pada tiga prinsip dakwah: dengan hikmah, perlakuan yang tepat, menyerbu konsumen berdasarkan apa yang baik bagi konsumen. Kalau Topan-Leysus ada tanpa ustad, acara bisa tetap jalan. Kalau hanya ustad yang ada sedangkan Topan-Leysus tak ada, acara bisa batal. Demikian juga yang primer adalah Eko Patrio dan Ulfah Dwiyanti, Taufiq Savalas dan Elma Theana, dan seterusnya. Ustad yang hadir berposisi sekunder.

Apakah industri TV melanggar prinsip kompetensi? Tidak. Itu yang disebut penyamaran strategis. Supaya orang lain tak gampang mengidentifikasi kita, maka hijau disamarkan dengan kuning, merah disamarkan dengan jingga. Ustad atau kiai yang sesungguhnya adalah Topan, Leysus, Eko, Taufiq, dan lain-lain. Kiai yang tawadlu adalah yang menghindarkan diri dari sifat-sifat yang Tuhan tersinggung kepada pelakunya: riya', takabur, ujub, suka pamer, menonjol-nonjolkan diri.

Kiai-kiai sejati kita itu sepanjang tahun tidak pernah menunjukkan siapa mereka sebenarnya, tidak pernah memamerkan kekiaiannya, mereka menyamar jadi artis. Hanya pada Ramadan mereka harus polos luar-dalam, sebab puasa adalah ibadah yang diminta Allah pribadi secara langsung.

Siapa tahu, ternyata mereka itulah Wali Songo abad ke-21.

[Emha Ainun Nadjib, Budayawan]
[Kolom, GATRA, Nomor 04 Beredar Kamis 13 Desember 2002]

06 Juli 2009

POK DHAH NYUANG

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib



Maqamku Pok Dhah Nyuang

Gelarku Amirul Khulafa

Atasanku Jibril

Bawahanku para panglima

Di benua-benua vertikal dan horisontal

Aparatku Dewi Pesawahan

Bahureksa gunung dan gua-gua

Pengayom hewan dan Pawang hujan

Pasukan kavaleriku melintas-lintas

Di sela-sela benda dan galaksi

Prajurit infantriku tersembunyi

Di setiap bongkahan tanah bumi

Sandhiyudhaku penelusup angin

Bekerjasama dengan pasukan khusus Malaikat

Yang mengendarai cahaya

Bersemayam di bilik persembunyian kalbu manusia



Malam ini kupanggil Kakek Nenek induk bangsa Nusantara

Kutampar mukanya dan hampir kuludahi martabatnya

Merangkak kamu ke sini

Tundukkan kepala

Tundukkan dalam-dalam sampai ke gua rahasia

Atau simpan mukamu di kantung martabat

Kakek nenek moyang memalukan cucu-cucu

Cucu-cucu mencoreng muka kakek nenek moyang

Wajah kalian semua mempermalukan Tuhan

Kemelorotan peradaban kalian terjerembab

Hingga ke ufuk terendah

Kini Tuhan sedang melakukan perhitungan

Dan hasil kalkulasinya kalian tunggu sebentar lagi



Kenapa kau biarkan anak cucumu itu menyusut

Mengecil menjadi sekerdil-kerdilnya makhluk di bumi

Kenapa kau biarkan mereka kehabisan kepercayaan diri

Kehilangan pemahaman alamiah tentang anatomi nilai

Tidak percaya kepada rasa syukur dan ajaibnya rejeki

Sampai mereka jual kepala dengan harga pantat

Mereka ecerkan Tuhan dengan harga dukun

Mereka obral Nabi Rasul dengan tarif pengajian

Mereka loakkan fatwa ditukar dengan kedunguan politik

Mereka banting kartu As kemanusiaan dengan defisit balak-enam

Mereka kakilimakan berkah nasib dengan Ketik Reg

Anak cucumu hidup dalam kemiskinan amat absolut dan sangat mutlak

Ditutup-tutupi dengan kemegahan yang segera ambruk dalam sekejap



Sedangkan Sang Maha Pencipta Tuhan pepunden kita

Pun bangga menciptakan gen unggul mereka

Bahkan mengambilkan segumpal tanah dari sorga

Untuk dihamparkan jadi negeri Nusantara bagi mereka

Kenapa kau biarkan mereka buta dan bodoh berkepanjangan

Mereka buang diri mereka sendiri

Mereka gantikan dengan kepribadian takhayul

Takhayul itu mereka ideologikan dan mereka agamakan

Agama imitasi, Agama tiruan, Agama-agamaan yang dibungkus plastik

Seolah-olah Agama yang diagama-agamakan

Agama takhayul itu mereka undang-undangkan

Menjadi bandul besi raksasa yang menyeret mereka ke dalam jurang

Berduyun-duyun tumpah ruah anak cucumu terjerambab

Bertumpuk-tumpuk bertindih-tindihan bertengkar berkepanjangan

Sampai terpecah-pecah menjadi berpuluh-puluh bagian

*) Dibacakan pada pementasan Musik Puisi "Jangan Cintai Ibu Pertiwi" 3 April 2009, GKJ – Jakarta