OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

11 Agustus 2011

Hentikan Penggunaan Istilah “di-Munir-kan” Untuk Maling


Kepulangan Nazaruddin ditunggu banyak orang. Kabar tentang penangkapan tersangka maling uang negara itu banyak menyita perhatian publik. Informasi-informasi yang ia berikan kepada media selama masa buron membuat banyak pihak penasaran, terutama dikarenakan nama-nama yang disebutnya adalah orang-orang beken di partai pemenang pemilu 2009, Partai Demokrat.

Presiden kita juga ternyata punya perhatian ekstra untuk kasus Nazaruddin ini, selang beberapa saat saja setelah ada kabar penangkapan Nazaruddin beliau sudah angkat bicara di depan wartawan. Tentu kita senang punya Kepala Negara yang respon dan perhatiannya terhadap kasus korupsi sedemikian besar, meskipun kadang ada juga kasus yang keselip, misalnya Nunun Nurbaetie.

Sesuatu hal yang pasti, bahwa Nazaruddin ini kemudian menjadi penting dan membuat semua orang ‘kangen’ padanya. Nazaruddin yang diharapkan mampu sedikit member informasi untuk bisa membuka beberapa tabir yang menutupi kebobrokan perilaku para politikus bangsa ini. Sangat wajar kiranya kemudian ada rasa khawatir akan keselamatannya.

10 Agustus 2011

Rakyat Inggris Cengeng! Indonesia Juara!

London memanas, Inggris bergejolak. Begitu kabar yang beredar di akhir-akhir ini. penjarahan terjadi berbagai tempat, massa mengamuk tak karuan, membakar dan menghancurkan apa saja, mobil, toko dan bahkan mereka melempari polisi dengan botol dan petasan.

Ada lebih dari 16.000 polisi dikerahkan untuk mengamankan kekacauan ini. Toko-toko yang adabeberapa daerah juga mulai ketakutan dan menutup lapak mereka lebih awal, mereka khwatir kerusuhan di London akan menyebar. Dan memang berdasarkan informasi terkahir yang didapat menyebutkan bahwa aksi kekerasan menyebar hingga pusat kota Birmingham, wilayah barat Bristol, dan barat laut Liverpool.

Konon, aksi kekerasan di London itu awalnya terjadi pada Sabtu, 6 Agsutus di distrik Tottenham di London ketika sebuah demonstrasi damai memprotes pembunuhan Mark Duggan oleh polisi berakhir rusuh.

Hal mendasar yang menjadi pemicu utama terjadinya kerusuhan ini adalah masalah ketimpangan dalam kehidupan sosial masyarakat Inggris. Nurdin Abd Gani dalam tulisannya menyebutkan bahwa ketimpangan sosial dan beberapa kebijakan pemerintah akhir-akhir yang menyulut api kemurkaan masyarakat Inggris. Pemutusan lapangan kerja, pencabutan subsidi terhadap pendidikan, meningkatnya pengangguran merupakan faktor pemicu kerusuhan yang sedang membara di negara kerajaan Inggris tersebut.

Sejak Kapan Ramadhan Minta Dihormati?

Kala sekolah dulu, tentu pernah merasakan upacara bendera, pernah ‘diperintah’ untuk hormat bendera merah putih.

“Hormaaaat Grak…!” begitu aba-aba yang diteriakan oleh komandan upacara, dan seketika itu tangan kita mengambil sikap hormat kepada bendera yang dikabarkan.

Apa yang ada dalam hati kita saat hormat bendera? Biasa saja atau punya perasaan lain? Perasaan yang agak sensitif misalnya? Menjadi melankolis atau tiba-tiba perasaan cinta kepada negeri ini bertambah setelah hormat bendera? Kemungkinan itu ada, namun seberapa besar kemungkinan itu?

Kalaupun ternyata nasinalisme kita terbakar saat hormat, apakah benar nasionalisme itu tumbuh karena hormat, atau hormat hanya sebagai sebuah momentum yang membangkitakan kembali rasa cinta kepada tanah air. Membangkitkan, bukan melahirkan. Rasa cinta itu sudah tertanam dalam batin namun terlelap, dan saat hormat bendera itulah seakan-akan dibankitkan kembali perasaan sayang itu.

Kenapa Heboh dengan Komersialisasi Agama?

Jauh-jauh hari saya pernah bertanya, dan sampai detik ini saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Seingat saya, setahun yang lalu saya bertanya kepada siapa saja lewat akun twitter dan facebook saya tentang tayangan adzan di televisi. Kira-kira redaksi pertanyaan saya seperti ini: “apa alasannya televisi menayangkan adzan maghrib dan subuh saja, kenapa yang lain (sholat lain) tidak?”. Saya lontarkan pertanyaan itu tidak dibulan romadhon.

Adzan maghrib dibulan romadhon mungkin punya ‘level’ yang penting bagi kebanyakan orang, sebagai penanda berbuka puasa. Begitu pula dengan adzan subuh yang dianggap sebagai penanda awal puasa. Namun jika bukan romadhon, saya merasa ‘level’ semua adzan sholat itu sama. Jadi saya waktu itu terganggu oleh sebuah pertanyaan kenapa tidak semua waktu sholat ditayangkan adzan?