OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

27 November 2008

Nama Problem Kita: Lupa Sejarah

Ditulis Oleh Sujiwo Tejo
Senin, 20 Oktober 2008
Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan kita seyogyanya kita kasih nama. Dan seyogyanyalah nama yang tepat.

Kira-kira kayak gitu mutiara yang dapat saya rangkum dari beberapa kawan motivator. Teman-teman yang bergerak di bisnis pemberian motivasi ini meyakini satu hal. Betapa banyak orang tak sanggup memecahkan persoalan hidupnya, semata-mata cuma lantaran mereka belum kasih nama yang tepat pada persoalan itu.


Kaum motivator itu tak keliru. Bagaimana kita akan memecahkan suatu perkara, dengan kata lain bagaimana kita akan berkomunikasi dengan problem tersebut, menyapanya, kalau nama problem itu saja kita tak tahu apa tepatnya.

Saya kerap mendapati orang yang hidupnya hampa. Kasusnya belum ia beri nama. Tapi gairah itu kemudian bangkit setelah ia namai persoalannya dengan “Kurang Tersalurnya Hobi”. Ia lantas menyalurkan hobinya yang tertimbun selama ini oleh rutinitas kerja. Hidupnya jadi berwarna.

Saya kerap mendapati orang yang hidupnya hampa meski sudah memberi julukan, nama bahkan judul pada problem hidupnya. Tapi judulnya kurang tepat. Ia kasih judul “Selalu Kekurangan Uang”.

Hidupnya perlahan membaik setelah nama problemnya ia tukar-tukar dengan “Selalu Berlebihan dalam Pengeluaran Uang”, “Selalu Kurang Bergairah Mencari Tambahan Uang”, “Kurang Memanfaatkan Hobi dan Potensi Lain sebagai Sumber Mata Pencaharian Baru”, dan lain-lain…

Tiba-tiba saya berpikir, jangan-jangan monumen untuk sebuah kota mirip dengan nama untuk suatu problem dalam hidup kita. Setelah problem itu kita kasih nama, kita baru sadar posisi kita. Kita sadar akan konteksnya.

Setelah sebuah kawasan tempat kita berada lantas ada monumennya, kita baru sadar akan posisi kita. Terutama dalam konteks hubungan kita dengan masa lampau, dengan asal-usul. Padahal, orang bijak acap berujar, tak bakalan kita tahu tujuan kita kalau tak kita tahu muasal kita.

Apa yang bakal dicapai secara bersama oleh warga Jakarta sebagai Ibu Kota khususnya, dan warga Indonesia umumnya, jika kita tak tahu bahwa sesungguhnya permulaan kita adalah petani.

Sedemikian petaninya asal mula kita sampai Patung Pahlawan di kawasan Menteng, yang dibikin Matvei Manizer dan Otto Manizer dari Rusia, disebut sebagai Patung Pak Tani alias Tugu Tani.

Barangkali karena meski sosok di monumen itu menyandang bedil, ia pun mengenakan caping. Ia sedang minta restu buat pergi bertempur pada perempuan di sisinya, yang tampak seperti para perempuan di sawah ketika mengirim panganan untuk para petani.

Kehilangan konteks asal-usul, segera pula kita kehilangan orientasi akan hari depan. Kita akan menjadi negara industri atau pertanian? Saya kaget ketika kawan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bilang, sebenarnya kita masih kaya akan agro-energi. Bukan cuma pohon jarak dan kelapa sawit. Gila! “Sebenarnya masih ada 60-an jenis tumbuhan di Nusantara ini yang bisa jadi alternatif energi,” katanya.

Dan tolok ukur apakah kita masih menghargai monumen atau tidak, gampang. Apakah monumen-monumen di Jakarta itu masih menjadi pedoman orientasi kita?

Apakah kita akan lebih sering menyebut kampus Universitas Dr Mustopo Beragama dekat Plaza Senayan, ketimbang dekat Patung Pemuda? Apakah kita masih akan lebih sering menyebut Bunderan HI itu dekat Plaza Indonesia, ketimbang dekat Patung Selamat Datang?

Dan bila seseorang menyebut Lapangan Banteng, mana yang segera muncul di benak kita? Kantor Pos Pusat? Departemen Keuangan? Hotel Borobudur? Atau Patung Pembebasan Irian Barat bikinan Edhi Sunarso?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar