OTAK, instrument pikir akan menghasilkan output untung - rugi, mungkin - mustahil dan benar - salah (berdasarkan ukuran-ukuran yang diciptakan manusia sendiri). Sedang HATI, instrument rasa akan menghasilkan output manfaat - mudlarat, pantas - wagu dan etis - tidak etis (bersarkan inspirasi yang diperoleh dari Sang Pencipta). Otak dan hati adalah dua perangkat yang berbeda. Ketika kita menyiapkan waktu dan ruang di hati untuk menyongsong datangnya inspirasi maka tinggalkan otak, berhentilah berpikir agar inspirasi lebih cepat masuk ke dalam relung hati.

(Pujo Priyono)

===================================================

22 Februari 2009

Tembagapura (bag. 1)

13 November 2008 adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di Timika. Panas, dan hiruk pikuk penduduk lokal di sekitar bandara adalah kesan pertama saat keluar dari Bandara. Sebuah mobil merah berlogo perusahaan tempatku bekerja siap menjemputku dan mengantarkanku ke tempat tinggal sementara.

Masih sempat aku meragu, kenapa aku menerima tawaran untuk ditempatkan di Papua, dimana banyak orang lebih suka menghindarinya. tapi ini sudah menjadi keputusanku, pantang diri ini untuk menyesal.

Setelah beberapa hari berkantor di Timika (untuk pengenalan dengan situasi dan rekan-rekan kerja), saatnya aku menuju tempat “sebenarnya” aku akan bekerja. Temabagapura. Sebuah kota “bikinan” perusahaan pertambangan berkelas Internasional. PT. Freeport Indonesia.

1 Desember 2008. Pagi di Timika sudah begitu panas, mobil hijau buatan Toyota siap mengantarku. Sebuah mobil yang aku anggap terlalu mewah buat mengantarkan seoarang karyawan rendahan seperti saya. “kenapa pake mobil ini?” tanyaku pada sopir. “hanya mobil jenis seperti ini yang diijinkan Freeport untuk naik ke Tembagapura” jawabnya. meskipun aku agak bingung, namun aku enggan untuk melanjutkan pertanyaanku.

Perjalanan dimulai, menurut sang sopir, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam. “Enteng” gumanku dalam hati. Setengah jam berlalu, menyusuri sungai yang begitu keruh, mungkin karena limbah pertambangan. Rasa kagum akan hijaunya alam menyelip di hatiku. Sepanjang jalan hanya aku lihat pohon, pohon dan pohon.

Sampailah aku pada sebuah pos keamanan. mereka menyebutnya “mile 50”. Setelah identitas kami selesai diperiksa, dan mobil melaju barulah aku tercengang. stelah tikungan kekiri jalanan didepanku benar-benar tidak masuk diakal. kemiringan yang menurutku lebih dari 45o. Busyeeet…!!! melihat hal itu aku baru paham, kenapa Freeport hanya mengijinkan mobil dua garden yang boleh melewati jalur “gila” ini.

Selain harus melewati tanjakan yang “gila” itu, jarak pandang menjadi terganggu karena kabut tebal. pantas saja, Freeport mewajibkan setiap mobil yang masuk area pertambangan ini harus diperiksa setiap bulannya, dan setiap 6 bulan sekali driver harus mengikuti serangkaian test untuk mendapatkan “semacam SIM” khusus.

Akhirnya sampai juga di Tembagapura, beberapa orang menyebutnya sebagai “Mile 68”. Kesan pertama sedetik setelah membuka pintu mobil adalah udara yang begitu dingin, maklum saat ini aku berada di sebuah pegunungan yang tingginya lebih dari 2000 meter dari permukaan laut…..

(bersambung…..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar