OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

07 Januari 2010

Mustafa Kemal Ataturk


Saat saya posting sebuah artikel dari kompas.com yang berjudul “Ataturk, Mahatma Gandhi dan Gus Dur”. Isi artikel itu secara garis besar menggambarkan peranan masing-masih tokoh di negaranya. Mereka adalah pahlawan bagi sebagian besar rakyat negara dimana mereka “berjuang”.

Seorang sahabat baik saya bertanya, “masa’ Attaturk masuk kategori…?”. Saya sebenarnya ingin balik bertanya, “Apa yang menyebabkan Atataturk tidak masuk kategori?”. Namun, sebelum saya mendebat balik dengan pertanyaan itu, saya sadar bahwa setiap individu memiliki sudut pandang tersendiri dalam menilai sesuatu.

Saya tidak mengenal dengan baik tentang sosok seorang Atataturk, seorang pejuang Turki yang mempunyai nama asli Ghazi Mustafa Kemal Pasha, dan sejak tahun 1934 lebih dikenal dengan nama “Mustafa Kemal Ataturk”. Berdasarkan pengetahuan saya, “Ataturk” itu adalah sebuah gelar, dan untuk saya pribadi, dilihat dari sisi pemberian gelar oleh masyarakat, “Ataturk” saya samakan dengan gelar “Mahatma” dan juga “Gus”. Jadi tanpa lebih dahulu kita mempelajari Mustafa Kemal Ataturk lebih dalam, saya mengambil kesimpulan sederhana bahwa gelar yang ada pada namanya tersebut tidak akan diraih tanpa ada yang telah diperbuat bagi rakyatnya. Kalau dia tidak punya peranan bagi rakyat, saya yakin namanya tidak akan diabadikan menjadi nama Bandara, Stadiun, jembatan dan bahkan patung Ataturk masih banyak berdiri di Turki.

Kenapa Atataturk “diragukan” teman saya?. Saya sempat “ber-su’udzon -ria” terhadap sahabat saya itu. Jangan-jangan (jangan-jangan lho ya…), Ataturk “tidak dianggap” karena dia “menggulingkan” pemerintahan Islam (Kekaisaran Ottoman) di Turki. Budaya Islam yang sangat kuat di Turki tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah gagasan skulerisme yang diusung oleh Mustafa Kemal Ataturk. Karena sebagian pemeluk Islam yang taat merasa gagasan sekularisme ini bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan kata lain, saya mencurigai sahabat saya tadi menilai Ataturk dari sudut pandang “keislamannya”.

Saya juga mencurigai, jangan-jangan Gandhi juga dikagumi oleh para muslim karena dia “terkesan” membela Islam. Tindakannya waktu konflik antara umat Hindu dan Islam di India, meletakkan Gandhi “terkesan” memperjuangkan Islam, dan kesalahpahaman itu membuat beliau akhirnya wafat dibunuh oleh pemuda Hindu. Ironisnya, disisi lain diwaktu yang hampir sama, seorang Muslim bernama Badshah Khan “didzolimi” oleh pemerintahan Islam di Pakistan karena terkesan berkhianat terhadap Islam, karena dia mati-matian menolak pemisahan antara India dan Pakistan, yang pada saat itu pemisahan itu “diartikan” sebagai pemisahan antara Hindu dan Islam.

Jangan-jangan, kita (muslim) lebih mengenal Gandhi dibanding Khan karena Gandhi lebih membela Islam dan Khan berkhianat pada Islam. (jangan-jangan lho ya…). Sehingga saya sendiri baru mengenal sosok Khan beberapa tahun terakhir, sementara lingkungan saya yang mayoritas muslim dari dulu hanya “memperkenalkan” Gandhi, bukannya Badshah Khan yang muslim.

Dan Gus Dur, banyak juga diantara kita yang awam ini kadang bingung dengan “keislaman” beliau. Hanya saja, di bawah tidak terlalu meributkan itu, karena secara kultur mereka telah diajari tentang pelajaran “opo jare kyai”. Meskipun banyak orang-orang pintar diatas yang “ribut” dengan Gus Dur, tapi ibuku yang orang kampung masih tetep dengan pedoman “Opo jare Gus Dur”.

Cara memandang yang berbeda-beda inilah yang membuat sebagian orang “meragukan” seorang tokoh, namun disisi lain ada sebagian lagi yang “memuja” tokoh tersebut. Saya kemudian berkesimpulan bahwa pertanyaan sahabat saya tentang kenapa Ataturk masuk kategori sebagai seseorang yang patut dibanggakan, saya samakan dengan sikap beberapa orang yang “mempertanyakan” usulan agar Gus Dur dijadikan Pahlawan. []

-----

Maaf, hari ini saya banyak banget curiga

Tembagapura, 6 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar