OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

20 Juli 2009

Allahu Akbar!




oleh : A Mustofa Bisri


Allahu Akbar!
Pekik kalian menghalilintar
Membuat makhluk-makhluk kecil tergetar

Allahu Akbar! Allah Maha Besar
Urat-urat leher kalian membesar
Meneriakkan Allahu Akbar
Dan dengan semangat jihad
Nafsu kebencian kalian membakar
Apa saja yang kalian anggap mungkar

Allahu Akbar, Allah Maha Besar!
Seandainya 5 miliar manusia
Penghuni bumi sebesar debu ini
Sesat semua atau saleh semua
Tak sedikit pun memengaruhi Kebesaran-Nya

Melihat keganasan kalian aku yakin
Kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman
Yang kasih sayang-Nya meliputi segalanya

Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakan- Nya
Ketika dengan pongah kau melibas mereka
Yang sedang mencari jalan menuju-Nya?

Mengapa kalau mereka
Memang pantas masuk neraka
Tidak kalian biarkan Tuhan mereka
Yang menyiksa mereka
Kapan kalian mendapat mandat
Wewenang dari-Nya untuk menyiksa dan melaknat?

Allahu Akbar!
Syirik adalah dosa paling besar
Dan syirik yang paling akbar
Adalah menyekutukan- Nya
Dengan mempertuhankan diri sendiri
Dengan memutlakkan kebenaran sendiri

Laa ilaaha illallah!

06 Juli 2009

POK DHAH NYUANG

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib



Maqamku Pok Dhah Nyuang

Gelarku Amirul Khulafa

Atasanku Jibril

Bawahanku para panglima

Di benua-benua vertikal dan horisontal

Aparatku Dewi Pesawahan

Bahureksa gunung dan gua-gua

Pengayom hewan dan Pawang hujan

Pasukan kavaleriku melintas-lintas

Di sela-sela benda dan galaksi

Prajurit infantriku tersembunyi

Di setiap bongkahan tanah bumi

Sandhiyudhaku penelusup angin

Bekerjasama dengan pasukan khusus Malaikat

Yang mengendarai cahaya

Bersemayam di bilik persembunyian kalbu manusia



Malam ini kupanggil Kakek Nenek induk bangsa Nusantara

Kutampar mukanya dan hampir kuludahi martabatnya

Merangkak kamu ke sini

Tundukkan kepala

Tundukkan dalam-dalam sampai ke gua rahasia

Atau simpan mukamu di kantung martabat

Kakek nenek moyang memalukan cucu-cucu

Cucu-cucu mencoreng muka kakek nenek moyang

Wajah kalian semua mempermalukan Tuhan

Kemelorotan peradaban kalian terjerembab

Hingga ke ufuk terendah

Kini Tuhan sedang melakukan perhitungan

Dan hasil kalkulasinya kalian tunggu sebentar lagi



Kenapa kau biarkan anak cucumu itu menyusut

Mengecil menjadi sekerdil-kerdilnya makhluk di bumi

Kenapa kau biarkan mereka kehabisan kepercayaan diri

Kehilangan pemahaman alamiah tentang anatomi nilai

Tidak percaya kepada rasa syukur dan ajaibnya rejeki

Sampai mereka jual kepala dengan harga pantat

Mereka ecerkan Tuhan dengan harga dukun

Mereka obral Nabi Rasul dengan tarif pengajian

Mereka loakkan fatwa ditukar dengan kedunguan politik

Mereka banting kartu As kemanusiaan dengan defisit balak-enam

Mereka kakilimakan berkah nasib dengan Ketik Reg

Anak cucumu hidup dalam kemiskinan amat absolut dan sangat mutlak

Ditutup-tutupi dengan kemegahan yang segera ambruk dalam sekejap



Sedangkan Sang Maha Pencipta Tuhan pepunden kita

Pun bangga menciptakan gen unggul mereka

Bahkan mengambilkan segumpal tanah dari sorga

Untuk dihamparkan jadi negeri Nusantara bagi mereka

Kenapa kau biarkan mereka buta dan bodoh berkepanjangan

Mereka buang diri mereka sendiri

Mereka gantikan dengan kepribadian takhayul

Takhayul itu mereka ideologikan dan mereka agamakan

Agama imitasi, Agama tiruan, Agama-agamaan yang dibungkus plastik

Seolah-olah Agama yang diagama-agamakan

Agama takhayul itu mereka undang-undangkan

Menjadi bandul besi raksasa yang menyeret mereka ke dalam jurang

Berduyun-duyun tumpah ruah anak cucumu terjerambab

Bertumpuk-tumpuk bertindih-tindihan bertengkar berkepanjangan

Sampai terpecah-pecah menjadi berpuluh-puluh bagian

*) Dibacakan pada pementasan Musik Puisi "Jangan Cintai Ibu Pertiwi" 3 April 2009, GKJ – Jakarta

20 Juni 2009

Selesai

Cukup sampai disini....!!!!!

Engkau tiada... tintaku juga mengering entah kenapa?

sedangkan aku masih ingin menyelam lebih dalam

sedangkan aku masih ingin terbang lebih tinggi

aku ternyata kalah oleh ketiadaanmu


Pagar Keniscayaan





Mataku kriyep-kriyep
semuanya kabur
samar

tak pernah aku memandang
bahkan aku tak punya kepala untuk membuat suatu pandangan

tepukan dipundak mengingatkanku akan batas
akan pagar-pagar keniscayaan
yang mengandangkanku pada kepasrahan





07 Juni 2009

Sidang Sepi

sstttt….!!!
harap tenang… hati sedang bersidang
mendiskusikan tentang masa depan
perdebatkan tentang harapan dan kasih saying

jangan berisik…!!!
tolong biarkan mereka menimbang-nimbang
tentang kenisbian, tentang hutang piutang
semoga ada kesimpulan sebelum petang

kecilkan suaramu…!!!
jangan sampai suaramu meracuni dialog nurani
suara dengungan nafsu bisa membuat dia sekarat mati
apalagi jika ada angina panas yang mengitrupsi

diamlah….!!!
pidato kalbu begitu mengharu biru
menceritakan tentang takdir yang bisu
mencoba menggalang suara aku palsu

resapi…!!
akal sedang mengotak-atik logika
meng-ilmiah-ilmiahkan peristiwa
meskipun akhirnya gagu dalam tawanya

ssstttt…..!!!!
jangan ikut campur…..

Frustasi

Frustrasi…
gembalaan hati berkurang satu lagi hari ini
entah siapa yang mencuri?
ataukah dia sengaja melariakn diri..?

sedetik, sekelebat…
ada bayangan hitam muncul dibalik diding ragu
menbacanya, memantrai dengan kalimat logika
entah siapa yang lari?
atau inikah yang disebut relatifitas?

Frustasi..
kepala pening, berfikir dengan perasaan
masih takmampu aku memilah pekerjaan organ diri
otak tak dibiarkan berfikir sendiri
selalu saja ada intrupsi dari hati

Manohara

Membaranya api itu dari minyak yang salah…
Keraguan… Meragukan….

Terlanjur sudah memupuk kebencian dengan formula yang penuh tanda tanya…
Ganyang….!!!! Hajar…!!!

Begitu mudahnya hati ini terayu oleh silat lidah jurus tipu-tipu…
Lemah… Bodoh…

Rangkuman tanda tanya disatukan dalam wadah kedunguan menghasilkan keyakinan konyol…

Tersebutlah sebuah kata “Nasionalisme”
Terpekiklah seutas rasa “Lawan”

Bahkan yang dibelapun belum membuktikan apa-apa selain kata-kata
Kita sudah terbakar hangus oleh amarah….!!!

(Keprihatinan atas kedunguan kita dalam menenpatkan kasus Manohara di tatanan kehidupan Bangsa) 

21 Mei 2009

Jangan Cintai Ibu Pertiwi

Pengganan Bait Puisi di pagelaran Musik Puisi Dinasti Emha Kiai Kanjeng " Jangan Cintai Ibu Pertiwi " Gedung Kesenian Jakarta, 3 April 2009

kenapa kau biarakan kau biarkan mereka kehabisan kepercayaan diri?
kehilangan pemahaman alamiah tentang anatomi nilai
tidak percaya atas rasa syukur dan ajaibnya rizki
sampai mereka jual kepala dengan harga pantat
mereka ecerkan Tuhan dengan harga dukun
mereka obral nasib nabi, rasul dengan tarif-tarif pengajian
mereka loakkan fatwa ditukar dengan kedunguan politik
mereka banting kartu As kemanusiaan dengan defisit balak enam
mereka kaki limakan berkah nasib dengan ketik REG
anak cucu hidup dalam kemiskinan yang amat absolud dan sangat mutlak
ditutup-tutupi dengan kemegahan yang segera ambruk dalam sekejap


09 Mei 2009

Gelisah Malam Minggu Ini

terbakar semua harapan
kesepian yang mengering membuat api sangat mudah menghanguskan
oksigen yang berasal hembusan nafas kegelisahan memanjakan api merah
dan, jiwa menggeliat…. Berlari menabrak dinding-dinding kenormalan

terkapar sekujur jiwa dihamparan fana
meratapi ketidakpastian detik-detik takdir yang masih berputar di kisaran tanda tanya
melengkapi keraguan-keraguan yang meneror kehidupan yang semakin cemas
dan, matipun jadi pilihan…. Menelusupkan pasrah di tumpukan ingkar

28 April 2009

Dosa Itu....

Memecah kebuntuan pikir lewat lagu-lagu dzikir
Dendangan lembut mengalirkan darah menuju senja
Suara burung penanda maghrib menggeser langit

Sepi, hanya suara kematian membisiki pelan
Dengkuran penyesalan mengganggu tidur
Serasa ada pahit di peristiwa yang diramu dengan dosa
Lingkar penyesalan membatasi mimpi-mimpi
Bahkan dalam lelap terselip selembar tangis

Dalam renungan dosa, takbisakah kita tersenyum bahagia?

17 Maret 2009

Tengkorak Retak

Karena benturan itu
Tengkorakku retak
Otakku berhamburan

Kerasnya suara dari moncong iblis
Menyerang deras dilubang telinga
Tengkorakku retak
Otakku berhamburan
mengucur dari kendang telinga yang pecah

Gerakan liar dari tangan hasrat
Menghantam keras ke kepalaku
Tengkorakku retak
Otakku berhamburan
Muncrat membasahi tanah kepedihan

Batu api takdir yang jatuh dari langit
Mendarat tepat di ketidakberdayaan
Tengkorakku pecah
Otakku berhamburan
Membasahi kebimbangan-kebimbangan keyakinan

Tengkorakku retak
Sisa-sisa kasih sayang mencoba menyulam
Otakku berhamburan
Sisa-sisa iman merangkai serpihan hati

01 Maret 2009

Lakukan....!!!

sembarangan…….
kami tak melewati tangga, jalan dan titian dengan sembrono

jangan asal bicara kamu,
tak kau dengarkan pagi tadi ayam telah berkokok

jaga suaramu
maling tak berubah jadi kyai dengan teriakan “MALING…!”
batu yang kau lempar tak akan bisa jadi nasi bagi fakir

simpan simpatimu
teorimu akan membeku dalam otakmu….
rasa ibamu tak lama membusuk di hatimu

bergerak…..
lakukan….

25 Februari 2009

Lukisan Bejo

Ternyata Bejo bukan pelukis hebat
Warna-warna yang tadinya indah
Setelah di campur Bejo menjadi carut marut

Hijau yang harusnya sejuk itu
Nyatanya menjadi suram, bahkan kejam
Biru yang katanya mendamaikan mata
Akhirnya sering mengusik cahaya-cahaya
Bahkan kabarnya warna putih tak terlihat suci

Semua warna berebut untuk menonjol
Saling mendih, salang mencoret
Goretan-goretan tak teratur,
menjadi tarian warna yang kacau

Entah kenapa Bejo tak menyadarinya?
Bahwa warna-warna itu menyakitkan mata, batin ataupun jiwa
Entah bagaimana akhirnya lukisan ini?
Tangan Bejo belum juga berhenti menggurat kekacauan

Bejo... Bejo...

24 Februari 2009

Bocah Tak Lagi Lincah

Dalam titian waktu
Bocah malam termangu
Mendengar dendangan pemuda tentang masa depan

Di ruang gelap kalbu
Bocah malang tersipu
Melihat senyuman ibunda saat menarik awan-awan

Saat cahaya senja membelai
Bocah lugu tergulai lunglai
Menyadari matahari yang akan mati dalam detik nanti

Sang bocah tak lagi selincah kemarin
Dia terpukul
Dia tersingkirkan dari daftar takdir
Dia hampir pingsan di terjalan ketidakberdayaan

23 Februari 2009

Ketersesatan

Aku lah yang memutuskan
Aku lah yang mencapakkan
Aku lah yang membuat hubungan ini berantakan
Dan Aku lah yang mencoba melupakan

Kita tak bisa lagi bernyanyi
Tentang lagu rindu, lagu bahagia ataupun lagu luka

Tak kudapati tempat untuk mengeluh
Namun entah mengapa aku tak kunjung kembali

Tak kudapati tempat untuk cerita bahagia
Tapi entaj kenapa aku juga mencari jalan pulang

Kusesali, tapi aku tersesat dalam penyesalan
Kehilangan, namun aku masih mencari yang tak kubutuhkan
Kesepian, tapi telingaku sakit saat mendengar dendangan tanda-tanda

Kuingat waktu Kita bercengkrama dalam kabut peristiwa
Kuingat saat Kita bercumbu dimalam bahagia
Kuingat waktu Aku mendapatkan jawab atas kebingungan
Kuingat saat pedihnya hati setelah perselingkuhanku dengan fana

Ingin kuakhiri kelana tanpa arah ini
Kembali bersujud pada-Mu
Mengelar sajadah, mengurai penyesalan
Menyebut asma-Mu di butir-butir tasbih

Ya... Allah....
Berikan aku waktu untuk memecahkan ketersesatanku ini

22 Februari 2009

Bledug Lagi

Dia masih bledug yang dahulu
Yang tak perlu mengenal kitab suci untuk tidak mencuri
Yang selalu sabar menghadapi takdir meskipun tak pernah mendengar ceramah kyai ato pendeta

Yang memperjuangkan hidup tanpa kematian orang lain
Yang mendirikan kehormatan diri tanpa menrendahkan yang lain

Omong Kosong

tidak kah ada akhir dari semua omong kosong ini?
mataku jemu sekaligus muak dengan tebaran-tebaran kata
telingaku bising oleh dialog-dialog kedengkian dan makian

pujangga seakan malu melihat begitu hebatnya mereka :
mereka yang lihai membungkus kebusukan dengan rentetan kata mutiara

ribuan jurus baru dalam gelanggang silat lidah telah diciptakan
membuat para fakir semakin sulit untuk berfikir dan akhirnya keyakinan terjungkir

tidak kah ada akhir dari semua omong kosong ini?
gambar-gambar terpapar secara murahan dijalanan bersanding dengan kegelisahan
seakan senyuman-senyuman itu bisa mengobati luka menganga para nestapa

tidak kah ada akhir dari semua omong kosong ini?
korban pembodohan bersorak ria melihat jagoannya telah berhasil membohonginya
mereka berdansa seakan tarian itu untuk selamanya, nyatanya hanya sementara

21 Februari 2009

Ponari

Ponari
antara kemiskinan dan keyakinan
antara iman dan kekufuran
menuju kekafiran
menuju kegelisahan

09 Februari 2009

Betapa Aku Ini

Betapa peko’nya diri ini
Baru aku tau, iblis yang aku prasangkai selama ini
Ternyata tak bersalah
Ternyata tak mengerti apa-apa tentang polah tingkahku ini
Yang selalu aku tuduh-tuduh itu
Yang tiap malam hari aku curigai
Menertawaiku, karena kesalahanku itu
Karena kegoblokanku dalam menghakimi situasi
Ini karena guru ngajiku, guru SD-ku, sodaraku
Pamanku, pak deku, tetanggaku selalu mengajari tentang prasangka
Tentang curiga pada iblis, setan dan dajjal

Ah… tu kan….
Aku lagi-lagi menyalahkan orang lain….

Betapa cerdiknyanya diri ini
Ku bolak-balikkan kata untuk pembenaran
Rasa ini kupontang-pantingkan untuk cari enaknya saja
Betapa kerdilnya jiwa ini
Hingga mata batin ini kesulitan melihat besarnya najis diri
Hingga batu raksasa yang menindihku ini tak aku beratkan,
Kerana aku sibuk mencari celah-celah kecil di batu itu untuk menuju keselamatan

Tentunya keselamat diri, tanpa menhiraukan
Tanpa memikirkan
Tanpa mengilmukan
Kenapa batu menindih
Berapa besar dan berat batu itu
Atau bagaimana agar tak tertindih batu lagi

Betapa konyolnya aku ini
Masih bisa cekak-cekik ditengah derita dan coba
Dagelan rasa dipentaskan ditengah hujan air mata
Banyolan perilaku diutaraakan di bawah payung hitam duka
Entah ketawa menghina atau ketawa peralihan rasa
Aku masih gamang untuk menentukannya

Betapa percaya dirinya aku ini
Membebankan semua kesalahan pada iblis
Kemudian melenggang dengan topeng arjuna di tengah nyawa-nyawa
Dan tanpa aku sadari, mereka yang melihatku tertawa
Cekikik-an seperti melihat tukul dengan laptopnya

Betapa dangkalnya pikirku ini
Sumur kehidupan kubuat dengan kedalaman hanya sejengkal
Hingga hanya mampu menampung air hujan
Dan ketika kemarau, jiwaku menggeliat kehausan

Betapa cebolnya ilmuku ini
Hingga ide-ide yang aku junjung-junjung ini tak bisa melebihi hasrat
Dan kemalasanku, keenggananku untuk menguntai kayu menjadi galah
Membuat diri terpaku di ketidakberdayaan
Ketidakberdayaan untuk mengibarkan bendera keberadaan

07 Februari 2009

Aku Tak Mampu Lagi Bernyanyi

Aku tak mampu lagi bernyanyi
Aku kelimpungan untuk menentukan nada
Bahkan untuk nada pertama
Bahkan untuk genre musik itu
Aku tak mampu lagi bernyanyi
Aku tergulung dalam kepenatan suasana
Dalam kehampaan peristiwa
Dalam kenisbian makna

Aku tak mampu lagi bernyanyi
Tak ada yang mampu menyumbangkan kata
Tak seperti dulu,
Seperti ketika masih ada cahaya
Meskipun silau
Dan dari silau itu terukir ucap, kata dan rangkaian makna
Peristiwa yang bukan lakon,
Lebih pada rasa

Aku tak mampu lagi bernyanyi
Gitar yang bernama cinta itu retak
Suaranya tak lagi merdu
Bunyinya menjadi gamang
dan semakin gamang dalam rinduan

bagiku tak ada lagi lagu yang pantas untuk kita nyanyikan
atao aku nyanyikan sendiri