OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

21 Februari 2010

Islam Lokal

Beberapa tahun yang lalu, saya menghadiri sebuah akad nikah seorang sahabat. Dalam akad itu, menggunakan bahasa arab. Entah karena alasan apa, sahabat saya itu menggunakan cara itu, tapi yang pasti saya sekarang sering menjupai hal itu di masyarakat. Dan itu sudah menjadi hal biasa. Lumrah, bahkan menjurus ke tren.

Setelah selesai, kemudian ditutup dengan do’a-do’a, seorang sahabat lain yang duduk disamping saya nanya ama saya.

“Sah nikahnya?” tanyanya

Aku agak kaget dengan pertanyaannya itu, apakah ada yang salah dalam akad nikah tadi? “emangnya kenapa?” tanyaku bingung.

“Nggak apa-apa, cuma nanya… menurutmu nikah tadi sah apa nggak? Kita kan juga termasuk dalam saksi…?

“Kalo menurutku sah” jawabku

“Emang kamu ngerti bahasa Arab?”

“Nggak…”

“Trus kenapa berani kamu bilang itu sah?” dia terus mengejar. Dan sekarang saya mengerti kemana arah pertanyaanya itu.

“Ya karena orang banyak bilangnya sah” jawabku sekenanya. Kemudian disusul oleh tawa kita berdua.

Saat itu, pertanyaan itu hanya aku tanggapi sebagai pertanyaan ringan untuk bahan becandaan saja. Namun, di lain waktu saya sering memikirkannya secara serius. Dewasa ini, ada “perkembangan” budaya masyarakat dalam ber-Islam. Saya tidak mencatatnya dalam kerangka sejarah sebenarnya, ini lebih pada perkembangan pengetahuan saya tentang budaya beragama kita. Maksudnya, saya lahir dan besar dilingkungan “Islam abangan”, pengetahuan saya sampai saya umur belasan tahun bahwa agama dijalankan dengan “semi kejawen”. Kemudian saya berjalan-jalan ke berbagai budaya, dan mendapatkan ada elemen-elemen masyarakat yang menjalankan Islam secara beda (berbeda dengan yang saya temui waktu kecil). Entah perbedaan itu baru datang, atau saya yang baru mengetahuinya. Saya belum melakukan kajian khusus tentang itu.

Dulu, bahkan dipesantren saya belum pernah dengar santri menyapa santri lain dengan ukhti atau akhi. Tapi sekarang? Bahkan itu sudah menjadi semacam tren tersendiri. Tidak sah rasanya kalau dalam “pergaulan Islam” saat ini jika tidak menyapa saudaranya dengan sapaan itu. Suatu waktu, saat saya diskusi kemudian teman diskusi saya memakai istilah arab, kalo nggak salah waktu itu dia menggunakan kata “kuffah”, lantaran tidak faham, saya nanya sekaligus saran. “tolong jangan pakai istilah arab dong, saya ini Islam jawa” pinta saya dengan sedikit bercanda. Dan alhamdulillah dijawab “Ga tau 'kuffar' artinya antum kurang ngerti islam itu sendiri dong akhi. Malu sama muallaf”

Nah, kadar ke-Islam-an saya dikatakan kurang sempurna jika tidak mengerti istilah-istilah itu. Saya sama sekali tidak keberatan jika dibilang saya belum mengerti Islam, dalam tulisan sebelumn saya juga pernah menyatakan bahwa saya “agak malu” menyebut diri saya Islam, sementara masih banyak dosa yang saya lakukan.

Disatu sisi, saya senang dengan fenomena “perkembangan” ke-Islam-an di masyarakat, namun disisi lain ada sedikit kegamangan dalam diri saya. Suatu waktu, di dalam sebuah acara rutin, seorang kiai yang kita undang berceramah dan menutup acara dengan berdo’a panjang menggunakan bahasa arab. Saya dan jamaah lain mengamini, seperti biasa, “amin” yang datar. Namun, dihari yang berbeda, diacara yang serupa seorang yang kita undang berdo’a dengan gaya lokal, bahasa yang dimengerti secara harfiah oleh jamaah. Iseng-iseng saya lirik kira dan kanan, ternyata jamaah banyak yang meneteskan air mata saat do’a dipanjatkan.

Kalau sudah seperti ini, kira-kira do’a yang punya pengaruh disisi “pendo’a” itu yang mana?. Saya tidak menilai pandangan Allah tentang dua macam do’a itu. Biarlah itu menjadi urusannya Allah. Saya ingin mengkaji, bagi sang pendo’a; kira-kira yang paling punya pengaruh, do’a yang berbahasa arab fasih secara pengucapan atau bahasa lokal yang fasih secara penghayatan?

----
Tembagapura, 21 februari 2010

1 komentar:

  1. Borgata Hotel Casino & Spa - JTR Hub
    Located in 출장안마 Atlantic City, Borgata Hotel https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ Casino & Spa offers the finest in amenities casinosites.one and entertainment. nba매니아 It also provides a poormansguidetocasinogambling.com seasonal outdoor swimming

    BalasHapus