OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

21 Februari 2010

Rok Lambang Kejantanan

Iseng-Iseng saya mencoba nimbrung di sebuah forum diskusi tentang hukum orang laki-laki yang menyerupai laki, dan sebaliknya. Dikatakan bahwa dalam hukum Islam, tidak diperkenankan seorang wanita yang menyerupai laki-laki baik dalam sikap maupun berpakaian, begitu pula sebaliknya.

Dalam diskusi yang diikuti oleh “kaum” yang sering menyapa saudara-saudaranya dengan “akhi” dan “ukhti” itu disebutkan salah satu dasar. Di riwayatkan dari Abu Hurairah Rodhiallahu anhhu ia berkata; ''Rosulallah salallahualaihi wassalam telah melaknat laki-laki yg memakai pakaian wanita & wanita yg memakai pakaian laki-laki.''(H.R.Abu Dawud & Al-Hakim)

Saya sama sekali tidak bermaksud “membantah” hadist itu. Saya memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar. Saya cuma teringat oleh sebuah film yang menggambarkan seorang sconlandia yang menggunakan pakaian agak aneh –yang kalau di Indonesia mirip rok perempuan—. Dalam budaya kita, pakaian itu saya yakin akan di klaim sebagai pakaian wanita, tapi saya tidak yakin jika menggunakan kaca mata budaya di scotlandia? Bisa jadi “rok” yang dipakai oleh mereka itu malah dipandang sebagai lambang kejantanan.

Trus saya bertanya dalam forum itu, “seorang laki-laki scotlandia yang menggunakan rok, tidak akan dipandang sebagai menyerupai wanita, karena disana hal itu wajar. Tapi dalam budaya kita, hal itu akan dianggap menyerupai wanita…. Nah, Kira-kira Tuhan menggunakan standarisasi yang mana? Budaya mana yang menjadi tolak ukur…? Jawa, Arab, Scotlandia atau Papua?”

Dan Alhamdulillah, pertanyaan itu dijawab dengan sangat membingungkan. Mungkin karena kapasitas otak saya yang kecil, serta cara pandang saya yang terlalu sempit, atau bahkan karena kadar iman saya yang masih encer?

Ada yang bisa bantu jawab? Kalo menjawab, tolong jangan pake bahasa yang susah dimengerti oleh seorang “Islam Abangan” seperti saya ini.

-----
Tembagapura, 21 Februari 20010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar