OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

07 Januari 2010

Mustafa Kemal Ataturk


Saat saya posting sebuah artikel dari kompas.com yang berjudul “Ataturk, Mahatma Gandhi dan Gus Dur”. Isi artikel itu secara garis besar menggambarkan peranan masing-masih tokoh di negaranya. Mereka adalah pahlawan bagi sebagian besar rakyat negara dimana mereka “berjuang”.

Seorang sahabat baik saya bertanya, “masa’ Attaturk masuk kategori…?”. Saya sebenarnya ingin balik bertanya, “Apa yang menyebabkan Atataturk tidak masuk kategori?”. Namun, sebelum saya mendebat balik dengan pertanyaan itu, saya sadar bahwa setiap individu memiliki sudut pandang tersendiri dalam menilai sesuatu.

Saya tidak mengenal dengan baik tentang sosok seorang Atataturk, seorang pejuang Turki yang mempunyai nama asli Ghazi Mustafa Kemal Pasha, dan sejak tahun 1934 lebih dikenal dengan nama “Mustafa Kemal Ataturk”. Berdasarkan pengetahuan saya, “Ataturk” itu adalah sebuah gelar, dan untuk saya pribadi, dilihat dari sisi pemberian gelar oleh masyarakat, “Ataturk” saya samakan dengan gelar “Mahatma” dan juga “Gus”. Jadi tanpa lebih dahulu kita mempelajari Mustafa Kemal Ataturk lebih dalam, saya mengambil kesimpulan sederhana bahwa gelar yang ada pada namanya tersebut tidak akan diraih tanpa ada yang telah diperbuat bagi rakyatnya. Kalau dia tidak punya peranan bagi rakyat, saya yakin namanya tidak akan diabadikan menjadi nama Bandara, Stadiun, jembatan dan bahkan patung Ataturk masih banyak berdiri di Turki.

Kenapa Atataturk “diragukan” teman saya?. Saya sempat “ber-su’udzon -ria” terhadap sahabat saya itu. Jangan-jangan (jangan-jangan lho ya…), Ataturk “tidak dianggap” karena dia “menggulingkan” pemerintahan Islam (Kekaisaran Ottoman) di Turki. Budaya Islam yang sangat kuat di Turki tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah gagasan skulerisme yang diusung oleh Mustafa Kemal Ataturk. Karena sebagian pemeluk Islam yang taat merasa gagasan sekularisme ini bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan kata lain, saya mencurigai sahabat saya tadi menilai Ataturk dari sudut pandang “keislamannya”.

Saya juga mencurigai, jangan-jangan Gandhi juga dikagumi oleh para muslim karena dia “terkesan” membela Islam. Tindakannya waktu konflik antara umat Hindu dan Islam di India, meletakkan Gandhi “terkesan” memperjuangkan Islam, dan kesalahpahaman itu membuat beliau akhirnya wafat dibunuh oleh pemuda Hindu. Ironisnya, disisi lain diwaktu yang hampir sama, seorang Muslim bernama Badshah Khan “didzolimi” oleh pemerintahan Islam di Pakistan karena terkesan berkhianat terhadap Islam, karena dia mati-matian menolak pemisahan antara India dan Pakistan, yang pada saat itu pemisahan itu “diartikan” sebagai pemisahan antara Hindu dan Islam.

Jangan-jangan, kita (muslim) lebih mengenal Gandhi dibanding Khan karena Gandhi lebih membela Islam dan Khan berkhianat pada Islam. (jangan-jangan lho ya…). Sehingga saya sendiri baru mengenal sosok Khan beberapa tahun terakhir, sementara lingkungan saya yang mayoritas muslim dari dulu hanya “memperkenalkan” Gandhi, bukannya Badshah Khan yang muslim.

Dan Gus Dur, banyak juga diantara kita yang awam ini kadang bingung dengan “keislaman” beliau. Hanya saja, di bawah tidak terlalu meributkan itu, karena secara kultur mereka telah diajari tentang pelajaran “opo jare kyai”. Meskipun banyak orang-orang pintar diatas yang “ribut” dengan Gus Dur, tapi ibuku yang orang kampung masih tetep dengan pedoman “Opo jare Gus Dur”.

Cara memandang yang berbeda-beda inilah yang membuat sebagian orang “meragukan” seorang tokoh, namun disisi lain ada sebagian lagi yang “memuja” tokoh tersebut. Saya kemudian berkesimpulan bahwa pertanyaan sahabat saya tentang kenapa Ataturk masuk kategori sebagai seseorang yang patut dibanggakan, saya samakan dengan sikap beberapa orang yang “mempertanyakan” usulan agar Gus Dur dijadikan Pahlawan. []

-----

Maaf, hari ini saya banyak banget curiga

Tembagapura, 6 Desember 2010

03 Januari 2010

Sang Guru Tinggalkan Kita


[Jawa Pos : Sabtu, 02 Januari 2010 ]


GUS DUR adalah tokoh besar. Kebesarannya, seperti kita tahu, dia bangun dari setiap jengkal waktu yang dia miliki. Bukan dari sela waktunya yang tersisa dari urusan kepentingannya untuk mengurus diri sendiri. Yang Gus Dur inginkan adalah yang juga kita ingini. Dalam perjuangannya, selalu ada kita di dalamnya.

Kebesaran Gus Dur, kita semua menyaksikan, dia bangun dengan tumpukan kesederhanaan hidup dan sikap rendah hati. Dia kumpulkan butiran pasir nilai hidup hingga tersusun harmoni hidup bersama. Gus Dur memberi kita warisan untuk selalu berjiwa besar. Bukan mempertunjukkan warisan yang sebenarnya telah dia warisi sebagai anak seorang menteri.

Dalam kesederhanaan, Gus Dur bahkan tak pernah merasa kecil, apalagi gentar, untuk mengikis tirani Orde Baru yang beku dan militeristik hingga betul-betul meleleh pada waktunya. Terus menjaga kesabaran dalam ketertindasan, tidak berangasan ketika sedang turun di jalan. Tidak arogan saat kuasa ada di tangan. Gus Dur merombak aneka aturan dan tatanan, bukan untuk melanggengkan kekuasaan, tapi untuk kebenaran yang sewajarnya.

Kebesaran KH Abdurrahman Wahid, kita semua merasakan, dia bangun dengan semangat kesetaraan dan kepedulian terhadap kelompok minoritas. Bukan lewat pencitraan dan kampanye penggelembungan.

Gus Dur adalah sahabat siapa saja. Bersahabat dengan yang berbeda pendapat. Berteman dengan yang tak sealiran. Koncoan dengan etnis yang berbeda. Membangun hubungan lintas agama, mengajak untuk tumbuhnya persaudaraan antarnegara, eratnya pertalian multikultur, bersatunya semua warna.

Gus Dur tak pernah lupa untuk bercanda. Biar apa? Biar kita tertawa, biar dunia tertawa. Bill Clinton hingga Fidel Castro pun tertawa terguncang dengan kecerdasan joke-nya. Yang sedih, yang sedang terpojok, yang sedang menderita, yang teraniaya, bisa tiba-tiba tertawa. Gus Dur tentu harus bekerja sangat keras untuk menghibur kita. Sebab, dia tahu, betapa banyak rakyat yang terimpit duka derita.

Gus Dur adalah orang yang membebaskan warga Tionghoa merayakan tahun baru Imlek. Sebab, merayakan datangnya tahun baru versi apa pun adalah merayakan datangnya kegembiraan. Di antara banyak pemimpin yang kita milki, Gus Durlah yang mengajari kita untuk tidak berprasangka buruk terhadap budaya yang datang dari warna kulit berbeda.

Gus Dur adalah guru bangsa terbaik yang kita miliki. Dia tak pernah lelah untuk memberikan pelajaran hidup demokratis, damai, rukun, meski kita dalam perbedaan yang tak terhindarkan.

Sebagai guru, Gus Dur bukan sosok yang kaku. Guru yang tak pernah menciptakan jarak antara si Bapak yang pandai dan si murid yang dungu sekalipun. Gus Dur memberi kita pelajaran abadi. Yang bisa dikaji hingga anak-cucu nanti. Dalam memberi teka-teki, Gus Dur adalah maestro tanda tanya. Yang bisa membuat rakyat seluruh Indonesia penasaran dan menyerah untuk menemukan kuncinya. Dan ketika semua telah menyerah, Gus Dur cukup berkata: gitu aja kok repot.

Gus, sekarang engkau telah tinggalkan kita semua. Betapa rindu kami akan gurau, tawa, dan keterbukaanmu nanti. Ketika oleh Orde Baru kau dianggap melawan dan yang lain tunggang-langgang ketakutan, kamu cukup bilang: prek! Kami diam menunggu reaksi apakah kamu akan dimarahi? Ternyata tidak. Kami tetap bisa memilikimu.

Abdurrahman Ad-Dhakil, kamu adalah pendobrak berbagai kesakralan dan kebekuan. Kau buka lebar-lebar pintu istana. Istana negara adalah istana rakyat. Kau buka lebar-lebar jendela kebebasan pers. Sebab, kau tahu, kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan pilar penting untuk tegaknya demokrasi.

Sekarang Gus, kamu telah tinggalkan kami di sini. Maafkan kalau sebagai murid tetap seperti siswa taman kanak-kanak yang tak pernah beranjak pintar dan dewasa seperti yang kamu inginkan.

Maafkan kami sebagai muridmu Gus, yang malas mengkaji sanepo-sanepomu dan ogah-ogahan menelaah arti penting demokrasi. Sepanjang waktu murid-muridmu terus tawuran dan kamu tak pernah lelah nemberikan jalan tengah.

Selamat jalan Gus, sejujurnya kami sangat kehilangan... (*)

26 Desember 2009

Selamat Tahun baru


Oleh: A. Mustofa Bisri

Kawan, Sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan
Sebelum kita dihisabNya (A. Mustofa Bisri, Antologi Puisi Tadarus)


Tahun ini, tahun baru Hijriyah hampir bersamaan dengan tahun baru Masehi. Biasanya tahun baru Masehi disambut dengan hiruk-pikuk luar biasa. Sementara tahun baru Hijriyah yang sering diidentikkan dengan tahun Islam, tidak demikian. Tidak ada trek-trekan sepeda motor di jalanan. Tidak ada terompet. Tidak ada panggung-panggung hiburan di alon-alon.

Yang ada di sementara mesjid, kaum muslimin berkumpul berjamaah salat Asar –meski biasanya tidak—lalu bersama-sama berdoa akhir tahun; memohon agar dosa-dosa di tahun yang hendak ditinggalkan diampuni oleh Allah dan amal-amal diterima olehNya. Kemudian menunggu salat Maghrib –biasanya tidak—dan salat berjamaah lalu bersama-sama berdoa awal tahun. Memohon kepada Allah agar di tahun baru dibantu melawan setan dan antek-anteknya, ditolong menundukkan hawa nafsu, dan dimudahkan untuk melakukan amal-amal yang lebih mendekatkan kepada Allah.

Memang agak aneh, paling tidak menurut saya, jika tahun baru disambut dengan kegembiraan. Bukankah tahun baru berarti bertambahnya umur? Kecuali apabila selama ini umur memang digunakan dengan baik dan efisien. Kita tahu umur digunakan secara baik dan efisien atau tidak, tentu saja bila kita selalu melakukan muhasabah atau efaluasi. Minimal setahun sekali. Apabila tidak, insyaallah kita hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah; atau bahkan lebih buruk dari yang sudah. Padahal ada dawuh: “Barangsiapa yang hari-harinya sama, dialah orang yang merugi; barangsiapa yang hari ini-nya lebih buruk dari kemarin-nya, celakalah orang itu.”

Apabila kita amati kehidupan kaum muslimin di negeri kita ini sampai dengan penghujung tahun 1428, boleh jadi kita bingung mengatakannya. Apakah kehidupan kaum muslimin --yang merupakan mayoritas ini-- selama ini menggembirakan atau menyedihkan. Soalnya dari satu sisi, kehidupan keberagamaan terlihat begitu hebat di negeri ini.
Kitab suci al-Quran tidak hanya dibaca di mesjid, di mushalla, atau di rumah-rumah pada saat senggang, tapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ. Bahkan pada bulan Ramadan diteriakan oleh pengerassuara-pengerassuara tanpa pandang waktu. Lafal-lafalnya ditulis indah-indah dalam lukisan kaligrafi. Malah dibuatkan museum agar mereka yang sempat dapat melihat berbagai versi kitab suci itu dari yang produk kuno hingga yang modern; dari yang berbentuk mini hingga raksasa. Akan halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga sesekali dijadikan bahan khotbah dan ceramah para ustadz. Didiskusikan di seminar-seminar dan halqah-halqah. Bahkan sering dicuplik oleh beberapa politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai..

Secara ‘ritual’ kehidupan beragama di negeri ini memang dahsyat. Lihatlah. Hampir tidak ada tempat ibadah yang jelek dan tak megah. Dan orang masih terus membangun dan membangun mesjid-mesjid secara gila-gilaan. Bahkan di Jakarta ada yang membangun mesjid berkubah emas. (Saya tidak tahu apa niat mereka yang sesungguhnya membangun rumah-rumah Tuhan sedemikian megah. Tentu bukan untuk menakut-nakuti hamba-hamba Tuhan yang miskin di sekitas rumah-rumah Tuhan itu. Tapi bila Anda bertanya kepada mereka, insya Allah mereka akan menjawab, “Agar dibangunkan Allah istana di surga kelak”. Mungkin dalam pikiran mereka, semakin indah dan besar mesjid yang dibangun, akan semakin besar dan indah istana mereka di surga kelak.
(Terus terang bila teringat fungsi mesjid dan kenyataan sepinya kebanyakan mesjid-mesjid itu dari jamaah yang salat bersama dan beri’tikaf, timbul su’uzhzhan saya: jangan-jangan mereka bermaksud menyogok Tuhan agar kelakuan mereka tidak dihisab).

Tidak ada musalla, apalagi mesjid, yang tidak memiliki pengeras suara yang dipasang menghadap ke 4 penjuru mata angin untuk melantunkan tidak hanya adzan. Bahkan ada yang sengaja membangun menara dengan beaya jutaan hanya untuk memasang corong-corong pengeras suara. Adzan pun yang semula mempunyai fungsi memberitahukan datangnya waktu salat, sudah berubah fungsi menjadi keharusan ‘syiar’ sebagai manifestasi fastabiqul khairaat; sehingga sering merepotkan mereka yang ingin melaksanakan anjuran Rasulullah SAW: untuk menyahuti adzan.

Jamaah dzikir, istighatsah, mujahadah, dan muhasabah menjamur di desa-desa dan kota-kota. Terutama di bulan Ramadan, tv-tv penuh dengan tayangan program-program ’keagamaan’. Artis-artis berbaur dan bersaing dengan para ustadz memberikan ‘siraman ruhani’ dan dzikir bersama yang menghibur.

Jumlah orang yang naik haji setiap tahun meningkat, hingga di samping ketetapan quota, Departemen Agama perlu mengeluarkan peraturan pembatasan. Setiap hari orang berumroh menyaingi mereka yang berpiknik ke negara-negara lain.

Jilbab dan sorban yang dulu ditertawakan, kini menjadi pakaian yang membanggakan. Kalimat thoyyibah, seperti Allahu Akbar dan Subhanallah tidak hanya diwirid-bisikkan di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla, tapi juga diteriak-gemakan di jalan-jalan.

Label-label Islam tidak hanya terpasang di papan-papan sekolahan dan rumah sakit; tidak hanya di AD/ART-AD/ART organisasi sosial dan politik; tidak hanya di kaca-kaca mobil dan kaos-kaos oblong; tapi juga di lagu-lagu pop dan puisi-puisi.

Pemerintah Pancasila juga dengan serius ikut aktif mengatur pelaksanaan haji, penentuan awal Ramadan dan ‘Ied. MUI-nya mengeluarkan label halal (mengapa tidak label haram yang jumlahnya lebih sedikit?) demi menyelamatkan perut kaum muslimin dari kemasukan makanan haram.
Pejuang-pejuang Islam dengan semangat jihad fii sabiilillah mengawasi dan kalau perlu menindak –atas nama amar ma’ruuf dan nahi ‘anil munkar-- mereka yang dianggap melakukan kemungkaran dan melanggar peraturan Tuhan. Tidak cukup dengan fatwa-fatwa MUI, daerah-daerah terutama yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun berlomba-lomba membuat perda syareat.

Semangat keagamaan dan kegiatan keberagamaan kaum muslimin di negeri ini memang luar biasa. Begitu luar biasanya hingga daratan, lautan, dan udara di negeri ini seolah-olah hanya milik kaum muslimin. Takbir menggema dimana-mana, siang dan malam. Meski namanya negara Pancasila dengan penduduk majmuk, berbagai agama diakui, namun banyak kaum muslimin –terutama di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam— seperti merasa paling memiliki negara ini.

Barangkali karena itulah, banyak yang menyebut bangsa negeri ini sebagai bangsa religius.

Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis dalam kehidupan bangsa yang religius ini. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan yang sudah disinggung tadi, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah benda-benda asing yang tak begitu dikenal.

Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur kesepian dan rendah diri.
Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin agung Muhammad SAW dan para shahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.

Disiplin yang dididikkan agama seperti azan pada waktunya, salat pada watunya, haji pada waktunya, dsb. tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.

Plakat-plakat bertuliskan “An-nazhaafatu minal iimaan” dengan terjemahan jelas “Kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.

Kesungguhan yang diajarkan Quran dan dicontohkan Nabi tak mampu mempengaruhi tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.
Di atas, korupsi merajalela (Bahkan mantan presiden 32 tahun negeri ini dikabarkan menyandang gelar pencuri harta rakyat terbesar di dunia). Sementara di bawah, maling dan copet merebak.

Jumlah orang miskin dan pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.

Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini. Cukuplah satu berita ini: KPK baru-baru ini menangkap Koordinator Bidang Pengawasan Kehormatan Keluhuran Martabat dan Perilaku Hakim Komisi Yudisial saat menerima suap.

Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar. Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya..

Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama, bahkan sesama anggota organisasi keagamaan yang satu, setiap hari tidak hanya berbeda pendapat, tapi bertikai. Seolah-olah kebenaran hanya milik masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah perbedaan.

Kekerasan dan kebencian, bahkan keganasan, seolah-olah menantang missi Rasulullah SAW: rahmatan lil ‘aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan tatmiimu makaarimil akhlaaq, menyempurnakan akhlak yang mulia.

Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.

Waba’du; jangan-jangan selama ini –meski kita selalu menyanyikan ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”—hanya badan saja yang kita bangun. Jiwa kita lupakan. Daging saja yang kita gemukkan, ruh kita biarkan merana. Sehingga sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Lalu, bila benar, ini sampai kapan? Bukankah tahun baru ini momentum paling baik untuk melakukan perubahan?

Selamat Tahun Baru !

-----

31 Desember 2008
source: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2

20 Desember 2009

Joko dan Agama Barunya

Beberapa minggu yang lalu, seorang sahabat tiba-tiba berbisik kepadaku. “Eh, tau nggak…?? Kabar si Joko?” bisiknya padaku sambil matanya melirik kesana kemari, sepertinya dia takut apa yang dibicarakan itu didengar orang lain.

“Ada apa dengan Joko?”

“sssttt…!!!, jangan keras-keras…” dia meperingatkanku.

“Ada apa sih, rahasia banget ya?” aku juga mulai ketularan berbisik.

“Joko sekarang udah pindah agama….!!! Keluar dari Islam…!!” Sahabat saya itu berkata sambil mencibirkan bibirnya, seakan ada aura kebencian atau mungkin juga hanya sekedar kekecewaan.

“Oh ya…??” Aku pura-pura kaget, sebenarnya aku tidak senang untuk membahas masalah seperti ini, apalagi pake acara berbisik-bisik.

Kemudian sahabat saya itu terus bercerita, mencoba menjelaskan ‘kasus’ itu sedetail-detailnya kepadaku. Dan masih dengan nada bicara yang penuh kejengkelan.

Aku mencoba sesegara mungkin mengakhiri rasan-rasan itu.

---

Saya bukannya tidak setuju atas ‘kejengkelan’ sahabat saya terhadap Joko itu, saaya merasa itu wajar. Namun sangat tidak wajar jika sampai harus mengarah ke ranah kebencian, apalagi sampai memutuskan hubungan silaturahmi dan komunikasi.

Harusnya, yang patut di-jengkel-i itu bukan Joko, tapi diri kita sendiri. Saya. Ya, saya merasa sedih dan bersalah karena tidak mampu (sempat) memberikan saran kepada saudara saya itu saat akan mengambil keputusan untuk pindah jalur keimanan.

Dan meskipun saat itu saya sempat memberikan saran, kemudian dia masih dengan keputusannya itu, saya wajib untuk siap menerima itu dengan lapang hati. Pedoman saya : Tidak ada paksaan dalam agama’. Keputusan untuk di rel mana dia harus beriman adalah hak prerogratif dia, tidak ada satupun makhluk dibumi ini berhak untuk memaksa-maksa.

Agama di dalam diri seseorang berada di sebuah wilayah yang tak terjamah oleh orang lain. Pihak lain tak akan pernah sanggup untuk cawe-cawe.

Dari pada kita ‘sakiti’ diri kita sendiri dengan rasa kebencian kepada orang yang berpindah keimanan. Mending kita menyediakan ruang didalam diri kita sendiri, bahwa bisa jadi kita yang salah.

-----

Pada akhir tahun 2001, saya disodori sebuah buku kecil (semacam fotocopy sebuah tulisan yang dijilid secara sederhana) oleh sahabat saya. Dan isinya tentang Ahmadiyah. Respon saya waktu itu cuma bisa bilang “Hati-hati ya…” kemudian mengembalikan buku itu.

Beberapa tahun kemudian saya baru tahu kalau sahabat saya itu sudah masuk Ahmadiyah. Saya kecewa, itu jelas. Namun saya tidak serta merta ‘menggoblok-goblokan’ sahabat saya itu. Saya merasa kecewa, harusnya saya tidak sekedar bilang “Hati-hati ya…”.

Bagi diri saya, berdasarkan keimanan saya, menurut padangan ajaran yang saya ketahui, Ahmadiyah itu salah. Namun, tidak sedikitpun saya mempunyai hak untuk membenci pemeluk ajaran tersebut. Kalau bagi saya ajaran mereka sesat, saya yakin mereka juga memandang ajaran saya ini juga sesat (bagi mereka). Jadi, apa bedanya? Kalau karena perbedaan itu kita selipkan bibit permusuhan, saya teramat yakin, sampai kapanpun kita akan berkelahi, gelut.

Ajarannya yang kita anggap sesat, namun manusianya tetap kita anggap manusia dan wajib kita manusiakan.

----

Saya punya dua sahabat, mereka beda keyakinan namun berpacaran. Yang cewek seiman dengan saya. Suatu waktu, sahabat saya yang cewek itu bilang sama saya “Bagaimana kalau kita Islamkan dia (pacarnya)?”. Saya hanya tersenyum mendengar ajakan itu.

“Saya ini untuk meng-Islam-kan diri saya sendiri aja belum bisa, lha koq coba-coba meng-Islam-kan orang lain” jawabku sekenanya. “Maaf, saya tidak bisa ikut serta dalam agenda muliamu itu”

----

Bagi Joko dan sahabat-sahabat saya yang akan merayakan Natal. Selamat bersukacita, semoga kita bisa berdamai dalam pelukan-pelukan kemanusiaan.

Tembagapura, 17 Desember 2009