OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

21 Agustus 2011

Ini Dia Balasan Surat Presiden SBY untuk Nazaruddin

Jakarta - Tersangka kasus wisma atlet Muhammad Nazaruddin mengirimkan surat kepada Presiden SBY yang meminta agar Presiden tidak mengganggu anak dan istri Nazaruddin. Sebagai kompensasinya, Nazaruddin siap untuk bungkam atas kasus-kasus yang dia ketahui.

Menanggapi surat Nazaruddin tersebut, Presiden SBY pun membalasnya. SBY mengaku sudah membaca surat itu dan meminta agar Nazaruddin kooperatif menjalani pemeriksaan di KPK. Presiden kembali menegaskan tidak akan mencampuri kasus ini.

Terkait masalah keluarga Nazaruddin, menurut SBY, dalam semua kasus, tidak hanya kasus Nazaruddin, SBY selalu memerintahkan agar aparat penegak hukum bekerja profesional, menjamin keselamatan semua pihak yang terkait. Adalah sudah menjadi tanggung jawab aparatur negara untuk menjamin ketenangan, kenyamanan dan keamanan seluruh warga negara.

17 Agustus 2011

Rakyat yang Bebal

17 Agustus, hari yang punya arti penting bagi bangsa ini. Indonesia ulang tahun. Hampir semua warga negara ini bergembira menyambut peringatan hari lahir tanah airnya. Semua pihak kadang punya ‘ritual’ sendiri-sendiri untuk menyambut peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Orang-orang kampung bergembira dengan berbagai lomba, mulai panjat pinang hinggga balap karung. Pelajar ikut berbagai lomba cerdas cermat hingga lomba baca puisi. Semua bergembira.

Selain lomba-lomba itu yang sifatnya non-resmi, sekedar pesta rakyat, institusi-institusi resmi dinegeri ini punya kewajiban untuk melakukan yang sifatnya resmi, upacara peringatan detik-detik proklami kemerdekaan Republik Indonesia.

Upacara pengibaran dan penurunan bendera dilakukan mulai dari tinggat kecamatan hingga ‘level tertinggi’ yang dilakukan di Istana Negara yang dipimpin langsung oleh Kepala negara. Hampir semua dari kita sepakat bahwa acara ini adalah acara yang sakral dan memiliki ‘nilai’ penting. Semua stasiun televisi menyiarkan acara ini.

Nada Sinis di Tengah Teriakan Merdeka

Di tengah gegap gempita peringatan hari kemerdekaan Repiblik Indonesia, masih saja kita dengar nada-nada sinis. Banyak orang bergembira, pekik merdeka terucap di bibir atau di dunia maya. Status facebook, timeline twiiter dan jejaring sosial lainnya penuh sesak oleh ekspresi kebahagiian atas ulang tahun negaranya. Akan tetapi ada beberapa orang yang ‘mempertanyakan’ kemerdekaan bangsa ini, seolah-olah mereka tidak bangga atas negaranya sendiri.

“Merdeka apanya? Negara ini masih kacau” begitu kata salah satu dari mereka yang sinis terhadap kemerdekaan ini. Sejujurnya, komentar-komentar seperti ini terkesan merusak suasana. Hingar bingar peringatan kemerdekaan sedikit diganggu oleh nada-nada negatif semacam itu.

13 Agustus 2011

Ibu Ani Berjasa? Istri Pemulung Juga!


Jumat, 12 Agustus 2011, pemerintah memberikan bintang tanda jasa pada 30 tokoh nasional. Di antara nama-nama yang terpilih, ada Ibu Negara Ani Yudhoyono, Ketua MPR Taufiq Kiemas sampai artis senior Titik Puspa.

Tidak hanya itu, Mantan Menkokesra Aburizal Bakrie dan Mantan Menkeu Sri Mulyani juga mendapatkan bintang kehormatan Mahaputera Adipradana.

Pemberian penghargaan ini menuai banyak pertanyaan dari berbagai kalangan. Beberapa nama yang mendapat pemnghargaan itu dinilai oleh beberapa kalangan belum pantas untuk menerima penghargaan. Nama Ibu Ani Yudhoyono dan Aburizal Bakrie adalah nama-nama yang paling sering dipertanyakan.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Desmon J Mahesa pun mempertanyakan pemberian penghargaan kepada Ani Yudhoyono yang juga istri Presiden SBY itu.

"Apa prestasi Ani Yudhoyono dari sisi kemanusiaan dan kemasyarakatan? Penghargaan itu penghargaan apa? Ini namanya jeruk makan jeruk," ujarnya.