OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

15 Januari 2010

Penjara


Ayin dan properti mewahnya menjadi salah satu menu istimewa di beberapa media akhir-akhir ini. Dia berhasil menyulap ruang tahanannya menjadi ruangan yang kemewahannya hanya bisa ditandingi oleh kamar hotel bintang lima. Hampir semua orang terperanjak kaget mendengar berita itu. “enak bener dia, dipenjara tapi masih bisa hidup mewah?” kata salah satu temanku.

Saya sendiri sempat juga merasa gregetan dengan hal itu, meskipun sebenarnya kabar miring tentang kondisi penjara kita sering saya dengar, tapi tetap saja “sihir ala Ayin” itu melebihi kabar berita yang saya dengar sebelumnya. “Penjara koq ada AC-nya..?” tanyaku dalam hati. Dipenjara, tapi masih bisa menikmati fasilitas-fasilitas serta pelayanan yang –bagi saya— super mewah seperti itu.

Dalam beberapa hari sejak terbongkarnya kasus itu, saya dan temen-temen saya terus saja ngedumel. Jengkel, gemes, mungkin juga sedikit marah becampur aduk. Rasanya pengen banget njewer mereka-mereka itu.

“Kenapa kamu marah?” Tanya Kang Slamet.

“Ya karena fasilitas mewah itu Kang…” jawabku ketus.

“Iya, saya ngerti… tapi coba analisa jauh ke dalam hatimu… apa alasan kamu sampai jengkel? Apa yang mendasari dirimu untuk gemes sama mereka-mereka itu?”

“Saya nggak ngerti maksud sampeyan Kang…”

Kang Slamet diam, dahinya mengkerut. Mungkin dia lagi mencari kata-kata yang lebih sederhana untuk bisa aku mengerti.

“Emangnya dipenjara ga boleh senang ya?” Tiba-tiba Kang Slamet bertanya.

“Ya boleh lah Kang…”

“Trus kenapa kamu marah liat para narapidana kaya itu mencoba mencari kesenangan?”

“Itu tidak adil Kang…!!!” Kataku agak membentak. Namun dibalas Kang Slamet hanya dengan senyumannya yang khas itu.

Aku heran dengan senyuman itu. Aku merasa kang Slamet menyimpan sesuatu dibelakang pertanyaannya itu. Diam-diam aku merasa terjebak, bener juga kata beliau, sebenarnya yang mendasari kemarahanku ini apa?

“Benerkah karena rasa keadilan yang membuatmu marah? Kemudian, keadilan yang mana yang kamu maksud?” Kang Slamet menghela nafasnya sejenak. “Kebobrokan mental para petugas penjara sebenarnya sudah jauh-jauh hari kita dengar, dan hanya kita dengar saja. Kemudian paling jauh kita respon dengan mengelus dada saja, lalu kabar tersebut sambil lalu dari pikiran kita”

Aku tidak merespon kalimat Kang Slamet itu, kebingungan masih mendominasi lintasan-lintasan pikirku.

“Sangat memungkinkan rasa ketidakadilan yang kamu rasakan itu bentuknya berupa rasa iri, kenapa Ayin bisa ‘membeli’ mereka dengan sangat mudah… ya, rasa iri. Kemarahanmu sebenarnya hanya iri bin cemburu, kenapa Ayin bisa sangat begitu kaya dan mampu berkuasa sedemikian rupa dengan kekayaanya itu… Kalo kita tanya pada diri sendiri, jika saja kita diposisi dia, apakah kita mampu untuk menahan diri untuk tidak seperti Ayin jika punya duit banyak?”

“Kemungkinan ke dua, sudah melengket di kerak-kerak otak kita bahwa yang namanya penjara itu harus tersiksa orang-orang didalamnya. Harus kejam. Sehingga bisa saja saya simpulkan bahwa kemungkinan kita ‘diam’ saja saat mendengar cerita tentang kebobrokan mental para sipir penjara itu karena kita ‘mengijinkan’ itu sebagai balasan atas para narapidana itu. Kemudian, kita marah melihat ada sel sempit dihuni oleh 15 sampai 20 narapidana, sementara Ayin menempati ruangan mewah berukuran luas… dalam otak kita, harusnya penjara ya harus menghuni sel sempit, harus tersiksa…”

“Kalau tidak ada kasus ini, kita tidak akan marah jika saja ada sel sempit yang layaknya hanya bisa dihuni oleh 5 orang tapi ‘dipaksakan’ oleh petugas itu untuk dihuni 15 orang… karena kabar tentang penjara yang kapasitas sebenarnya 500 narapidana tapi dihuni 1500 narapidana sudah pernah kita dengar sebelumnya, tapi respon kita tidak seheboh ini”

“Narapidana ‘tukang sihir’ itu salah, begitu juga para pemimpinan yang bertanggungjawab di penjara itu… tapi boleh juga kalau kita sedikit meluangkan waktu sejenak untuk bercermin, mungkin saja kita ini termasuk dalam daftar orang-orang yang patut dipersalahkan?” Kang Slamet menutup pembicaraan ini dengan begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung dengan apa yang beliau katakan.

“Sampeyan itu tadi ngomong apa toh Kang…” Gumamku dalam hati.

---
Tembagapura, 15 Januari 2009

14 Januari 2010

Sumpah

Konon kabarnya, kalau kita mendengar orang sudah bersumpah atas nama Tuhan, kita tidak boleh tidak percaya atau dengan bahasa lain ‘diharamkan’ untuk meragukan kebenaran atas ucapan orang itu. Kalau dinilai dari dimensi hukum agama (fiqh), saya tidak mengerti apakah kabar itu benar atau tidak. Tapi kalo menggunakan jurus utak atik pikir, saya sedikit banyak percaya dengan kabar itu.

Kalo saja ada orang yang dengan berani menggunakan nama Allah untuk maksud tujuan yang jelek, saya yakin Allah akan melakukan sesuatu. Minimal Allah akan menjewernya, kalau tidak di dunia, pasti akan dijewer di akhirat nanti. Jadi saya mengambil posisi untuk sesegera mungkin melepaskan kecurigaan saat seseorang mengatasnamakan Allah. Kalaupun saya nanti tertipu, biarlah dia berurusan dengan Allah. Toh, Allah kan juga mahir dalam tipu daya. Saya takut jika ada orang sudah bilang “Demi Allah”, tapi hati saya masih dikuasai oleh rasa curiga dan tidak percaya, bisa jadi rasa curiga itu timbul dari keraguanku atas Allah.

Namun sekarang ini lagi ngetren simbol-simbol agama digunakan untuk saling serang. Saya pernah jumpai dua kelompok yang bedang bertikai, dan keduanya saling meneriakkan “Allahuakbar….!!”. Saya tersenyum mendengar pekikan-pekikan itu, dalam pikiran saya “Apa malaikat nggak bingung kalo dua-duanya menggunakan nama Allah seperti itu, mereka (malaikat-malaikat itu) mau bela yang mana?”

Begitu pula dengan sumpah. Semua orang tiba-tiba bersumpah, ada juga yang sama-sama bersumpah ditempat yang sama namun apa yang di ucapkan saling bertentangan. Kalau sudah seperti ini yang bingung saya. Saya tidak bisa menggunakan “metode” penyikapan seperti yang sebelumnya saya sebutkan diatas. Karena saya harus memilih mana yang saya yakini benar, dan secara tidak langsung saya akan menggunakan logika, akal, hati dan segala kemampuan yang ada dalam diri saya –meskipun sebenarnya apa yang ada dalam diri saya sangatlah terbatas– untuk menganalisa dan akhirnya menentukan pilihan.

Disisi lain, terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang bersumpah palsu saya melihat ada fenomena –yang bagi saya— baru. Bahwa Tuhan begitu sangat “murah”, sehingga tanpa ada beban orang berani mengatasnamakan Dia untuk hal-hal yang jelek. Tidak ada rasa takut sedikitpun terhadap murka Tuhan, mereka memilih menggunakan Tuhan sebagai ‘saksi’ atas sumpah-sumpah mereka demi menyelamatkan diri dari rasa malu kepada manusia.

Saya pernah dengar Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) berpesan, dengan nada sedikit bercanda dia bertanya “Sampeyan pilih mana, anak perempuan sampeyan tidak dicintai, tidak dinikah sampai tua atau anak sampeyan di kawini, dikasih I love you, tapi dimain-mainkan?”. Hampir semua anggota forum memilih pilihan pertama, tidak nikah sampai tua. Cak Nun kemudian melanjutkan “(mungkin) begitu juga dengan Tuhan, lebih baik sampeyan kafir semua, dosa sampeyan cuma satu… daripada ngaku ber-Tuhan tapi main-main dengan Tuhan”.

Pandangan masyarakat pada nilai-nilai agama sepertinya mengalami penurunan. Dengan beraninya orang –penduduk negara yang katanya bertuhan ini— “meminjam” nama Tuhan untuk melakukan pembenaran atas apa yang dilakukannya, bagi saya merupakan tanda-tanda dimana Tuhan sudah mulai di-skunder-kan. Yang utama bagi mereka adalah selamat dari pandangan masyarakat, sementara Tuhan sudah tidak dianggap lagi.

Penyakit AFI, Indonesia Idol, KDI mulai menunjukkan gejala. Para politisi, pejabat dan hampir semua dari kita sudah mulai merasa seperti akademia-akademia kontes pencarian bakat itu. Kita berlomba-lomba menampilkan wajah semenarik mungkin, karena sebagian rakyat kita rata-rata sangat cengeng dan romantis maka kita sesering mungkin menceritakan sejarah keluarga yang memilukan, semakin menarik wajah dan semakin menyedihkan kisah kita makan akan banyak dukungan yang muncul. Jadi jangan kaget jika dalam ajang kontes itu lebih banyak durasi untuk menceritakan bapaknya yang tukang becak, emaknya yang dipenjara daripada durasi untuk menyanyi. Untuk menang kontes menyanyi itu, kualitas suara bukan hal pokok, sifatnya hanya skunder, yang penting adalah bagaimana cara agar akademia-akademia itu mencitrakan diri sebaik mungkin.

Fenomena AFI ini yang dijadikan panutan oleh mereka-mereka yang saat ini lagi heboh itu. Nilai kebenaran itu menjadi hal skunder, yang utama adalah bagaimana bisa mencitrakan diri seolah-olah berada di kebenaran. Mengumbar air mata, dan kalau perlu nama Tuhan “dijual” entah dengan menyebut nama Allah atau hanya sekedar menampilkan diri sealim mungkin dengan bantuan tasbih.

“Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah: dan bagimu azab yang besar”
(An Nahl : 94).

---
Tembagapura, 14 Januari 2010

11 Januari 2010

Munafik

Beberapa bulan ini masyarakat disuguhi telenovela panjang. Penuh tangisan, banyak ketegangan bahkan akhir-akhir ini ada juga makian diumbar. Bintang utamanya berubah ubah tiap waktu. Judulnya bisa apa saja, namun selalu ada upaya untuk menghubung-hubungkan antar episode-episodenya. Kadang kala harus dibuatkan adegan-adegan tambahan untuk memperkuat maksud. Nenek Minah tiba-tiba muncul sebagai upaya untuk menambah rasa gemes kita kepada penegak hukum setelah ada rentetan “cela” mereka, mulai dari Prita hingga rekaman telepon “perselingkuhan” yang diputar di Mahkamah Konstitusi.

Merasa “menang”, media yang lagi mabok berusaha “mencari-cari” bahan lain sebagai “penguat rasa” seperti kasus Nenek Minah, dan kemudian ditemukan lagi beberapa “noda”, mulai dari semangka hingga charger HP.

Lagi-lagi, siapa yang pegang pengeras suara, dialah yang menang. Suaranya akan mudah didengar dari kejauhan. Media sangat berpengaruh dalam pembentukan opini masyarakat. Dan memang pada dasarnya kita ini lebih menikmati boroknya orang lain dari pada membicarakan kebaikan orang lain. Sadar atau tidak, kita lebih menikmati berita polisi salah tangkap, dari pada berita Polisi yang berhasil menewaskan salah satu pimpinan gerakan sparatis Papua, padahal saat penyergapan polisi-polisi itu mempertaruhkan nyawa. Baku tembak. Bagaimana jika anda-anda yang berada dalam posisi itu, antara hidup dan mati?

Ketika opini itu sudah sedemikian kuat terbentuk. Daya kita untuk menilai sesuatu juga semakin melemah. Obyektifitas semakin kabur. Banyak diantara kita tanpa sadar telah membagi kelompok-kelompok. Kelompok-ku dan yang bukan kelompok-ku. Hal terparah dari kekacauan ini, kita menentukan kebenaran berdasar apakah sesuatu itu dikelompok kita atau tidak.

Saya masih ingat, beberapa bulan yang lalu seorang sahabatku menertawakan Susno saat bersumpah atas nama Allah. Dia tidak percaya, dan menyebut Susno itu penipu. Namun, akhir-akhir ini dia diam-diam menyimpan simpati kepada orang yang sebelumnya tidak dipercayanya itu. Ya, simpati itu muncul setelah Susno sekarang kelihatannya bersebrangan dengan “yang bukan kelompoknya”.

Saya sering berburuk sangka, jangan-jangan kita ini juga akan bersimpati sama Firaun, asal dia berani “nantang” kelompok yang bukan kelompok kita.

Jika saja yang kita jadikan pegangan adalah rasa senang dan tidak senang, berdasar pada keinginan, kepentingan dan nafsu kita sendiri, bukannya pandangan yang jujur terhadap kebenaran itu sendiri. Maka hancurlah kita semua. Kita hanya akan bisa menunggu kehancuran akan memakan kita tanpa ampun.

Umat sepertinya kehilangan daya untuk memilah, untuk nginteri, sudah nggak jelas mana beras mana kutu atau kotoran. Umat kehilangan panutan, jika ingin mengerti bagaimana cara menyembah Tuhan, bagaimana tatacara sholat, apa yang dibolehkan saat sholat, apa yang tidak boleh, kita tinggal manut sama Kanjeng Nabi Muhammad. Tapi, siapa yang bisa kita percayai untuk menentukan Sri Mulyani itu salah apa nggak? Susno itu terima suap apa nggak? Siapa? Siapa ulil amri-mu untuk semua itu?

Kabarnya, Tuhan lebih marah kepada orang munafik dibanding orang kafir. Benarkah? Mungkin saja kabar itu benar adanya. Membingungkan jika berhadapan dengan orang-orang munafik. Kalau kita ketemu ular, sangat jelas bagaimana cara melawannya, kita tinggal panggilkan pawang ular. Beres. Namun jika kemunafikan yang kita temui, kita kira dia ular, kita bawakan pawang ular, ternyata dia srigala.

Kalau dikasih pilihan, mingkin kita lebih baik kita melawan 1000 orang Firaun, daripada kita berteman dengan 10 orang yang kita anggap Nabi Musa namun sebenarnya lebih Firaun dibanding Firaun yang sebenarnya.

Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnat tiba’ah wa arinal bathila bathila warzuqnaj tinabah

----
Tembagapura, 11 Januari 2010

10 Januari 2010

Kesederhanaan


“Ah, engkau memang kere, jadi jangan bicara tentang kesederhanaan… hidup serba kekuranganmu itu bukan pilihan hidup… tapi memang seperti itu keadaanmu”

“Damput…!!!” makiku dalam hati setelah mendengar tetanggaku mengatakan itu. Aku seperti orang yang kepergok saat hendak nyolong sesuatu. Ketangkap basah. Malu setengah mati.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mulutku tersumpal oleh rasa berdosa kepada istri dan anak-anakku. Selama ini aku menceramahi tentang kesehajaan serta kesederhanaan. Dan diam-diam aku merasa apa yang dikatakan oleh tetanggaku itu mungkin benar adanya. Aku hanya mencari pembenaran atas ketidakmampuanku untuk membahagiakan keluargaku dengan gelimangan harta.

Kesederhanaan yang aku agungkan mungkin saja hanya sebuah kedok. Aku rela makan seadanya karena memang itu yang aku bisa dapatkan. Kesederhanaan itu hanya semacam lagu penghibur saat aku sedih karena tidak mampu mendapatkan keinginanku. Aku belum bisa memasukkan secara benar-benar tentang kesederhanaan itu ke lubuk hatiku. Sebenarnya kepalaku masih sering kepingin ini itu, namun karena tidak mampu mendapatkannya, dan akhirnya aku bersembunyi di tumpukan kitab-kitab hidup sahaja.

Kuhibur anak dan istriku dengan cerita-cerita tentang ke-zuhud-an Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Aku bilang pada istriku bahwa Rosul itu hidupnya seadanya saja. Bukannya bermewah-mewah, padahal kalau memang Rosulullah mau, Allah bisa saja memberikan kekayaan pada beliau. Muhammad memilih menjadi abdan nabiyaa. Begitu juga dengan Ali, Sang menantu Nabi Muhammad ini juga memilih hidup penuh dengan kejelataan.

Aku lupa. Aku terpeleset oleh teori-teori kesahajaan itu sendiri. Rosulullah memilih hidup sederhana, meskipun sebenarnya dia kaya raya. Sementara aku sederhana karena memang aku miskin. Rosulullah mampu menahan segala keinginan tentang keduniaan, sebagai kekasih Allah, Beliau mempunyai kesempatan untuk meminta apa saja kepada Allah, namun Beliau tidak meminta apa-apa. Sementara aku? Aku sebenarnya hanya pura-pura menerima keadaan dengan ikhlas, padahal hati dan kepala ini dikuasai oleh keinginan demi keinginan duniawiah.

“Nak, Bapak dulu juga kalau sekolah naek angkot…” bujukku pada anakku yang masih kelas 2 SMA saat minta dibelikan motor. Diam-diam sebenarnya aku juga punya rasa bangga jika saja aku bisa belikan motor anakku itu.

“Ngapain sih kita beli rumah yang bagus-bagus… yang biasa saja… yang penting bisa untuk berteduh…” Kilahku pada istriku saat akan membeli (lebih tepatnya “kredit”) rumah. Padahal dalam hatiku kadang masih dihantui rasa malu pada tetangga karena rumahku yang jauh “kelas”-nya dengan rumah mereka.

Mungkin saja, justru Istri dan Anak-anakku malahan yang telah “lulus” dalam mata pelajaran kesederhanaan ini. Istriku ikhlas-ikhlas saja dengan ketidakmampuanku, masih mencintaiku tanpa menuntut lebih dariku. Begitu juga anak-anakku, mereka kelihatannya lebih sukses dalam kesederhanaan ini, mereka tak pernah membantah saat aku menolak untuk memenuhi keinginan mereka.

Sederhana itu ternyata hanya mampu merasuk di “daging” imanku saja, tidak pernah benar-benar menjadi “jiwa”. Secara kasat mata, kejelataanku memang terlihat nyata. Seringnya aku ngoceh tentang kesederhanaan mungkin juga membuat beberapa orang disekitarku mengira aku ini sangat bersahaja. Namun Allah Maha melihat apa yang ada dalam benakku. []

---
Tembagapura, 10 Januari 2010