Ditulis Oleh Sujiwo Tejo
Senin, 20 Oktober 2008
Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan kita seyogyanya kita kasih nama. Dan seyogyanyalah nama yang tepat.
Kira-kira kayak gitu mutiara yang dapat saya rangkum dari beberapa kawan motivator. Teman-teman yang bergerak di bisnis pemberian motivasi ini meyakini satu hal. Betapa banyak orang tak sanggup memecahkan persoalan hidupnya, semata-mata cuma lantaran mereka belum kasih nama yang tepat pada persoalan itu.
Kaum motivator itu tak keliru. Bagaimana kita akan memecahkan suatu perkara, dengan kata lain bagaimana kita akan berkomunikasi dengan problem tersebut, menyapanya, kalau nama problem itu saja kita tak tahu apa tepatnya.
Saya kerap mendapati orang yang hidupnya hampa. Kasusnya belum ia beri nama. Tapi gairah itu kemudian bangkit setelah ia namai persoalannya dengan “Kurang Tersalurnya Hobi”. Ia lantas menyalurkan hobinya yang tertimbun selama ini oleh rutinitas kerja. Hidupnya jadi berwarna.
Saya kerap mendapati orang yang hidupnya hampa meski sudah memberi julukan, nama bahkan judul pada problem hidupnya. Tapi judulnya kurang tepat. Ia kasih judul “Selalu Kekurangan Uang”.
Hidupnya perlahan membaik setelah nama problemnya ia tukar-tukar dengan “Selalu Berlebihan dalam Pengeluaran Uang”, “Selalu Kurang Bergairah Mencari Tambahan Uang”, “Kurang Memanfaatkan Hobi dan Potensi Lain sebagai Sumber Mata Pencaharian Baru”, dan lain-lain…
Tiba-tiba saya berpikir, jangan-jangan monumen untuk sebuah kota mirip dengan nama untuk suatu problem dalam hidup kita. Setelah problem itu kita kasih nama, kita baru sadar posisi kita. Kita sadar akan konteksnya.
Setelah sebuah kawasan tempat kita berada lantas ada monumennya, kita baru sadar akan posisi kita. Terutama dalam konteks hubungan kita dengan masa lampau, dengan asal-usul. Padahal, orang bijak acap berujar, tak bakalan kita tahu tujuan kita kalau tak kita tahu muasal kita.
Apa yang bakal dicapai secara bersama oleh warga Jakarta sebagai Ibu Kota khususnya, dan warga Indonesia umumnya, jika kita tak tahu bahwa sesungguhnya permulaan kita adalah petani.
Sedemikian petaninya asal mula kita sampai Patung Pahlawan di kawasan Menteng, yang dibikin Matvei Manizer dan Otto Manizer dari Rusia, disebut sebagai Patung Pak Tani alias Tugu Tani.
Barangkali karena meski sosok di monumen itu menyandang bedil, ia pun mengenakan caping. Ia sedang minta restu buat pergi bertempur pada perempuan di sisinya, yang tampak seperti para perempuan di sawah ketika mengirim panganan untuk para petani.
Kehilangan konteks asal-usul, segera pula kita kehilangan orientasi akan hari depan. Kita akan menjadi negara industri atau pertanian? Saya kaget ketika kawan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bilang, sebenarnya kita masih kaya akan agro-energi. Bukan cuma pohon jarak dan kelapa sawit. Gila! “Sebenarnya masih ada 60-an jenis tumbuhan di Nusantara ini yang bisa jadi alternatif energi,” katanya.
Dan tolok ukur apakah kita masih menghargai monumen atau tidak, gampang. Apakah monumen-monumen di Jakarta itu masih menjadi pedoman orientasi kita?
Apakah kita akan lebih sering menyebut kampus Universitas Dr Mustopo Beragama dekat Plaza Senayan, ketimbang dekat Patung Pemuda? Apakah kita masih akan lebih sering menyebut Bunderan HI itu dekat Plaza Indonesia, ketimbang dekat Patung Selamat Datang?
Dan bila seseorang menyebut Lapangan Banteng, mana yang segera muncul di benak kita? Kantor Pos Pusat? Departemen Keuangan? Hotel Borobudur? Atau Patung Pembebasan Irian Barat bikinan Edhi Sunarso?
Tampilkan postingan dengan label Sujiwo Tejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sujiwo Tejo. Tampilkan semua postingan
27 November 2008
Kutu Loncat (Panakawan 2)
Ditulis Oleh Sujiwo Tejo
Rabu, 26 November 2008
Semar: Eh, thole, Petruk dan Bagong. Gareng dowo umur-e. Saiki dirasani, saiki juga mak jleg datang ke Padepokan Karang Tumaritis.Rambut anyar. Piyak tengah. Bentuknya bokong tengkurap. Persis gedung MPR/DPR. Tapi dia nda’ terus duduk.
Gareng: Dari tadi aku mondar-mandir karena sedang berpikir: Aku bingung, tapi kalian ndak tanggap-tanggap: Ndu’ Karang Tumaritis sini ini ne’ akan parkir mobil parkir-e nde’ mana?
Bagong: Ck ck ck ck…, Gareng wis bedo. Di DPR nembe sebulan ae muncul-muncul sudah bawa kendaraan. Kepergok Pak Kumis kuuaapok kamu ya…
Semar: Pak Kumis? Tukang sego goreng nduk Kwitang itu…?
Bagong: Antasari Azhar, goblok!
Semar: Eh, Gong, koen nggoblok-nggoblokno orang tua? Beliau itu bukan Pak Kumis, tapi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi.
Bagong: Tapi kumisan atau jenggotan?
Semar: Eh, thole, jangan underestimate pada penglihatan orang tua ya. Mataku ini pancen wis rembes, tapi jelas kulihat bahwa Ayu Azhari itu, eh Pak Antasari “Azhari” itu Kumisan.
Bagong: Ya berarti Pak Kumis. Podo karo Pak Sakerah. Kalau Pak Jenggot itu ne’ nda’ bakul jamu yo teroris.
Semar: Lho, tapi…
Petruk: Ini berantem generasi muda dan generasi jompo akan terus? Atau wis cukup? Terserah. Tapi ne’ di sini berubah arep dijadikan tempat bertengkar plang nama Padepokan Karang Tumaritis di depan itu ta’ ganti papan nama Dewan Pemimpin Pusat Partaiiii…
Gareng: Jangan, Truk. Ojok!! Kalian bukan partai. Karang Tumaritis alias Karang Kadempel ini kalau tidak ormas ya cuma yayasan. Karena partai itu kendaraan. Ne’orang nda pake kendaraan disebut calon independen. Makanya kere-kere sing arep munggah bale mau jadi bupati, walikota, gubernur atau presiden, selalu ditanya pake kendaraan apa, pake partai apa. Karena partai itu kendaraan. Tapi Karang Tumaritis jelas bukan partai. Karena Karang Tumaritis bukan kendaraan.
Petruk: Maksudmu, di Karang Kadempel ini nda’ ono’ parkir buat kendaraan?
Gareng: Itu antara lain. Dan dari dulu Karang Tumaritis ini anggota dan pengurusnya nda’ keluar masuk. Dari dulu pengurus merangkap anggota di Karang Kadempel ini ya tetap Panakawan. Nda’ pernah Petruk jadi kutu loncat keluar jadi sekjennya Dasamuka di Alengka. Nda’ nate Hanoman lompat pagar dari Prabu Rama masuk memimpin fraksi di Panakawan.
Semar: O iya, iya, Gareng bener. Dari dulu Panakawan ini ya ini-ini saja. Ada bungsu Bagong yang polos tapi ngengkelan. Ada Petruk yang easy going dan happy. Ada Gareng sing kerjaannya tukang analisa.
Petruk: Ada Semar. Sing kebijaksanaannya melebihi dewata tapi entute malah lebih bau dari entut jaran…
Semar: Hush! Eh, iya, empat kekuatan Panakawan itu sebenarnya satu. Satu sebenarnya empat. Papat dadi siji. Siji dadi papat. Ndade’no Jawa Timur…
Gareng: hehe…Iku iklan Pilkada Jawa Timur. Tapi soal partai dan kendaraan tadi itu aku serius.
Petruk: Waduh, serius maneh, Rek?
Gareng: Aku serius. Petruk jangan mengganti papan nama Karang Tumaritis dengan papan nama Partai. Ini beda. Partai-partai sekarang orangnya sedang musim transmigrasi. Mereka meninjing tas ke sana ke mari ngga’ jelas sedang belanja atau mau pindahan, persis lagu campur sari Rondo Kempling. Tahun lalu ngontrak di partai anu, tahun depan bisa boyongan ngontrak di partai lainnya.
Bagong: Ne’ pancen bener ngono, opo’o kok pemimpin partai masih disebut ketua umum? Kok Megawati nda’ dijuluki Ibu Kost PDI-Perjuangan? Kok Jusuf Kalla nda’ Bapak Kost Partai Golkar?
Petruk: Ya, sekarang masih belum, Gong. Nda’ tahu nanti-nanti…Tenang sajalah. Dalam laut dapat diduga, dalam celana siapa tahu.
Gareng: Ehmmm….Saya itu bahwa sesungguhnya prihatin. Prihatin melihat polah tingkah konco-konco di DPR yang jadi kutu loncat utowo pelompat pagar. Ini menunjukkan bahwa partai satu sama lain sudah ngga‘ ada bedanya. Setiap partai nda’ punya keunikan, nda’ duwe ideologi. Jadi orang-orangnya gampang pindah. Yang mereka kejar cuma kursi. Malah Panakawan ideologinya lebih jelas. Setiap masalah kita hadapi dengan empat jadi satu dan kosok baline.
Bagong: Oalah, Gareeeeng, Gareng, kamu itu gaweane mikir tapi goblok, Reng. Pindah-pindah partai itu ndak popo. Karena jare-mu partai itu kendaraan. Yang penting sampe tujuan. Ne’ koen arep nang Situbondo, ndu’ terminal Bungur Asih nda’ onok jurusan Situbondo adanya bus jurusan Jember, lompat saja. Probolinggo turun, pindah dan lompat ke bus jurusan Bondowoso. Besuki turun, pindah dan mencolot bus jurusan Banyuwangi turun tengah jalan di Situbondo. Sampe. Beres.
Petruk: Yo wis, beres, Reng, sana parkir dulu kendaraanmu di bawah pohon sawo jajar.
Gareng: Lho, siapa yang bawa kendaraan? Aku bukan anggota DPR. Aku ini di DPR cuma’ jadi penasihat spiritual sekaligus tempat curhat sekretaris-sekretaris di DPR yang di-faling in love-i bos-bosnya. Aku tadi cuma’ nanya di Karang Tumaritis ini ne’ umpama-ne parkir kendaraan di mana. Ya cuma nanya thok. Siapa yang punya kendaraan? Aku sendiri ke sini ya jalan kaki, mlaku, makanya sampe kurus dan kakiku sampe pengkor-pengkor semua ini, nda’ pake kendaraan apa-apa…
Bagong: Calon independen.
Rabu, 26 November 2008
Semar: Eh, thole, Petruk dan Bagong. Gareng dowo umur-e. Saiki dirasani, saiki juga mak jleg datang ke Padepokan Karang Tumaritis.Rambut anyar. Piyak tengah. Bentuknya bokong tengkurap. Persis gedung MPR/DPR. Tapi dia nda’ terus duduk.
Gareng: Dari tadi aku mondar-mandir karena sedang berpikir: Aku bingung, tapi kalian ndak tanggap-tanggap: Ndu’ Karang Tumaritis sini ini ne’ akan parkir mobil parkir-e nde’ mana?
Bagong: Ck ck ck ck…, Gareng wis bedo. Di DPR nembe sebulan ae muncul-muncul sudah bawa kendaraan. Kepergok Pak Kumis kuuaapok kamu ya…
Semar: Pak Kumis? Tukang sego goreng nduk Kwitang itu…?
Bagong: Antasari Azhar, goblok!
Semar: Eh, Gong, koen nggoblok-nggoblokno orang tua? Beliau itu bukan Pak Kumis, tapi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi.
Bagong: Tapi kumisan atau jenggotan?
Semar: Eh, thole, jangan underestimate pada penglihatan orang tua ya. Mataku ini pancen wis rembes, tapi jelas kulihat bahwa Ayu Azhari itu, eh Pak Antasari “Azhari” itu Kumisan.
Bagong: Ya berarti Pak Kumis. Podo karo Pak Sakerah. Kalau Pak Jenggot itu ne’ nda’ bakul jamu yo teroris.
Semar: Lho, tapi…
Petruk: Ini berantem generasi muda dan generasi jompo akan terus? Atau wis cukup? Terserah. Tapi ne’ di sini berubah arep dijadikan tempat bertengkar plang nama Padepokan Karang Tumaritis di depan itu ta’ ganti papan nama Dewan Pemimpin Pusat Partaiiii…
Gareng: Jangan, Truk. Ojok!! Kalian bukan partai. Karang Tumaritis alias Karang Kadempel ini kalau tidak ormas ya cuma yayasan. Karena partai itu kendaraan. Ne’orang nda pake kendaraan disebut calon independen. Makanya kere-kere sing arep munggah bale mau jadi bupati, walikota, gubernur atau presiden, selalu ditanya pake kendaraan apa, pake partai apa. Karena partai itu kendaraan. Tapi Karang Tumaritis jelas bukan partai. Karena Karang Tumaritis bukan kendaraan.
Petruk: Maksudmu, di Karang Kadempel ini nda’ ono’ parkir buat kendaraan?
Gareng: Itu antara lain. Dan dari dulu Karang Tumaritis ini anggota dan pengurusnya nda’ keluar masuk. Dari dulu pengurus merangkap anggota di Karang Kadempel ini ya tetap Panakawan. Nda’ pernah Petruk jadi kutu loncat keluar jadi sekjennya Dasamuka di Alengka. Nda’ nate Hanoman lompat pagar dari Prabu Rama masuk memimpin fraksi di Panakawan.
Semar: O iya, iya, Gareng bener. Dari dulu Panakawan ini ya ini-ini saja. Ada bungsu Bagong yang polos tapi ngengkelan. Ada Petruk yang easy going dan happy. Ada Gareng sing kerjaannya tukang analisa.
Petruk: Ada Semar. Sing kebijaksanaannya melebihi dewata tapi entute malah lebih bau dari entut jaran…
Semar: Hush! Eh, iya, empat kekuatan Panakawan itu sebenarnya satu. Satu sebenarnya empat. Papat dadi siji. Siji dadi papat. Ndade’no Jawa Timur…
Gareng: hehe…Iku iklan Pilkada Jawa Timur. Tapi soal partai dan kendaraan tadi itu aku serius.
Petruk: Waduh, serius maneh, Rek?
Gareng: Aku serius. Petruk jangan mengganti papan nama Karang Tumaritis dengan papan nama Partai. Ini beda. Partai-partai sekarang orangnya sedang musim transmigrasi. Mereka meninjing tas ke sana ke mari ngga’ jelas sedang belanja atau mau pindahan, persis lagu campur sari Rondo Kempling. Tahun lalu ngontrak di partai anu, tahun depan bisa boyongan ngontrak di partai lainnya.
Bagong: Ne’ pancen bener ngono, opo’o kok pemimpin partai masih disebut ketua umum? Kok Megawati nda’ dijuluki Ibu Kost PDI-Perjuangan? Kok Jusuf Kalla nda’ Bapak Kost Partai Golkar?
Petruk: Ya, sekarang masih belum, Gong. Nda’ tahu nanti-nanti…Tenang sajalah. Dalam laut dapat diduga, dalam celana siapa tahu.
Gareng: Ehmmm….Saya itu bahwa sesungguhnya prihatin. Prihatin melihat polah tingkah konco-konco di DPR yang jadi kutu loncat utowo pelompat pagar. Ini menunjukkan bahwa partai satu sama lain sudah ngga‘ ada bedanya. Setiap partai nda’ punya keunikan, nda’ duwe ideologi. Jadi orang-orangnya gampang pindah. Yang mereka kejar cuma kursi. Malah Panakawan ideologinya lebih jelas. Setiap masalah kita hadapi dengan empat jadi satu dan kosok baline.
Bagong: Oalah, Gareeeeng, Gareng, kamu itu gaweane mikir tapi goblok, Reng. Pindah-pindah partai itu ndak popo. Karena jare-mu partai itu kendaraan. Yang penting sampe tujuan. Ne’ koen arep nang Situbondo, ndu’ terminal Bungur Asih nda’ onok jurusan Situbondo adanya bus jurusan Jember, lompat saja. Probolinggo turun, pindah dan lompat ke bus jurusan Bondowoso. Besuki turun, pindah dan mencolot bus jurusan Banyuwangi turun tengah jalan di Situbondo. Sampe. Beres.
Petruk: Yo wis, beres, Reng, sana parkir dulu kendaraanmu di bawah pohon sawo jajar.
Gareng: Lho, siapa yang bawa kendaraan? Aku bukan anggota DPR. Aku ini di DPR cuma’ jadi penasihat spiritual sekaligus tempat curhat sekretaris-sekretaris di DPR yang di-faling in love-i bos-bosnya. Aku tadi cuma’ nanya di Karang Tumaritis ini ne’ umpama-ne parkir kendaraan di mana. Ya cuma nanya thok. Siapa yang punya kendaraan? Aku sendiri ke sini ya jalan kaki, mlaku, makanya sampe kurus dan kakiku sampe pengkor-pengkor semua ini, nda’ pake kendaraan apa-apa…
Bagong: Calon independen.
"Klambi Mar Korup" (Panakawan 1)
Ditulis Oleh Sujiwo Tejo
Selasa, 04 November 2008
Petruk: Kang Gareng, mbok mesem. Lihat dandananku sudah berubah. Dulu waktu musim seragam pesakitan Amerika sing abu-abu, anak-anak muda di Indonesia banyak yang pakai. Di jalan-jalan. Di mall. Nduk mana-mana. Sekarang ada trend anyar, baju untuk pesakitan Mar Korup Indonesia. Aku pakai. Sopo ngerti dadi ngetrend juga di kalangan kawula muda nantinya. Hehehe. O ya, ne’ ga’’ngerti Mar Korup, itu cara wong Jawa Timur njuluki tokoh. Dulu tokoh-tokoh ludruk pakai Mar semua kan? Markuat, Markaban, Markeso…
Wah, Mar Gareng, ayo ngguyu. Aduh, nonton awak peno belakangan ini kok gelap terus ya rupa-ne. PLN mati ae sik ada petromak-petromak-e. Banteng paling uiitem masih pakai putih-putih sithik nduk bokong-e. Masih onok hiburan-e. Mukamu babar blas ndak menghibur koyok foto paspor. Ya iki dudu’ urusanku memang. Perkoro tampangmu merengut atau sumringah, iku urusan Kang Gareng dewe. Perkoro sampeyan mau pakai brengos koyok Pak De Karwo, atau ndak brengosan koyok Bu Khofifah Indar Parawansa, ya urusanmu. Aku cuma’ ngomong, mukamu gulita. Wis yo, aku ta’ mancing dulu…
Semar: Eh, tunggu, Truk, Petruk. Jangan pergi dulu. Ojok! Tunggu! Eh, mancing bisa kapan saja. Kalau nggak kebagian ikan di sungai pancing-en ae upilmu dewe. Eh, iki mumpung kita ketemu. Ada Bagong juga. Ayo kita rembuk keno ngopo kok wajah-e Gareng gelap lap lap lap koyok angus kwali soto. Iki penting. Jauh lebih penting dari Pilkada atau malah Pilpres. Sebab kalau dibiar-no, merengutnya Gareng iku akan tahan lama. Lebih tahan lama ketimbang barang-barang gawean Cino. Kalau gelapnya Raden Ajeng Kartini kan cuma’ sebentar. Soalnya habis itu terbitlah terang. Tapi gelapnya Gareng? Wah iki bakal langgeng kalau dibiar-biar-no terus. Mesti ayo kita rembuk. Eh, ada apa gerangan Gareng mbesengut?
Bagong: Alah Mar, Mar, Semar.Mar Semar. Rembukan kok ngrembuk merengut-e Gareng. Mbok ngomong perkoro harga-harga. Iki wis mulai naik-naik lagi lho, ya lombok, ya rokok, ya telor, ya minyak. Gareng iku wayang-e ya memang koyok ngono. Mau Gareng gaya Yogya, gaya Sala, Gaya Banyumasan, gagrak Jawa Timuran, ya merengut terus. Mulut-e kecil dan mingkem. Mata-ne melerok. Yang senyum terus iku kalau nggak bojone Clinton ya Blarak Obama. Nek pengin Gareng gak merengut gampang, dioperasi plastik ae! Beres, Mar!
Semar: Hush! Ndak ngono, Bagong, Wedus. Mumpung kita Repat Panakawan komplit ketemu, ayo rembukan. Panakawan iku mesti merembuk segala sesuatu dengan keempat kekuatan. Yo iku, kekuatan Petruk yang santai. Kabeh perkoro masuk kuping kanan keluar kuping kiri, mangkane disebut Kantong Bolong. Bagong ya kamu iku, wedus, sing polos tetapi pendapat-pendapat-e justru mendasar. Mulane disebut Bawor. Terus ada Gareng yang senengan-e mikir. Mikiiiiiir terus. Kita semua perlu santai dan polos sekaligus merenung. Ndak bisa dipisah-pisah. Supaya kita ndak…?
Petruk: Stress!
Semar: Pinter Petruk. Jadi hidup kita juga lebih manusiawi…Berpikir tapi yo santai, Rek. Berpikir, tapi yo ojok ruwet-ruwet terus, Rek, kadang-kadang pake pikiran-pikiran polos juga.
Bagong: Lha awakmu dewe sebagai opo Mar?
Petruk: Romo Semar ini sebagai moderator. ‘Tul kan Mo?
Semar: Eh, Petruk, aku dewe ndak ngerti amanahku sebagai apa. Pokok-e aku iki Semar. Titik. Ndak pake koma dari alfabet mana pun. Ayo Reng, Gareng, ngomongo please…Koen punya mulut iku njepla’o…
Gareng: Baiklah kalau demikian halnya, Romo. Yen ta’ pikir-pikir, koruptor diklambeni baju khusus iku percuma, Mo. Iki untuk peringatan kan sebenarnya, ne’ korupsi iku bahaya. Podo karo stiker bahaya ngrokok. Persis, Mo. Opo terus dengan stiker iku menungso mandek ngrokok? Orang mulutnya klepas-klepus masih sliweran di mana-mana, yo di langit sing bebas merokok yo di langit-langit sing no-smoking.
Opo maneh kalau baju koruptor iku nanti malah disukai arek-arek, koyok zaman-e trend arek-arek pake baju tahanan londo Amerika. Menungso makin bangga korupsi. Sekarang ae, baju koruptor belum jadi trend ae, kita semua sudah bangga korupsi. Masyarakat juga mendorong para penggede korupsi. Ne’ warga punya hajatan sunat utowo kawin, amplopan-e Pak Camat utowo Pak Bupati ndak gede, wah dirasani. Sing punya hajat itu sakunya ae sudah beda. Amplop dari warga biasa dilebo’no saku bawah, dari pak lurah dan para pejabat di saku atas.
Bagong: Wah Gareng goblok. Pembagian letak amplop iku biar imbang. Ne’ kabeh di satu saku, nanti baju tuan rumah malah njlithet-njlitet…
Petruk: Wah, jancuk, serius banget. Eh, aku pantes gak pakai baju koruptor ini…akan ngetrend gak?
Semar: Pantes. Pantes. Ngganteng. Rasa-ne kabeh wong sak Nuswantoro iki bakal pantes tur ngganteng pakai baju modelmu iku. Eh, Truk, Truk, mau ke mana?
Petruk: Mancing!
Selasa, 04 November 2008
Petruk: Kang Gareng, mbok mesem. Lihat dandananku sudah berubah. Dulu waktu musim seragam pesakitan Amerika sing abu-abu, anak-anak muda di Indonesia banyak yang pakai. Di jalan-jalan. Di mall. Nduk mana-mana. Sekarang ada trend anyar, baju untuk pesakitan Mar Korup Indonesia. Aku pakai. Sopo ngerti dadi ngetrend juga di kalangan kawula muda nantinya. Hehehe. O ya, ne’ ga’’ngerti Mar Korup, itu cara wong Jawa Timur njuluki tokoh. Dulu tokoh-tokoh ludruk pakai Mar semua kan? Markuat, Markaban, Markeso…
Wah, Mar Gareng, ayo ngguyu. Aduh, nonton awak peno belakangan ini kok gelap terus ya rupa-ne. PLN mati ae sik ada petromak-petromak-e. Banteng paling uiitem masih pakai putih-putih sithik nduk bokong-e. Masih onok hiburan-e. Mukamu babar blas ndak menghibur koyok foto paspor. Ya iki dudu’ urusanku memang. Perkoro tampangmu merengut atau sumringah, iku urusan Kang Gareng dewe. Perkoro sampeyan mau pakai brengos koyok Pak De Karwo, atau ndak brengosan koyok Bu Khofifah Indar Parawansa, ya urusanmu. Aku cuma’ ngomong, mukamu gulita. Wis yo, aku ta’ mancing dulu…
Semar: Eh, tunggu, Truk, Petruk. Jangan pergi dulu. Ojok! Tunggu! Eh, mancing bisa kapan saja. Kalau nggak kebagian ikan di sungai pancing-en ae upilmu dewe. Eh, iki mumpung kita ketemu. Ada Bagong juga. Ayo kita rembuk keno ngopo kok wajah-e Gareng gelap lap lap lap koyok angus kwali soto. Iki penting. Jauh lebih penting dari Pilkada atau malah Pilpres. Sebab kalau dibiar-no, merengutnya Gareng iku akan tahan lama. Lebih tahan lama ketimbang barang-barang gawean Cino. Kalau gelapnya Raden Ajeng Kartini kan cuma’ sebentar. Soalnya habis itu terbitlah terang. Tapi gelapnya Gareng? Wah iki bakal langgeng kalau dibiar-biar-no terus. Mesti ayo kita rembuk. Eh, ada apa gerangan Gareng mbesengut?
Bagong: Alah Mar, Mar, Semar.Mar Semar. Rembukan kok ngrembuk merengut-e Gareng. Mbok ngomong perkoro harga-harga. Iki wis mulai naik-naik lagi lho, ya lombok, ya rokok, ya telor, ya minyak. Gareng iku wayang-e ya memang koyok ngono. Mau Gareng gaya Yogya, gaya Sala, Gaya Banyumasan, gagrak Jawa Timuran, ya merengut terus. Mulut-e kecil dan mingkem. Mata-ne melerok. Yang senyum terus iku kalau nggak bojone Clinton ya Blarak Obama. Nek pengin Gareng gak merengut gampang, dioperasi plastik ae! Beres, Mar!
Semar: Hush! Ndak ngono, Bagong, Wedus. Mumpung kita Repat Panakawan komplit ketemu, ayo rembukan. Panakawan iku mesti merembuk segala sesuatu dengan keempat kekuatan. Yo iku, kekuatan Petruk yang santai. Kabeh perkoro masuk kuping kanan keluar kuping kiri, mangkane disebut Kantong Bolong. Bagong ya kamu iku, wedus, sing polos tetapi pendapat-pendapat-e justru mendasar. Mulane disebut Bawor. Terus ada Gareng yang senengan-e mikir. Mikiiiiiir terus. Kita semua perlu santai dan polos sekaligus merenung. Ndak bisa dipisah-pisah. Supaya kita ndak…?
Petruk: Stress!
Semar: Pinter Petruk. Jadi hidup kita juga lebih manusiawi…Berpikir tapi yo santai, Rek. Berpikir, tapi yo ojok ruwet-ruwet terus, Rek, kadang-kadang pake pikiran-pikiran polos juga.
Bagong: Lha awakmu dewe sebagai opo Mar?
Petruk: Romo Semar ini sebagai moderator. ‘Tul kan Mo?
Semar: Eh, Petruk, aku dewe ndak ngerti amanahku sebagai apa. Pokok-e aku iki Semar. Titik. Ndak pake koma dari alfabet mana pun. Ayo Reng, Gareng, ngomongo please…Koen punya mulut iku njepla’o…
Gareng: Baiklah kalau demikian halnya, Romo. Yen ta’ pikir-pikir, koruptor diklambeni baju khusus iku percuma, Mo. Iki untuk peringatan kan sebenarnya, ne’ korupsi iku bahaya. Podo karo stiker bahaya ngrokok. Persis, Mo. Opo terus dengan stiker iku menungso mandek ngrokok? Orang mulutnya klepas-klepus masih sliweran di mana-mana, yo di langit sing bebas merokok yo di langit-langit sing no-smoking.
Opo maneh kalau baju koruptor iku nanti malah disukai arek-arek, koyok zaman-e trend arek-arek pake baju tahanan londo Amerika. Menungso makin bangga korupsi. Sekarang ae, baju koruptor belum jadi trend ae, kita semua sudah bangga korupsi. Masyarakat juga mendorong para penggede korupsi. Ne’ warga punya hajatan sunat utowo kawin, amplopan-e Pak Camat utowo Pak Bupati ndak gede, wah dirasani. Sing punya hajat itu sakunya ae sudah beda. Amplop dari warga biasa dilebo’no saku bawah, dari pak lurah dan para pejabat di saku atas.
Bagong: Wah Gareng goblok. Pembagian letak amplop iku biar imbang. Ne’ kabeh di satu saku, nanti baju tuan rumah malah njlithet-njlitet…
Petruk: Wah, jancuk, serius banget. Eh, aku pantes gak pakai baju koruptor ini…akan ngetrend gak?
Semar: Pantes. Pantes. Ngganteng. Rasa-ne kabeh wong sak Nuswantoro iki bakal pantes tur ngganteng pakai baju modelmu iku. Eh, Truk, Truk, mau ke mana?
Petruk: Mancing!
Langganan:
Postingan (Atom)